Possessive Husband

Possessive Husband
Hasrat



Nampak dari kejauhan aloe sedang menikmati orange jus ditemani tania disampingnya, ingin sekali arvan menghampirinya dan menemani aloe minum.


Arvan melihat jam rolex nya, menunjuk kan pukul setengah sebelas siang.


"ini kan waktunya jam pelajaran, kenapa dia masih dikantin. " ucap arvan sembari mengawasi aloe yang tengah asik bermain ponsel nya.


aloe meneguk orange jus nya sampai habis tak tersisa. "gue laper tan, pesenin gue makan dong? "


"al, lo kan udah makan tadi dua porsi bakso, lo bilang masih laper? " balas tania, "mending kita balik ke kelas aja yuk, sebelum ada guru yang mergoki kita. "


"males ah, kalau lo mau balik, balik aja duluan. "


tubuh tania menegang setelah melihat seseorang yang sedang berdiri di belakang aloe dengan tangan di lipat didada.


"hmmm.. "


"lo ngapain sih tan, eham ehem, balik aja kalau mau balik gue masih pengen disini. "


"pagi pak arvan. " sapa tania.


"kagak usah bohongin gue, guru kulkas yang super duper nyebelin itu nggak ada di sekolah. " ucap aloe masih dalam posisinya. "kalau iya tu guru kulkas beneran ada, udah gue sapu terus gue buang ke kotak, kotaknya gue kunci terus anyutin tu ke laut biar gak balik, hahahahahhaha...! " aloe ketawa ngakak


"terus kotaknya ditemuin orang dan kunci nya dibuka, guru kulkas itu akhirnya kembali ke sekolah. "


kedua bola mata aloe membulat sempurna setelah memdengar suara yang tak asing lagi di telinga nya. "nggak mungkin dia, ada di sekolah. "


aloe mengangkat kepala nya, dia mendapati arvan sudah duduk manis dihadapannya.


"tania mana? "


"udah aku suruh balik ke kelas" balas arvan. "ini jam pelajaran kenapa masih disini.? "


"pusing."


arvan menyentuh kening aloe. "kamu demam? "


"jangan sembarangan nyentuh aku kalau di sekolah. " bentak aloe.


"udah mulai berani ya kamu. " ucap arvan. "aku antar pulang ya.? "


Tania menggeleng. "mending bapak pergi saja deh, lagian saya mau kembali ke kelas,"


arvan menarik tangan aloe, namun tiba tiba aja ada yang menepis tangan arvan.


"fino.! " aloe langsung memeluk seseorang yang dipanggil fino oleh aloe. "kamu mah curang, ke bandung tapi nggak pamitan dulu sama aku "


"siapa dia al, kok pegang pegang tangan kamu, kan bukan muhrim. "


"emang kalau sama kamu muhrim? "


"ya enggak, tapi dia pacar aku..! "


deg..


jantung arvan serasa berhenti berdetak, saat mendengar ucapan fino.


"sayang, kamu kok tambah embul. " fino mencubit pipi aloe. "kebanyakan makan bakpo nie kamu. "


"enggak." aloe menggeleng. "gimana kamu olimpiade fisikanya dibandung menang? "


arvan menarik tangan aloe dan membawanya pergi, fino juga menarik tangan aloe.


"lo nggak berhak bawa cewek gue pergi. " ucap fino dengan amarahnya. "emang lo siapa.? "


"saya calon... " belum sempat arvan melanjutkan kata katanya mulut nya dibekap oleh aloe.


"dia calon kakak ipar aku sayang, kamu tahu kan kak kinan bentar lagi mau nikah, nah ini calon nya. " aloe berbohong, arvan menatap nya tajam. "aku pergi dulu ya sayang, nanti aku hibungin kamu lagi. "


"tapi al,kita baru ketemu, lagian ini juga masih jam sekolah, "


aloe berusaha melepaskan tanggannya dari tangan arvan namun tidak bisa,fino merasa ada yang disembunyikan oleh kekasihnya itu.