
Melody yang mendengar tentang kecelakaan Jeo, langsung menyusuri rumah sakit. Dia yakin, lelaki itu ada di rumah sakit ini. Melody sampai bertanya dengan beberapa dokter dan suster, dia sampai membuka kain putih yang menutupi wajah korban kecelakaan beruntun itu. Tapi sama sekali tidak dia temukan wajah Jeo.
"Kemana Jeo itu? Aku sudah mencarinya, tapi tidak ketemu." Melody benar-benar sangat panik, dia sudah cukup kenal dengan Jeo.
"Bagaimana dokter Melody? Apa sudah ketemu korban kecelakaan yang anda cari?" Tanya dokter Siska, Melody menggeleng dengan lemas.
"Sabar, mungkin masih di ambulance lainnya." Dokter Siska mencoba menenangkan dokter Melody yang sedang panik.
"Semoga saja." Melody meremas kedua telapak tangannya dengan cemas.
***
Dokter Aksa dan Dokter Dara benar-benar terkejut mendengar kabar berita pagi ini. Mereka sudah kenal Jeo lama, tepatnya disaat Rehan di bawa kerumah sakit oleh Luwis dan Jeo dalam keadaan parah beberapa tahun lalu.
"Tadi aku gak salah dengarkan, Sa? Reporter tadi nyebut nama Jeo kan?" Dokter Dara meneteskan air matanya, Menurutnya Jeo adalah lelaki yang sangat baik. Walau dia memiliki usaha Club' malam, dia tidak pernah terjun ke rana negatif yang lebih dalam dari itu. Seperti pengonsumsi atau pengedar narkoba mungkin.
"Iya, itu benar Jeo. Mobil yang dia kendarai sempat aku lihat sewaktu aku menghadiri acara pertunangan Nesya dan Rehan yang sempat batal beberapa hari lalu." Jawab Dokter Aksa, dia sungguh yakin jika itu adalah mobil Jeo, sahabat Rehan.
"Aku harus ke Jakarta sekarang, kamu di rumah jaga Vino. Kalau Vino bangun, bilang aja aku sudah berangkat kerja. Dan kalau aku nanti malam belum pulang, bilang kalau aku harus menangani pasien banyak. Dia pasti tahu itu." Pesan dokter Aksa, Dokter Dara mengangguk, dia mengantar dokter Aksa sampai di depan pintu.
"Hati-hati, segera kabari aku." Seru dokter Dara yang di balas anggukan kepala oleh dokter Aksa.
***
Sekarang Luwis, Eva, Bram, Kinan, Aldi, dan Meli sedang berkumpul di rumah Rehan dan Nadia. Mereka bingung mencari jalan keluarnya, karena kedua orang tua Jeo sudah berpisah. Diantara mereka juga tidak ada yang mempunyai no heandpone keluarga Jeo.
"Tadi Melody sudah menelponku, katanya tidak ada Jeo di rumah sakit yang dia tempati." Nadia membuka suara dengan tenaga yang tersisa. Dia benar-benar sangat khawatir kepada Jeo.
"Danil yang tadi langsung di TKP, bilang kalau dia tidak menemukan Jeo di sana." Luwis benar-benar sangat panik. Dia mengaku bersalah, semalam dia tidak membuka pesan dari Jeo. Sahabatnya itu marah-marah karena tidak dia undang di pertunangannya. Luwis mengusap wajahnya kasar, dia kira pagi ini dia bisa menggoda Jeo dan memamerkan hubungannya dengan Kinan kepadanya, namun Allah berkata lain.
Rehan dan Luwis yang paling kehilangan disini. Bagaimana tidak? Dari mereka bertiga, Jeo lah yang paling dewasa, dia yang selalu menenangkan mereka berdua dikala mereka emosi, memberi solusi tanpa melibatkan amarah terlebih dahulu, serta selalu menjadi orang penengah di antara persahabatan mereka bertiga.
