Possessive Husband

Possessive Husband
28. Cinta yang salah.



Nadia sedang duduk menyendiri disisi kolam renang. Dia mengusap perutnya yang semakin membesar. Mungkin Perempuan lain diluar sana sedang menikmati kehamilannya dengan di dampingi suaminya, di manja suaminya, di perhatikan suaminya, namun dirinya...


Dada Nadia tiba-tiba sesak. Mungkin jika dulu dia menikah dengan Dimas, semua ini tidak akan terjadi. Penyesalannya sudah terlambat.


Nadia menatap pantulan rembulan di dalam air kolam renang. Tersirat kesedihan di matanya. Rembulan itu indah ketika malam, apakah hidupnya akan seperti itu? indah setelah penderitaan yang dia rasa.


"Kenapa kamu berada diluar? Bukankah angin malam tidak baik untuk wanita yang sedang hamil?" Dokter Aksa duduk disamping Nadia sambil memegang secangkir kopi. Sepertinya lelaki itu baru saja selesai mandi, dilihat dari rambutnya yang masih basah.


"Saya hanya ingin menenangkan diri, dok." Nadia menunduk dalam. Dia masih merasa canggung untuk duduk berdekatan dengan Dokter Aksa.


"Sudah saya bilang, santai saja kalau sama saya. Panggil saya Aksa aja. Oh ya, besok kamu ikut saya beli bahan makanan yang habis ya, soalnya di kulkas udah mulai kosong." Dokter Aksa menyeduh kopinya, sambil melirik Nadia.


"Oh, iya Dok, eh Aksa." Nadia terlihat masih belum terbiasa dengan panggilan itu. Sontak hal itu berhasil membuat Dokter Aksa tersenyum.


"Oh ya, selama ini saya belum pernah bertanya tentang permasalahan keluarga kamu. Memangnya ada apa dengan keluarga kamu? Sehingga kamu memilih pergi dari rumah." Kedua bola mata Nadia bergerak kesana-kemari. Dia bingung harus menjawab seperti apa pertanyaan yang Dokter Aksa lontarkan kepadanya.


"Kalau kamu tidak mau menjawabnya sekarang juga tidak apa-apa. Saya tidak memaksa kamu, karena..."


"Tidak apa, Sa. Saya jawab aja. Toh kamu perlu tahu, karena saya numpang di rumah kamu." Nadia meremas kedua tangannya, ragu.


"Maksut saya bukan begitu, Nad. Maksut saya..."


"Dulu keluarga saya harmonis, tentunya sebelum suami saya bermain api dibelakang saya." Terdengar helaan nafas kasar dari bibir Nadia.


"Bermain apa?" Beo Dokter Aksa, bingung.


"Iya, bermain api. Suami saya berselingkuh dengan Perempuan lain. Saya tidak sepenuhnya menyalahkan Perempuan itu, karena tamu tidak akan masuk bila tuan rumah tidak membukakan pintu. Begitupun dengan perempuan itu, dia tidak akan masuk kedalam kehidupan kami jika suami saya tidak mengijinkan dia masuk." Mengingat kejadian beberapa bulan lalu, membuat air mata Nadia yang sudah mengering, kembali basah.


"Saya lebih memilih mengalah dan pergi. Awalnya saya pergi kerumah sahabat saya, dia mempunyai sepupu laki-laki. Namun omongan tetangganya membuat saya tidak nyaman. Sa_saya...."


"Shut..., tenanglah. Ada saya disini." Entah dapat keberanian dari mana, Dokter Aksa memeluk Nadia dari samping. Dokter Aksa membiarkan Perempuan itu menangis didalam dekapannya.


Menyadari ada yang aneh, Nadia segera menjauhkan dirinya dari tubuh Dokter Aksa.


"Maaf dok, saya.."


"Sudahlah, saya yang salah."


Mereka berdua terdiam dihantui rasa canggung karena menyadari pelukan mereka tadi.


***


Danil dan Melody merasa kasihan kepada Dimas. Lelaki itu sudah luntang-lantung mencari keberadaan Nadia, namun hasilnya nihil. Tidak ada kabar ataupun tanda-tanda tentang keberadaan Nadia yang berhasil dia temukan.


"Nad, kamu dimana?" Melody ikut menangis mendengar suara frustasi dari Abang sepupunya. Dulu Abang sepupunya harus patah karena mendengar Nadia menikah, sekarang dia harus patah karena ditinggal pergi oleh Nadia.


