Possessive Husband

Possessive Husband
perasaan



aloe tidak tahu lagi kemana kaki nya harus melangkah, hatinya hancur orang yang paling dia sayangi ,mereka menghianatinya, langkah nya pontang panting menyelusuri trotoar, suara deru kendaraan membuat suasana hatinya semakin kalut.


"benar kata pak arvan, kalau fino itu brengsek, kenapa gue bisa sebegok ini, padahal sudah banyak orang yang mencoba memberi gue sinyal kalau fino dan tania ada hubungan, mungkin karena gue terlalu percaya sama mereka. " gumam aloe. "kemana gue harus pergi, bahkan gue nggak tahu kemana kaki gue melangkah malam ini."


tiba tiba saja, cahaya mobil menyorot kearahnya, yang membuat silau mata aloe.


"oe, matiin lampunya." teriak aloe keras. "mau gue lempar mobil lo pakai batu. "


mobil itu berhenti tepat disamping aloe.


"aloe." panggil seseorang yang baru saja keluar dari mobil.


"kak kiran. " aloe langsung berlari memeluk kiran air matanya tumpah, dipelukan kiran.


"kamu kenapa dek? " ngapain malam malam masih keluyuran, bukan nya pulang. "


din.... din...


bunyi klakson keras membuat mereka kaget.


"cepat masuk! " teriak angga dari dalam mobil.


kiran mengajak aloe untuk masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil aloe hanya diam sambil menggenggam erat ponselnya.


"kenapa dek?lagi berantem ama pacar? "tanya angga sambil tetap fokus dengan kemudinya.


" nggak punya pacar."balas aloe jutek.


"tapi calon suami punya kan? mama kemarin udah kirim foto calon suami kamu ke kakak. " ledek angga.


aloe langsung menatap horor kearah angga yang sedang fokus dengan kemudinya.


"nggak percaya, aku kan larang mama buat kasih tahu kalian. " ucap aloe. "kak angga boong."


°°°°°°°°°°°*


siang ini pulang sekolah, aloe ditemani arvan berniat mengunjungi tania yang masih terbaring sekit, aloe memang sakit hati kepada tania karena perselingkuhannya dengan fino.


" al, jangan marah marah ya nanti, saat ngomong sama tania. "ucap arvan saat mereka berada dilobi rumah sakit.


" tergantung. "balas aloe cuek." kalau dia mau kooperatif aku nggak marah, lagian ngapain sih mama suruh pak arvan nemani aku, aku kan bisa sendiri. "


"ya udah seharusnya aku nemani kamu, aku kan suami kamu. "


"eh, apa bapak bilang suami aku, " aloe sedikit kaget. "maaf ya pak, saya luruskan dulu, bapak ini bukan suami saya tapi calon suami saya, calon. "


arvan tersenyum. "aku tahu, aku senang kamu mau nyebut aku calon suami kamu.."


"idih! " aloe membuang muka. "lagian anda itu pak arvan buka tahu, ngerti. "


arvan hanya mengangguk sambil memencet hidung aloe yang mancung.Banyak pasang mata yang menatap mereka.


"wah, adek beruntung sekali ya, punya kakak setampan ini. " kata salah satu suster yang bersisipan dengan mereka saat hendak kekamar tania. "adek imut dan kakak nya ganteng, boleh dong dek buat mbk suster ini yang udah lama jomblo kakak nya.


tiba tiba tangan aloe reflek meraih tangan arvan dan menggenggamnya erat. " maaf ya suster ,dia ini bukan kakak saya, tapi calon suami. "kata aloe yang sedikit memberi tekanan pada kata calon suami.


" iya suster, cewek imut yang suster maksud ini adalah calon istri saya. "ucap arvan sambil mencium pipi tembem aloe, yang dibalas aloe dengan tatapan tajam.


" O, seperti itu, maaf ya dek, eh mbk.. "kata suster tersebut langsung ngacir karena malu.


"beraninya bapak cium saya. " kata aloe sambil mencubit pinggang arvan keras. "cari kesempatan ya? "


"harus." balas arvan semangat."kesempatan harus digunakan dengan sebaik baiknya."


karena kesal aloe langsung meninggalkan arvan, yang sedang kesakitan karena cubitan aloe.