
Kedua mata ember aloe perlahan mulai membuka. terlihat samar mama aloe sedang duduk disamping aloe, dengan tangganya menggenggam erat tangan aloe.
tiba tiba saja pintu ruangan terbuka. masuklah seorang perempuan cantik memakai seragam dokter, menghampiri mamanya. perempuan itu terlihat shock.
"ma, arvan meninggal." kata perempuan itu, mama langsung menangis histeris.perempuan itu mencoba menenangkan mama aloe.
"alo belum sadar ma? "tanya perempuan yang memakai baju dokter , menghampiri mama aloe
aloe masih sempat mendengar saat kiran memberi tahu mamanya kalau arvan meninggal.
" ini tidak mungkin."batin aloe menjerit. "tidak mungkin pak arvan meninggal, "
aloe masih pura pura pingsan,agar dia dapat mendengar semua pembicaraan antara mamanya dan kiran.
"gimana kita kasih tahu alo ma? " kiran tampak bingung, "apa kita kirim alo kerumah tante ine ya ma? "
mama aloe tampak mempertimbangkan usul dari kiran.
"tapi ran, alo kan belum sembuh total,masa iya harus kita ungsikan, yang penting alo jangan sampai tahu dulu, kalau arvan meninggal. " kata mama aloe. "kamu jagain alo dulu ya mama mau takziah kerumah arvan.
kiran hanya mengangguk. kiran tidak tega melihat keadaan adik nya seperti ini, semua tubuhnya dipasang alat dan banyak kabel dan selang.
" kakak yakin dek, kamu pasti mendengar apa yang kakak dan mama bicarakan tadi. "kata kiran sambil mengusap pancak epala aloe. " cepet sembuh embul, kamu nggak mau lihat kakak menikah pakai gaun pilihan kamu. "
"arvan sangat mencintai kamu dek, dia nitipin kamu ke kakak, sebelum dia pergi. " tambah kiran. "kamu mau dengar kata terakir arvan buat kamu, ran tolong titip peri kecilku ya,aku udah nggak bisa jagain dia lagi, nggak bisa lihat senyum lagi, nggak bisa lihat ngambeknya lagi,dia kalau ngambek selalu bikin aku gemes, al maafin aku ya, aku telah bikin kamu celaka,buat kamu menahan sakit, aku sayang kamu al, i love u embul. "
air mata kiran tidak bisa terbendung saat mengingat pesan terakhir arvan. kiran hanya bisa berdoa semoga arvan tenang disana.
°°°°°°°°°°
setelah keluar dari rumah sakit, aloe menyempatkan ziarah ke makan arvan. sepanjang perjalanan menuju pemakaman aloe terlihat murung dan masih lemas.
"al, udah sampai turun yuk. " ajak kiran.
"jauh nggak kak? " tanya aloe.
"dekat kok. " balas kiran "tu yang banyak karangan bunganya.
"alo sendiri aja deh kak, kakak tunggu di mobil aja. " pinta aloe.
"yakin? " tanya kiran yang dibalas anggukan oleh aloe.
perlahan kaki aloe melangkah, menuju peristirahatan arvan yang terakir.
"asalamualaikum, pak arvan. " ucap aloe. "maaf ya pak alo baru kesini, maafin alo juga karena alo bapak sampai disini." buliran air mulai keluar dari kelopak mata aloe.
"pak, makasih telah mencintai alo, telah menjaga alo, tapi maaf pak, perasaan pak arvan belum sempat alo balas. " aloe mencurahkan semua isi hatin ya. "i love u Mr. kulkas ku, semoga kamu tenang disana, doa ku terus mengalir untukmu calon suami ku. "
Entah berapa puluh lembar tisu yang aloe habiskan untuk mengusap air mata nya.
"aku pamit dulu ya calon suami ku,aku sayang kamu. " ucap aloe sambil mencium batu nisan arvan.
perlahan tubuh aloe bangkit dan pergi. Dia masih tidak bisa percaya kalau pak kulkas telah pergi meninggalkannya selama lamanya.