Possessive Husband

Possessive Husband
44. Lamaran?



Malam ini Luwis benar-benar datang ke rumah Kinan. Dia menghela nafas berat. Semoga saja orang tua Kinan itu baik. Dia memang sudah pernah ke rumah Kinan, tapi sewaktu itu tidak ada kedua orang tuanya. Luwis lebih memilih melamar Kinan sekarang, dari pada nasibnya seperti Jeo. Dulu Jeo tidak melamar Gita dengan cepat, sehingga perempuan itu mengejar impiannya menjadi penulis, dan meninggalkan Jeo.


Luwis tidak bisa membayangkan ketika dia harus melihat Kinan bersanding dengan lelaki lain. Karena dari Danil dia tahu, melepas seseorang yang kita sayang tidaklah mudah. Butuh perjuangan buat move on.


Ting, Tong, Ting, Tong,


Luwis tidak pernah segugup ini. Dia sudah biasa berhadapan dengan kologan bisnis yang sangat dingin, memberantas orang yang mengacau di Club' malam milik Jeo, bahkan dia sudah bolak-balik mendatangi kantor polisi untuk menjebloskan Rival kerjanya.


"Sebentar..." Sahut seseorang dari dalam. Luwis menunggu dengan cemas, saat pintu terbuka matanya terbelalak melihat Kinan yang hanya menggunakan baju polos berwarna putih serta celana pendek berwarna hitam.


Kinan ingin berlari ke kamarnya untuk berganti baju, namun tangannya di tahan oleh Luwis.


"Cantik." Bisik Luwis, pelan.


"Siapa Kinan?" Mama Kinan berteriak dari arah dapur. Kinan meringis dia bingung harus menjawab apa.


"Pa_Pak Luwis, Ma." Jawab Kinan, gugup. Luwis terus menatapnya, hingga membuat dirinya tidak bisa berkutik.


Kedua orang tua Kinan menghampiri Kinan dan Luwis yang sedang duduk di ruang tamu. Mama dan papa Kinan saling tatap ketika melihat laki-laki yang duduk di samping putrinya.


"Malam Om, Tante." Luwis mencium kedua telapak tangan orang tua Kinan dengan sopan. Malam ini Luwis mengenakan kemeja putih dengan celana kain berwarna hitam.


"Malam, ada apa ya Pak Luwis datang ke rumah kami? Apa Kinan membuat kesalahan?" Tanya mama Kinan, takut. Keluarga Kinan bukanlah keluarga yang berada, mereka hanya keluarga sederhana yang berharap masa depan putrinya cerah.


"Bukan, Bu. Maksut kedatangan saya kesini ingin melamar putri bapak dan ibu. Jika kalian berkenan, saya akan membawa kedua orang tua saya kesini lusa." Ucap Luwis tanpa ragu. Mata Kinan terbelalak kaget. Sedangkan kedua orang tua Kinan saling tatap tidak percaya.


Kinan menatap lelaki di sampingnya, Dia kira Luwis bercanda ketika mengatakan ingin kerumahnya tadi.


"Maaf Pak Luwis, apa bapak tidak bercanda? Kami bukanlah keluarga berada, rasanya saya kurang percaya jika anda melamar putri saya untuk anda jadikan istri. Bukankah di luar sana masih banyak perempuan berada yang menginginkan Pak Luwis?" Ada rasa kecewa di hati Kinan ketika papanya berkata seperti itu.


"Memang ada banyak perempuan di luar sana yang menginginkan saya, tapi saya hanya menginginkan putri bapak untuk menjadi istri saya, bukan mereka." Jawab Luwis tegas. Dia sama sekali tidak mundur ketika papa Kinan mulai mengetesnya dengan berbagai pertanyaan.


"Apa yang membuat Pak Luwis yakin ingin menikahi putri saya?" Kinan semakin gugup ketika papanya menatap Luwis. Dia takut lelaki di sampingnya tidak bisa menjawab.


"Karena saya mencintainya. Bukan hanya itu, Kinan adalah perempuan yang saya inginkan. Selain baik, dia juga tipe perempuan bekerja keras. Kinan bukan perempuan manja, jadi saya mantap ingin meminangnya. Tapi sebelumnya saya ingin melamarnya dulu. Bagaimana Pak, Bu? Apa kalian berkenan untuk melepas putri bapak dan ibu kepada saya?" Luwis Menggegam tangan Kinan dengan detak jantung yang menggila. Dia takut lamarannya di tolak.


