Possessive Husband

Possessive Husband
36. Renungi!



Sore tadi Dokter Aksa dan Nadia baru saja pulang ke Bandung. Tapi lihatlah Nadia sekarang...., dia sudah menangis sambil memegang perutnya. Dokter Dara yang sedang bermain dengan Vino, berjalan cepat menghampiri Nadia. Badan Nadia tidak panas, tapi keringat dingin membanjiri tubuh dan keningnya. Dokter Dara sangat kebingungan, Dia harus bagaimana? Jam sudah menunjukkan pukul 00.00 malam. Tapi dokter Aksa tidak kunjung pulang. Tadi Dokter Aksa di telepon pihak rumah sakit, katanya ada orang yang harus segera di operasi.


"Rey..." Nadia terus merintih dan menangis. Bibirnya tidak henti-hentinya memanggil nama Rehan.


"Mas Rehan..." Dokter Dara Menggegam tangan Nadia, dia tersenyum lembut kepada perempuan hamil di depannya. Wajar jika Nadia seperti ini, karena kebanyakan orang hamil memang ingin berdekatan dengan suaminya.


"Aku tahu, kamu kecewa dengan suamimu. Tapi anakmu menginginkan ayahnya." Dokter Dara mengambil heandpon milik Nadia. Dia segera menghubungi Rehan.


"Tante Dara, ini Tante Nadia kenapa?" Vino memeluk robotnya sambil menatap wajah Nadia.


"Vino diam dulu ya sayang?" Dokter Dara berjongkok di depan Vino. Dia mengusap lembut pipi chabby anak laki-laki didepannya.


"Hallo?!" Suara berat milik seorang lelaki terdengar parau. Mungkin dia baru bangun tidur ketika mendengar nada dering Teleponnya.


"Iya, hallo. Apa ini Mas Rehan, suami Mbak Nadia?" Tanya dokter Dara, sopan.


"Iya, ada apa dengan istri saya? Apa dia baik-baik saja? Atau mungkin....."


"Tenanglah Mas, dia tidak apa-apa. Sekarang bisa Mas ke rumah Dokter Aksa? Saya akan share look lokasi rumahnya."


"Bisa, saya akan segera kesana sekarang."


Sambungan telepon terputus. Setelah mengirim alamat rumah dokter Aksa ke no WhatsAppnya Rehan, Dokter Dara langsung menghampiri Vino yang sedang bermain robot-robotan di pinggir sofa kamar.


"Andai aku bisa memiliki dia, dan membuat dia seutuhnya menjadikan anakku." Gumam Dokter Dara, sembari mencium pipi vino.


***


Jeo dan Luwis yang sedang bertugas menjaga Rehan, langsung berdiri dari duduknya saat melihat Rehan keluar dari rumah sambil memakai baju. Langkahnya terlihat sangat buru-buru.


"Ett..., Mau kemana?" Luwis menghadang Rehan yang ingin pergi. Dia dan Jeo sudah membuat kesepakatan dengan Danil untuk berjaga-jaga di rumah Rehan. Dia takut Rehan akan nekat pergi menculik Nadia di rumah Dokter Aksa. Mereka takut Rehan semakin memperkeruh suasana.


"Bukan urusan kamu, Wis!" Rehan mendorong Luwis sampai jatuh. Tapi sebelum dia berhasil kabur, Jeo sudah kembali menghalanginya.


"Mending kamu balik tidur, Rey." Jeo menghadang Rehan yang hendak menghampiri mobilnya.


"AKU MAU JEMPUT ISTRIKU! KALIAN MINGGIR!" Bentak Rehan, marah. Jeo terkesiap, menjemput istri? Siapa? Nadia?


Karena sibuk melamun, Jeo sampai tidak sadar jika Rehan sudah keluar dari halaman rumahnya.


"Bloon kamu ya, Je. Kenapa kamu biarin Rehan pergi? Kalau sampai dia nyulik Nadia dari rumah dokter Aksa, runyam semuanya." Maki Luwis, sambil menoyor kepala Jeo. Sedangkan Jeo hanya diam, dia bingung dengan ucapan Rehan.


"Woy, ayo susul Rehan!" Teriak Luwis pada Jeo. Jeo masih tidak bergeming dari tempatnya, otaknya masih belum konek.


"Kamu gak usah sok-sok'an jadi batu disini. Entar kalau aku kutuk kamu jadi maling kundang, nangis-nangis deh kamu Jeo." Luwis menarik tangan sahabatnya yang tiba-tiba kaku seperti patung.


***


"Aksa, woy!!" Teriak Rehan, sambil menggedor-gedor pintu rumah Dokter Aksa. Dia bagaikan orang kesetanan ketika menaiki mobil tadi, setelah sampai disini, dia tidak mau menerima kekalahan. Istrinya harus pulang bersamanya!


Tok...tok..


Rehan kembali mengetuk pintu rumah dokter Aksa dengan kasar. Dia tidak perduli jika tangannya harus terluka atau di marahi tetangga kompleks perumahan Dokter Aksa karena telah membuat keributan di malam hari. Yang terpenting dia harus ketemu istrinya dan mengajaknya pulang.


"Sabar, Mas. Di dalam ada anak kecil yang sedang tidur. Jangan berisik!" Dokter Dara memelankan suaranya. Dia baru saja selesai menidurkan Vino, jangan sampai anak itu bangun. Kalau sampai Vino bangun, dia tidak akan membiarkan Nadia pergi.


