
Rehan Menggegam tangan Nadia, dia menempelkan tangan Nadia ke pipinya. Setelah 3 jam Nadia di rawat di UGD karena tidak sadarkan diri, akhirnya Nadia sudah bisa di pindahkan ke ruang inap. Rehan membelai rambut istrinya. Iya, perempuan di depannya masih berstatus sah menjadi istrinya. Karena dia tidak pernah menalaknya. Walau sudah hampir 5 bulan Nadia menghilang.
Hari-harinya terasa hambar tanpa kehadiran dan tawa istrinya. Satu hari bagaikan satu tahun ketika Nadia tidak disisinya. Untuk melindungi istrinya dari iblis yang menyamar sebagai manusia, dia rela di benci istrinya. Dia sangat mencintai istrinya, sehingga dia tidak mau ada seorangpun yang melukai istrinya.
Selama ini Rehan tidak hanya engkang-engkang kaki di rumah dan membiarkan Nadia di luar sana sendiri. Rehan sudah mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari istrinya, namun hasilnya nihil.
Semenjak Nadia pergi dari rumah, dirinya menjadi tidak ke urus. Rumah kacau, kerjaan berantakan, dan terjadi kesalah pahaman antara sahabat dan kedua orang tuanya terhadap dirinya.
Perlahan mata indah milik Nadia yang hampir 3 jam tertutup, kembali terbuka. Nadia menyipitkan matanya, guna menyesuaikan dengan cahaya ruangan rumah sakit yang sangat terang.
"Kamu sudah sadar?" Rehan tersenyum kepada Nadia.
"Dokter Aksa mana?" Seketika hati Rehan mencelos sakit ketika bukan namanya yang istrinya tanyakan, tetapi dokter Aksa.
"Aku tadi pergi bersamanya." Nadia celingukan, dia mencari sosok Dokter tampan yang selama ini selalu berada disisinya saat suaminya tidak ada.
"Kalau disini ada aku, kenapa kamu harus mencari dia?" Rehan menatap Nadia dengan wajah garang. Dia adalah suami protektif. Lagi pula suami mana yang tidak cemburu ketika istrinya mencari lelaki lain? Sedangkan disebelahnya ada dirinya.
"Kenapa kamu disini? Bukankah hari ini kamu dan Nesya..."
"Aku tidak benar-benar ingin bertunangan dengannya. Ini semua karenamu." Rehan Menggegam erat jemari tangan Nadia. Dia seakan takut Nadia kembali kabur meninggalkan dirinya sendiri.
"Karenaku?" Beo Nadia, tidak mengerti.
"Iya, karena kamu. Aku tidak mau kamu di lukai olehnya." Jawab Rehan, tanpa mengalihkan tatapannya dari mata Nadia. Rehan seakan mengunci mata indah perempuan di depannya.
"Kamu kira aku percaya?" Sinis Nadia. Dia menarik tangannya dari genggaman tangan Rehan.
"Aku tidak memintamu untuk percaya, aku hanya memintamu untuk kembali kepadaku. Tidak baik seorang istri tinggal bersama laki-laki lain, sedangkan suaminya sendiri di rumah." Rehan mengusap rambut Nadia, dengan begitu lembut.
"Apa alasannya aku harus kembali kepadamu setelah apa yang kamu lakukan kepadaku?" Nadia menarik ujung bibirnya keatas.
"Apa yang aku lakukan itu untuk kebaikanmu!" Rehan mencoba sabar menghadapi sikap Nadia.
"Termasuk ketika kamu menamparku kala itu?" Rehan terdiam. Itu semua reflek dia lakukan. Dia tidak suka istrinya menyebut kata-kata kasar.
"Sayang..."
"Pergilah, aku tidak mau kembali kepadamu." Nadia menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut rumah sakit.
"Walau ada anak kita di rahimmu?" Nadia menyibakkan selimutnya dengan cepat.
"Bagaimana kamu tahu kalau..." Nadia menggantungkan ucapannya.
"Shut...!! Aku percaya, kamu tidak akan menghianatiku." Rehan memeluk Nadia begitu erat. Hal itu membuat Nadia tidak bisa berkutik ataupun bicara.
***
Danil mencoba menghalangi Dimas yang ingin bertemu dengan Nadia. Dimas tahu tentang Nadia yang berada disini dan sedang dilarikan ke rumah sakit karena pingsan itu dari Melody yang tidak sengaja keceplosan.
