
Nadia merasa tidak enak kepada Dokter Aksa. Pagi ini dia tiba-tiba pengen buah belimbing yang rasanya asam, langsung dari pohonnya. Untung saja tetangga sebelahnya yang memiliki tanaman belimbing orangnya baik.
Udara pagi masih sangat dingin, embun juga masih melekat, tapi Dokter Aksa sudah naik keatas pohon belimbing demi mengambilkan Nadia Belimbing.
"Pa, papa itu seperti monyet yang ada di film DORA yang dulu setiap pagi aku tonton." Sontak ucapan Vino membuat Dokter Aksa Mendengus.
Dokter Aksa hendak turun dari atas pohon belimbing, tapi...
Brug...
"Aduh..." Nadia dan Vino dibuat kaget dengan jatuhnya Dokter Aksa. Nadia terlihat sangat panik, dia berteriak meminta tolong kepada sang pemilik rumah.
"Tolong, bapak, ibu, tolong..." Teriak Nadia, sambil meneteskan air matanya. Bagaimanapun ini semua adalah kesalahannya. Jika saja Dokter Aksa tidak mengambilkan dirinya buah Belimbing, pasti dokter Aksa sekarang tidak apa-apa.
"Loh, Dokter Aksa kenapa?" Tanya seorang lelaki yang sudah memiliki anak 1 itu.
"Jatuh dari atas pohon, Pak." Jawab Nadia cepat.
"Bawa masuk kedalam Rumah, Pak." suruh istri laki-laki itu.
"Aduh, gak usah pak. Saya bisa kok pulang kerumah." Dokter Aksa mencoba bangkit, namun...
"Biar saya bantu, Sa." Nadia memapah tubuh dokter Aksa, keluar dari halaman rumah pasangan suami istri itu.
"Tante, Om, makasih buahnya. Vino pulang dulu." Vino membawa 3 buah Belimbing muda ditangannya, dia mencium tangan pasangan istri didepannya.
"Waalaikumsalam, hati-hati sayang." Jawab istri dari laki-laki itu, Vino mengangguk, lalu dia berjalan mengekori Nadia dan Dokter Aksa.
"Pelan-pelan, Sa." Nadia benar-benar panik, untung saja laki-laki itu tidak apa-apa.
"Mau saya teleponin Dokter Dara?" Tanya Nadia, sambil meremas takut kedua telapak tangannya.
"Ngapain? Dia juga gak akan tahu saya ini kenapa. Dia itu Dokter anak dan kandungan, gak ngerti soal beginian. Lagian saya gak apa-apa, cuma pinggang saya sakit. Hal itu wajar saat semua orang baru saja terjatuh." Dokter Aksa yang memang lebih tahu segalanya, membuat Nadia diam.
"Maaf..." Hanya itu yang Nadia katakan. Dia benar-benar tidak mengira semua ini akan terjadi.
"Buat?" Tanya Dokter Aksa sembari menaikkan satu alisnya.
"Gara-gara saya, Kamu harus begini." Sesal Nadia.
"Ini musibah, Nad. Lagipula ini bukan kesalahan kamu." Dokter Aksa tersenyum kearah Nadia.
"Tapi..."
"Papa, Tante, kenapa ninggalin aku? Nih, buahnya." Vino datang dengan memegang 3 buah Belimbing.
"Maaf ya sayang, Tante panik tadi." Nadia berjongkok didepan Vino.
"Kan sayang kalau buahnya ditinggal. Harusnya Tante bawa pulang dulu buahnya, lalu baru nolongin papa." Sontak ucapan Vino membuat mata dokter Aksa melotot.
"Kamu lebih milih buah itu dari pada papa?" Dokter Aksa menatap anaknya tidak percaya.
"Iya, Buah bisa dijual, sedangkan papa cuma bisanya marahi Vino kalau Vino bangun kesiangan." Nadia dan Dokter Aksa saling pandang.
"Untung kamu anak papa, kalau gak..."
"Aku sayang papa." Vino merangkak naik keatas tempat tidur dokter Aksa. Dia mencium pipi dokter Aksa dengan penuh sayang.
"Andai Rehan seperti Dokter Aksa, betapa bahagianya aku sekarang." Batin Nadia, sambil menatap wajah Dokter Aksa dan Vino, anak dan ayah itu terlihat sangat bahagia.
"Betapa beruntungnya Vino memiliki seorang ayah yang baik seperti dokter Aksa. Tidak seperti anakku nanti." Nadia meneteskan air matanya, dia mengusap lembut perutnya yang mulai terlihat membuncit.
