
Pagi tadi saat Nadia terbangun, dia ingin sekali marah-marah kepada Rehan. Karena Rehan sudah lancang membawanya pulang. Namun setelah Rehan menjelaskan baik-baik, Nadia mencoba mengerti. Rehan bilang, dia tidak mau dirinya sakit gara-gara terus mengigau sambil memanggil namanya. Ada rasa malu yang menggerogoti hatinya ketika dirinya ketahuan merindukan lelaki itu.
Suara berisik yang berasal dari luar, mengganggu Nadia yang sedang bersiap-siap untuk Cake up kandungannya ke Rumah sakit.
Nadia menuruni tangga dengan pelan. Dia melihat ada kedua teman suaminya dan Danil yang sedang berada diluar. Kepala Nadia menggeleng pelan, pasti mereka belum dikasih minuman oleh suaminya. Tanpa disuruh, Nadia berjalan ke dapur untuk membuatkan mereka minum.
"Kalau aku tahu kamu mau jemput Nadia, bukan nyulik dia, aku dan Jeo gak akan ngikutin kamu sampai mobil kita mogok di pinggir jalan." Luwis sedang tiduran di lantai teras rumah Rehan dan Nadia. Nafasnya terengah, serta tubuhnya di banjiri keringat.
"******* kamu, Rey! Harusnya kamu semalam ngomong yang jelas sama kita." Maki Jeo. Dia sedang duduk selonjoran disamping Danil yang sedang teleponan dengan Melody.
"Haaa...., Salah siapa gak ngomong-ngomong kalau mau nyusul kebandung!" Rehan tertawa melihat penderitaan Danil, Luwis, dan Jeo. Jam 03.00 Pagi tadi Luwis dan Jeo menelepon Danil untuk datang ke Bandung sambil membawa montir. Terpaksa Danil datang ke Bandung dengan membawa montir langganannya. Mereka bertiga harus menunggu mobil mereka jadi, baru bisa pulang.
"Jangan tidur di lantai, Wis. Kotor, Belum aku sapu. Kalau mau tidur di dalam aja, bersih." Tegur Nadia, sambil meletakkan beberapa cemilan dan 4 gelas jus mangga. Tentunya dengan di bantu Rehan.
"Harusnya kamu tidak perlu repot-repot membuat ini, mereka kalau haus juga bisa buat sendiri." Rehan menekan kedua bahu Nadia dengan lembut. Mengisyaratkan untuk Perempuan itu duduk di kursi teras.
Luwis mendengus, dia meneguk satu gelas jus mangga sampai tandas. "Halah, Rey. Kalau pelit ya pelit aja. Makasih, Nad."
"Sama-sama." Jawab Nadia sambil tersenyum.
"Jangan senyum-senyum ke dia." Tegur Rehan tidak suka. "Tumben kamu rapi, mau kemana?"
Jeo dan Danil melihat interaksi keduanya, ada rasa lega di hati mereka ketika melihat kedua pasangan itu kembali bersama. Sedangkan Luwis...., Laki-laki itu sedang sibuk makan cemilan yang di bawa Nadia. Baginya menunggu Danil dan montir datang, membuat perutnya lapar.
"Mau cake up." Jawab Nadia, santai.
Mendengar kata cake up, Wajah Rehan langsung tegang. Sontak dia langsung memegang kening Nadia. "Kamu sakit?"
Kepala Nadia menggeleng pelan. "Gak, ini kan jadwal Cake up kandungan aku."
Suasana semakin panas. Danil yang peka akan itu, menyenggol lengan Jeo yang duduk di sampingnya.
"Ayo masuk, biarin mereka berdua bisa leluasa ngomong tanpa malu karena ada Kita." Bisik Danil, yang di balas anggukan kepala oleh Jeo.
"Kayaknya nyantai di pinggir kolam enak nih." Jeo bangkit dari duduknya bersama Danil.
"Iya, apalagi sambil bawa roti." Luwis berjalan lebih dulu masuk kedalam rumah sambil membawa dua piring cemilan dari Nadia.
"Dasar gentong!" Desis Jeo.
Nadia dan Rehan saling diam, hanya tatapan mata mereka yang beradu.
"Aku akan mengantarmu." Ucap Rehan, tegas. Dia Menggegam lembut tangan Nadia.
"Tapi mereka?" Nadia melihat kedalam rumah. Dia tidak enak untuk mengajak Rehan pergi, sedangkan ketiga teman suaminya bersada di dalam.
"Pergi aja, Nad. Kita gak butuh Rehan si pelit." Luwis mengambil dua gelas minuman yang tertinggal di meja teras. Kemudian dia kembali masuk kedalam rumah.
"Biarin, aku juga mau melihat anakku." Acuh Rehan.
***
"Apa disana anakku kesempitan?" Tanya Rehan, khawatir. Sontak pertanyaan yang Rehan ajukan membuat Melody tertawa.
"Enggak, dia itu hanya bergerak mencari tempat ternyaman." Jawab Melody sambil tersenyum.
"Apa kalian ingin tahu jenis kelamin anak kalian?" Tanya Melody, sambil menggerakkan alat di perut Nadia.