Saat tadi dirinya dan Melody pulang kerumah, dia membiarkan Melody masuk kedalam rumah duluan. Karena dia mengambil heandpon miliknya yang tertinggal di dalam mobil.
Waktu itu Dimas bertanya tentang kenapa dirinya dan Melody pulang cepat? Dengan sangat percaya diri, Melody menjawab, Karena Rehan gagal tunangan dengan Nesya. semua itu bagian dari rencana Rehan untuk menjebloskan Nesya ke penjara. Dan sekarang ini Rehan sedang menunggu Nadia di rumah sakit gara-gara pingsan.
"Aku harus kesana. Aku harus memastikan jika sekarang ini Nadia sedang dalam keadaan baik-baik saja. Aku tidak akan membiarkan dia kembali disakiti oleh Rehan." Dimas memberontak dari pegangan Danil. Lelaki itu berhasil lepas dari Danil. Tetapi saat dia ingin keluar dari rumahnya, Melody dengan cepat menutup pintu rumahnya. Tidak mau membuang-buang kesempatan, Danil mendorong tubuh Dimas hingga dia tersungkur ke lantai. Danil ikut keluar dari dalam rumah bersama Melody.
Air mata Melody menetes begitu deras. Akan ada banyak orang yang akan tersakiti disini. Disini tidak hanya Abang sepupunya yang mencintai Nadia, sahabatnya. Tetapi ada dokter Aksa dan Rehan.
Melody tidak sanggup membayangkan kekecewaan Abang sepupunya ketika Nadia tidak memilihnya. Saingan Abang sepupunya sangat berat. Rehan yang sekarang ini sedang berada di rumah sakit bersama Nadia, statusnya masih sah menjadi suami Nadia. Sedangkan Dokter Aksa....
Melody yakin, Nadia akan mempertimbangkan perasaan dokter Aksa kepadanya jika dokter Aksa mengungkapkan perasaannya kepada dia. Mengingat dokter Aksa lah yang menolong dia.
Melody begitu sangat yakin Abang sepupunya akan tersingkirkan. Abang sepupunya hanya butiran masa lalu Nadia. Sedangkan Rehan dan Dokter Aksa...
Mereka adalah laki-laki yang berarti untuk Nadia saat ini.
"Berapa banyak kekecewaan lagi yang harus Bang Dimas rasakan? Mencintai Nadia, Bang Dimas seperti menelan ribuan obat pahit." Melody mengusap wajahnya kasar. Tidak hanya Melody yang kasihan kepada Dimas, Danil pun begitu.
Danil tahu apa yang Dimas rasakan saat ini. Karena dulu dia pun pernah merasakannya. Apalagi Nadia adalah cinta pertamanya. Tidak mudah melupakan seseorang yang kita cintai. Mungkin kebanyakan motivator bilang, Tinggalkan seseorang yang sudah tidak menginginkan dirimu, cari orang yang menginginkan kehadirmu.
Kata-kata itu memang gampang di ucapkan. Tapi nyatanya sulit untuk di lakukan. Melepaskan orang yang kita cintai dan kembali membangun rasa untuk orang lain tidaklah mudah.
Dulu dirinya sudah mencoba melakukannya. Dia sudah mencoba berbagai cara untuk melupakan Nadia. Nyatanya hasilnya nihil, semakin dia ingin melupakan Nadia, semakin dia terbayang-bayang dengan wajah Nadia.
Tapi seiring berjalannya waktu, saat dia meminta Melody mengajarinya move on kepada Nadia, dia bisa. Malah sekarang dia tidak lagi mencintai Nadia. Sekarang dia mencintai perempuan yang ada di dalam pelukannya.
"Tenanglah, aku yakin, Bang Dimas pasti bisa melupakan Nadia. Walau aku tahu, melupakan orang yang kita cintai tidaklah mudah. Kita harus melawan ego kita sendiri." Ucap Danil, mencoba menenangkan Melody yang sedang menangis di dalam pelukannya. Dulu dirinya harus melawan egonya untuk tidak bertemu dengan Nadia. Awalnya sulit, namun lambat laut dirinya mulai terbiasa tanpa kehadiran Nadia.
"Danil, Melody, Buka! Aku mau ketemu Nadia. Buka woy," Suara lantang milik Dimas, membuat air mata Melody menetes semakin deras.
Dog..., dog..., dog...
Suara pintu yang di tendang dari dalam, membuat Melody terjengkit kaget.
"Jangan hukum Abang ku dengan rasa cintanya yang membelenggu ya Allah." Melody menatap sendu pintu rumahnya.