Rehan ingat betul, Jeo lah yang selalu membantu dirinya tanpa emosi di kala dia kehilangan Nadia dulu. Jeo yang ada di sampingnya di kala semua orang menjauhinya. Dan Jeo lah yang memberi semangat supaya dirinya bangkit.
Luwis mengusap air matanya, Jeo yang selalu menasehati tentang dirinya di saat dia salah jalan, Jeo yang menjadi tempat curhatnya mengenai semua masalahnya disaat Rehan sibuk dengan istrinya, dan Jeo lah yang selalu menjadi pahlawan terdepan di kala dirinya tertimpa musibah.
Luwis dan Rehan pergi lebih dulu, mereka menyusuri jalan dengan rasa panik.
"Semalam Jeo ke rumahku, dia bertanya kenapa kamu tidak mengundangnya? Lalu saat dia ingin pulang, aku lihat matanya berat, aku sudah menyuruhnya istrahat di rumahku, tapi dia menolak dengan alasan ada urusan yang harus dia selesaikan pagi ini." Ucap Rehan membuka suara. Luwis terdiam, dia menjambak rambutnya frustasi.
"Dia juga mengirim pesan kepadaku, mengomel karena tidak aku undang. Aku sengaja tidak membalasnya, aku berniat ingin menggodanya pagi ini, karena dari kita bertiga, hanya dia yang masih sendiri." Luwis menyandarkan punggungnya di kursi samping pengemudi. Kepalanya sungguh sangat pusing.
"Kenapa nasib dia jadi begini? Masalah dia dengan Gita saja belum selesai, lalu ada lagi masalah baru. Ini benar-benar bikin aku pusing." Rehan memijat pangkal hidungnya.
Dilain tempat, Nadia sedang menangis sambil memeluk Eva. Sedangkan Meli mengusap punggung anak tirinya pelan.
"Sudahlah, Nad. Kita tunggu kabar dari mereka." Entah ada angin apa, Meli yang biasanya bersikap seperti iblis, berbicara halus kepada Nadia.
Nadia hanya diam, dia mengusap air matanya dengan kasar.
"Padahal di antara Jeo, Luwis, dan Rehan, Jeo lah yang paling penurut. Dia itu tipe anak yang pendiam dan dingin. Bahkan dia sangat irit bicara. Berbeda dengan Luwis yang cerewet dan Rehan yang usil." Eva membuka suara. Dia mengingat betul bagaimana sahabat anaknya itu. Bahkan disaat Luwis dan Jeo tidur di rumahnya. Luwis datang langsung mengoceh seperti burung beo, sedangkan Jeo hanya diam tanpa mengeluarkan suara.
Kinan membenarkan itu, tunangannya memang sangat cerewet, berbeda dengan Jeo yang tegas dan dingin.
Disaat semua orang bergelut dengan Fikirannya masing-masing tentang Jeo, Meli hanya diam, dia tidak tahu apa-apa.
****
Bram dan Aldi sudah sangat pusing mencari kesana kemari. Mereka sudah mengecek satu-persatu rumah sakit. Tapi tidak ada nama Jeo yang tertera di sana.
"Apa wajahnya rusak? Sehingga dia sulit untuk di kenali?" Tanya Aldi, menebak-nebak.
"Mungkin, karena mobil dia itu yang paling parah rusaknya dari pada mobil orang-orang lainnya." Jawab Bram. Menurut apa yang dia lihat di berita tadi, mobil sahabat anaknya itu sudah tidak berbentuk. Mustahil jika Jeo masih hidup. Tapi yang ingin Bram cari adalah Jeo masih hidup atau tidak, yang terpenting ada tubuhnya. Kalau memang Jeo sudah meninggal, dia akan mengurus pemakamannya, karena Jeo sudah dia anggap sebagai anaknya, dan kalaupun Jeo masih hidup, dia akan mengurusnya.
"Malang sekali nasibnya, masih muda sudah mengalami kecelakaan seperti ini." Aldi duduk di kursi rumah sakit. Dia benar-benar menyayangkan atas kecelakaan yang menimpa Jeo.
"Namanya juga takdir, Al. Mana ada yang tahu." Balas Bram, lemas.