"Tidak, apapun jenis kelaminnya, kita terima. Yang penting anak kita sehat." Jawab Rehan, mantap. Melody mengangguk, dia kembali duduk di kursi kebesarannya.
"Nad, kamu harus makan yang banyak. Masa bayi kamu udah umur 5 bulan kecil banget." Ucap Melody, sambil menatap Nadia.
"Aku selalu makan banyak ketika di rumah dokter Aksa." Bela Nadia, dia sedikit tidak suka dengan ucapan sahabatnya tadi. Ucapan Melody mengisyaratkan seakan-akan ketika dia berada di rumah dokter Aksa, dia tidak pernah makan.
"Iya, disana kamu makan banyak. Tapi kalau emosimu meningkat dan kamu stres, percuma. Semua makanan yang kamu cerna hilang terbuang sia-sia." Jelas Melody.
"Sudahlah, jangan di buat panjang. Sekarang dia sudah bersamaku, nanti biar aku yang menjaganya. Sebaliknya kamu katakan apa yang harus di makan dan di hindari Nadia?" Lerai Rehan. Dia tahu, sebentar lagi akan ada perang dunia jika perdebatan Melody Dan Nadia Terus berlanjut.
"Tidak ada yang perlu di hindari, perbanyak saja buah, sayur, ikan, dan berbagai karbohidrat serta protein. Nadia hanya butuh itu. Oh ya, Nadia kurang darah. Sekarang kamu tebus resep ini, aku mau ngomong berdua sama Nadia." Rehan mengangguk, dia menerima kertas yang berisi coret-coretan tangan Melody.
Sepeninggalnya Rehan, Melody langsung mendekat kearah Nadia. Bibirnya tersenyum dikala melihat sahabatnya sudah kembali bersama dengan suaminya. Tapi ada rasa sesak yang menggerogoti hati melody, disaat Nadia bahagia, Abang sepupunya malah sedang mati-matian berjuang.
Kemarin Danil dan dirinya membawa Dimas ke psikiater. Kata Psikiater itu, Mental Dimas terganggu, mungkin karena stres terus memikirkan Nadia.
"Aku ikut senang, akhirnya kamu kembali bersama dengan Rehan." Ucap Melody, tulus.
"Kamu mungkin belum sepenuhnya memaafkan Rehan, karena perbuatan dia. Namun ingat Nad, anakmu membutuhkan ayahnya. Kamu tidak mungkin terus bersama dokter Aksa, karena kamu sendiri tahu, bagaimana rasanya hidup tanpa keluarga lengkap dan ibu tiri. Jangan sampai anakmu merasakan itu." Nasehat Melody, sambil membantu Nadia untuk bangun dari brankar.
"Andai Rehan ngomong dari awal sama aku tentang rencananya, semuanya tidak mungkin menjadi serunyam ini." Ucap Nadia, datar.
"Jangan egois, kalau Rehan ngomong tentang rencananya untuk menjebak Nesya, apa kamu ijinin?" Tantang Melody.
Nadia menggeleng pelan. "Tidak, karena dia hanya milikku, dan aku tidak mau berbagi dengan siapapun. Walau itu hanya sebuah sandiwara untuk menjebak Nesya."
"Sayang, ayo pulang. Lody, terimakasih sudah memeriksa istriku." Rehan Menggegam tangan Nadia, dia tersenyum kepada istrinya.
"Sama-sama, jangan lupa vitamin penambah darah itu diminum Nad." Pesan Melody Kepada Nadia.
"Pasti." Jawab Nadia, sambil tersenyum. Dia dan Rehan pergi meninggalkan ruangan Melody. Tangan Rehan yang melingkar di pinggangnya, seakan menegaskan jika dirinya hanya milik lelaki itu.
"Mampir ke rumah papa ya?" Nadia mengapit lengan Rehan, manja.
"Iya, tapi sebentar saja. Karena kita harus membeli susu hamil untuk kamu." Jawab Rehan, yang langsung di balas anggukan kepala oleh Nadia.
Disepanjang perjalanan Nadia dan Rehan sama-sama diam. Mungkin mereka masih merasa canggung karena berpisah lama. 5 bulan bukan waktu yang sebentar untuk sepasang kekasih tidak bertemu dan berkomunikasi.
"Biasanya jam segini kamu ngapain ketika di rumah Aksa?" Tanya Rehan, seraya mengusap lembut rambut Nadia.
"Main sama Vino." Jawab Nadia seandainya.
"Vino sudah ada dokter Dara, sekarang tugasmu hanya menjaga anak kita yang sebentar lagi akan lahir. Untuk kesalahanku dulu, aku minta maaf. Sekarang aku mohon, kamu belajar menjadi istri dan calon ibu yang lebih baik, begitupun denganku. Aku akan berusaha menjaga dan menjadi sosok suami serta ayah yang baik untuk anak kita nanti." Ucap Rehan lembut. Nadia tidak menjawab, tapi lewat isyarat matanya, semuanya sudah jelas. Bahwa dia setuju dengan permintaan Rehan.