Perihal cinta, Melody tidak mau terlihat sok tahu. Semuanya berjalan tanpa bisa di duga. Kita tidak bisa meminta ingin dicintai dengan siapa, dan mencintai siapa. Melihat rahut wajah kusut abangnya, sekarang Melody tahu. Laki-laki akan terlihat lemah jika berurusan dengan cinta. Tidak perduli segagah apa laki-laki itu dulu.


"Sepertinya rasa cintaku dulu terhadap Nadia, tidak ada apa-apanya dibanding dengan rasa cinta yang Bang Dimas miliki." Melody membenarkan ucapan Danil. Mereka berdua mengintip Dimas dari balik pintu kamar laki-laki itu. Tangan Dimas memeluk foto Nadia yang sedang tersenyum sambil bermain air di danau.


"Aku takut Bang Dimas menjadi gila memikirkan Nadia." Melody menutup kembali pintu kamar Dimas, dengan pelan. Dia berjalan menuruni tangga beriringan dengan Danil.


"Sebelumnya aku sudah meminta dia mencari perempuan lain, tapi nyatanya dia tidak mau. Aku bingung." Melody mengusap wajahnya kasar.


"Tenanglah, kita cari solusinya bersama-sama." Danil memeluk Melody, dia mengusap rambut tunangannya dengan gerakan lembut.


***


Di rumah keluarga Zaen, Meli dan Aldi sedang bertengkar hebat. Kedua suami istri itu saling melempar barang.


"Bisakah kamu menganggap kehadiran Nadia? Aku menghabiskan uangku untuk menyewa orang, agar Nadia cepat ditemukan." Bentak Aldi, hilang kesabaran.


"Tapi dengan cara Mas seperti ini, kita bisa bangkrut. Berapa uang yang sudah Mas keluarkan untuk anak sialan itu?! Tapi hasilnya mana? Mana?" Teriak Meli, marah. Dia marah kepada Aldi yang jarang ke kantor dan menghabiskan uang untuk mencari anaknya yang hilang.


Plak...


"Jaga mulut kamu. Dia itu anakku." Bentak Aldi, marah.


"Dia memang anakmu, tapi bukan anakku." Balas Meli, ikut berteriak. Ingin sekali Aldi melempar Vas bunga ke wajah istrinya, namun akal sehatnya masih ada.


"Dasar wanita tidak tahu diri!" Geram Aldi.


***


Malam ini Rehan sedang berpesta bersama dengan Nesya. Hal itu membuat Jeo geram. Dulu sahabatnya itu nangis-nangis ditinggal istrinya pergi, namun sekarang...


"Benar-benar brengsek tuh orang!" Jeo menghampiri Rehan yang sedang berjoget bersama Nesya di Club' malam milikinya.


"Kamu..." Geram Jeo, marah. Dia menarik kerah baju yang Rehan kenakan dengan marah.


Bug...


Jeo memukul wajah Rehan tanpa ampun. Dia ingin membuat sahabatnya itu sadar, bahwa dia masih mempunyai istri, kelakuannya di Club' malam seperti ini tidak pantas di lakukan suami yang baru beberapa bulan di tinggal pergi istrinya, karena ulahnya sendiri.


Nesya yang sudah di pengaruhi oleh alkohol, hanya menatap perkelahian didepannya tanpa berniat memisahkan mereka.


"Seharusnya kamu berusaha mencari keberadaan Nadia, bukan malah berjoget bersama mantan murahan kamu itu! Walau kamu kasih aku seribu wanita seperti Nesya, aku tidak akan sudi. Dasar laki-laki bodoh!" Maki Jeo, hilang kesabaran. Baginya menghadapi orang seperti Rehan tidak bisa menggunakan cara baik-baik.


"Haa..., Istri? Aku udah tidak punya istri semenjak dia pergi." Rehan tertawa lemas. Tenaganya habis gara-gara dipukul habis-habisan oleh Jeo.


Bug...


"Jaga mulutmu! Kalau tidak benar-benar serius membangun rumah tangga, jangan menikah!" Cekik Jeo pada leher Rehan.


"Tanpa Perempuan kamu tidak akan lahir di dunia ini Brengsek!" Jeo menginjak tangan Rehan.


"Jika kamu tidak sahabatku, sudah ku pastikan kamu malam ini mati di tanganku." Geram Jeo. Dia menendang tubuh Rehan, kasar.


Saat melewati Nesya, Jeo berhenti sejenak. Dia membisikkan sesuatu ditelinga Perempuan itu.


"Mendapatkan cinta dengan cara curang, tidak akan pernah berakhir bahagia." Bisik Jeo, penuh penekanan. Nesya hanya diam dengan bibir tersungging sinis.