***
Entah apa yang sedang Rehan fikirkan, Laki-laki itu tiba-tiba menyampaikan akan bertunangan dengan Nesya. Hal itu membuat Eva sampai jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit. Putra satu-satunya itu sudah membuat kondisinya Drop.
Bram sedang menemani Istrinya didalam ruang inap, setelah hampir 3 jam di UGD, akhirnya Eva dipindahkan keruang Inap. Luwis dan Jeo sampai kaget ketika mendengar penjelasan dari Bram, papa Rehan.
"Sepertinya anak Om itu perlu di rukiah. Matanya sudah buta. Dapat istri cantik, baik, gak aneh-aneh, eh malah milih sundel bolong yang kalau bedakan sekarung. Harusnya Rehan bersyukur Nadia mau sama dia, baru kenal udah ngajak nikah." Jeo mengangguk, membenarkan ucapan Luwis. Dirinya saja yang sedari dulu ngejar-ngejar perempuan yang dia cintai gak dapat-dapat, sedangkan Rehan...
"Aku jamin, tuh orang pasti menyesal sudah meninggalkan berlian demi Upik abu. Gayanya dulu sok nangis-nangis, tahu gini mending aku bunuh sekalian." Timpal Jeo. Kinan yang duduk sambil Menggegam tangan Eva, menggelengkan kepalanya pelan mendengarkan ucapan Jeo dan Luwis.
"Jangan dengarkan perkataan kedua orang itu, Om." Kinan melotot kearah Jeo dan Luwis.
"Memang benarkan Kinan, Kalau mata Rehan itu sudah ditutup sama debu-debu cinta milik Nesya?" Sinis Luwis.
"Shut..., kalian ini." Kinan menarik tangan Jeo dan Luwis.
"Kalian ini bisa diam gak? Didalam itu Tante Eva lagi sakit. Didalam juga Om Bram lagi bingung mikirin putranya. Kalian bukannya nenangin Om Bram, malah menambah beban pikiran beliau." Kinan benar-benar tidak tahu jalan Fikiran kedua laki-laki didepannya.
"Bukannya kalian itu sahabatnya Pak Rehan, harusnya kalian sedikit empati sama dia. Kasihan Pak Rehan, kedua orang tuanya marah sama dia, pasti sekarang dia lagi sedih." Luwis menatap Kinan tajam.
"Sejak kapan kamu perduli sama tuh orang?" Sinis Luwis.
"Bukannya aku perduli, hanya saja..."
"Silahkan kalian selesaikan urusan percintaan kalian. Kepalaku benar-benar pusing." Jeo berjalan menuju kantin rumah sakit. Sedangkan Luwis, dia menarik tangan Kinan entah kemana.
Banyak pasang mata yang menatap Jeo dengan tatapan memuja. Lelaki tampan dengan kemeja sedikit berantakan, duduk di kursi kantin. Para dokter dan suster menatap kagum kearah Jeo.
"*Mimpi apa aku ketemu orang ganteng seperti dia."
"Yaampun matanya, tajam banget. Pasti dia bukan asli orang Indonesia. Kulitnya eksotis, bibirnya..."
"Perfeck*."
Bukannya tidak mendengar semua pembicaraan mereka tentang dirinya, Jeo hanya mencoba bersikap acuh. Dia tidak suka dengan orang yang sering menilai orang dari luarnya saja. Jeo sadar, dia memang tampan. Tapi satu yang tidak semua orang tahu, Dia mempunyai sisi gelap tentang hidupnya.
"Kebanyakan orang menilai orang lain dari apa yang dia lihat, padahal mata mereka tidak sepenuhnya benar." Gumam Jeo, tersenyum sinis dengan tatapan lurus kedepan.
"Menilai tanpa mengenal, hal buruk yang sering dilakukan oleh orang Indonesia." Lagi-lagi Jeo mengemukakan argumennya. Semua orang menilai dia dari fisiknya, memang mereka tahu kepribadiannya?
"Seperti aku yang menilai Rehan baik, tapi dia tidak lebih dari seorang ********." Kesal Jeo, Dia tahu kehidupan kelam Nadia dulu. Rasanya tidak adil jika perempuan itu kembali merasakan pahitnya kehidupan setelah menikah.
"Suatu saat Rehan akan merasakan kehilangan yang mendalam saat dia melihat istrinya bersama orang lain." Gumam Jeo, dengan bibir tersenyum sinis.