"Dimana istri saya?!" Tanya Rehan Thu the poin. Dia tidak sabar bertemu dengan istri labilnya.


"Ikut saya." Dokter Dara berjalan menaiki anak tangga. Dia masuk kedalam kamar Nadia yang pintunya tidak di tutup.


Mendengar namanya dipanggil, Rehan langsung mendekat kepada istrinya.


"Biasanya orang yang memanggil nama seseorang dengan mata terpejam, atau setengah sadar, berarti orang tersebut merindukan dia. Nadia terus menyebut namamu. Mungkin dia masih marah kepadamu, tapi ingat, anak di kandungan dia merindukan ayahnya." Ucap dokter Dara, bijak. Rehan terdiam, apa benar perkataan Dokter di sampingnya? Apa ini anaknya yang menginginkan hadirnya? Apa anaknya tahu jika kedua orang tuanya sedang bertengkar?


"Bawalah dia pulang, sebelum Dokter Aksa kembali. Saya yakin, Nadia masih mencintaimu. Hanya saja egonya terlalu tinggi untuk mengakui itu." Dokter Dara mendekat ke sisi tempat tidur Nadia.


"Dia perempuan yang baik, jaga dia, jangan kamu mengulangi kesalahan yang sama lagi. Beri dia rasa nyaman, maka perlahan hatinya akan luluh." Rehan tersenyum menatap Dokter Perempuan didepannya.


"Terimakasih, Dok. Anda sangat baik, kalau begitu saya permisi." Rehan menggendong Nadia masuk kedalam mobilnya.


"Hati-hati dijalan, ini Tas dan perlengkapan Nadia." Rehan mengangguk, dia meletakkan semua barang-barang Nadia ke bagasi mobilnya.


"Ini alamat rumah saya, jika dokter ingin bertemu dengan istri saya. Terimakasih sudah membantu saya untuk membawa pulang istri saya." Ucap Rehan. Dokter Dara mengangguk, dia menerima kertas kecil yang isinya adalah sebuah alamat rumah.


Mata Dokter Dara menatap lurus belakang mobil Rehan. Semoga ini awal dari kebahagiaan mereka berdua.


****


Jeo dan Luwis sedang bertengkar di jalan. Mobil yang mereka berdua tumpangi mogok di pinggir jalan. Hari sudah sangat gelap, tidak ada bengkel yang buka Jam segini.


"Gini Wis, aku naik kedalam mobil, dan kamu dorong mobilnya." Jeo membuat kesepakatan kepada sahabatnya itu.


"Mata kamu! Enak di kamu, Ngenes ke aku. Kita dorong mobilnya bareng-bareng." Maki Luwis, kesal.


"Terus yang di dalam mobil siapa? Kuntilanak?!" Jeo terlihat kesal dengan Luwis.


Mereka berdua terus berdebat. Mempermasalahkan Mobil mereka yang mogok. Untung mogoknya di pinggir jalan. Coba kalau di tengah jalan, sudah pasti mereka berdua mendorong mobil untuk menepikan di pinggir jalan.


"Malam ini kita tidur di dalam mobil, nanti kalau sudah pagi, Kita suruh Danil kesini bawa montir." Usul Jeo.


"Jenius juga otak kamu, Je." Cengir Luwis, yang di balas Jeo dengan dengusan.


***


Jam 05.00 pagi Dokter Aksa pulang ke rumah. Dia sudah membelikan Nadia buah-buahan segar dari penjual kaki lima yang sudah menjajakan dagangannya, walau mentari belum sepenuhnya bersinar.


Dengan bibir tersenyum, dia masuk kedalam rumahnya yang tidak di kunci. Dia menaiki tangga dengan langkah terburu-buru. Melihat pintu kamar Nadia terbuka, membuat senyum Dokter Aksa semakin mengembang.


"Pasti dia baru bangun tidur." Tebak dokter Aksa.


Dokter Aksa masuk kedalam kamar Nadia, dia memanggil-manggil nama Nadia, namun tidak ada sahutan dari orangnya.


"Nad, Nadia...." Seru dokter Aksa, dia sudah menggeledah semua kamar Nadia. mulai dari Kamar mandi, bawah tempat tidur, bahkan lemari.


"Nadia pulang, Sa. Rehan yang menjemputnya tadi malam." Dokter Dara yang baru selesai sholat subuh, menghampiri dokter Aksa.


"Kamu tahu, dan kamu biarin dia pergi? Kamu tidak tahu Rehan? Dia itu..."


"Jahat? Kejam? Atau kasar? Itu semua hanya fikiran negatifmu saja. Dia sangat menyayangi istrinya, aku lihat dari tatapan matanya ketika menatap Nadia tadi." Jelas dokter Dara.


"Tapi..."


"Apa kamu rela Vino pergi?" Potong Dara cepat.


"Kenapa harus bawa-bawa Vino?" Kesal dokter Aksa.


"Kamu pasti tidak rela anakmu pergi diambil orang lain, begitupun dengan Rehan, dia tidak rela istrinya di ambil orang lain. Renungi dulu ucapanku." Dokter Dara meninggalkan Dokter Aksa sendiri. Dia kembali ke kamar Vino.