"Bagaimana, Ma?" Papa Kinan bertanya kepada istrinya.


"Mama sih terserah Kinan. Bagaimana Nak, apa kamu mau menerima lamaran Pak Luwis?" Mama Kinan menatap putrinya lembut. Luwis mempererat genggaman tangannya dengan Kinan ketika Kinan menatapnya.


"Ak_aku..." Kinan menatap Luwis lama, kemudian dia menundukkan kepalanya. "Aku menerima lamaran Pak Luwis, Ma, Pa."


"Alhamdulillah." Ucap kedua orang tua Luwis bersamaan.


"Kalau begitu saya akan membawa kedua orang tua saya kesini untuk melamar putri bapak dan ibu secara resmi besok lusa. Dan jangan panggil saya dengan sebutan Pak, karena saya ingin menjadi menantu kalian, bukan Bos anak kalian." Canda Luwis sambil tersenyum. Mereka semua tertawa dengan candaan Luwis.


***


Berbeda dengan suasana di rumah Kinan, disini Nadia dan Rehan saling tatap ketika melihat Meli melihat kalung emas yang Rehan belikan tadi.


"Bagus sekali, ini nih enaknya punya mantu kaya raya." Meli menatap kalung yang dia kenakan dengan bibir tersenyum. Sedangkan Aldi merasa malu kepada anak dan menantunya.


"Yasudah, ayo kita kemeja makan Nad, Rey." Ajak Aldi, meninggalkan Meli sendiri. Mereka bertiga duduk di meja makan.


"Wow, Telur balado." Nadia baru saja mau menyendok telur itu, sebelum tangan Rehan menyingkirkan tangannya.


"Nih, makanan kamu." Rehan menuangkan sup jagung dan juga bebek bakar kepada istrinya. Sontak hal itu membuat bibir Nadia manyun.


"Pa, masa Nadia disuruh makan Mas Rehan ini terus." Protes Nadia, sambil mendorong piringnya menjauh dari hadapannya.


"Ya memang begitu sayang, mama kamu dulu juga begitu." Aldi tersenyum tipis kepada putrinya. Rehan menatap Nadia dengan penuh kemenangan.


"Papa itu selalu belain menantu papa." Cibir Nadia, sambil menyendok makanannya kedalam Mulutnya.


"Aku juga mau makan telur." Nadia mengigit ujung daging bebek bakar yang berada di tangannya.


"Telur rebus, telur goreng, telur..."


"Telur balado, Mas." Potong Nadia, kesal. Rehan dan Aldi saling tatap ketika melihat Nadia merajuk.


***


"Mas, besok aku mau periksa kandungan aku yang ke 6 bulan." Nadia sedang tidur di kamarnya. Dia tidak di bolehkan suaminya pulang karena sudah larut malam.


"Udah buat janji sama Melody Belum?" Tanya Rehan sambil menyesap kopi hitam di sofa kamar Nadia.


"Udah, kemarin sih." Jawab Nadia sambil menghampiri suaminya.


"Oh ya Mas, katanya Melody mau nikah kok belum nyebar undangan ya?" Tanya Nadia bingung. Kata suaminya Danil sibuk mengurus acara pernikahannya dengan Melody, Tapi kok dia belum di kabari sahabatnya itu tentang rencana pernikahannya.


"Gak tahu, sekarang aku juga jarang ketemu Danil." Jawab Rehan, sambil mengusap rambut Nadia. Nadia tidur di pangkuan Rehan, dia mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah suaminya.


"Kalau anak kita perempuan bagaimana? Biasanya suami pengen anak pertama mereka laki-laki." Nadia menatap perutnya dan mengusapnya lembut.


"Perempuan ataupun laki-laki bagiku sama saja. Yang penting ibu dan calon bayinya sehat. Lagi pula kalau perempuan dia bisa menemanimu masak, kalau laki-laki dia bisa menemaniku bermain catur. Lalu untuk apa kita memusingkan itu? Banyak pasangan di luar sana yang sudah lama menikah tapi tidak di karuniai anak. Sedangkan kita yang baru sebentar menikah sudah langsung di beri Allah kepercayaan untuk memiliki anak. Harusnya kita bersyukur sayang." Rehan menempelkan tangannya pada tangan Nadia. Dia mengusap perut Nadia bersama.


"Sehat-sehat disana sayang, mama dan papa disini menanti kelahiran mu." Ucap Rehan, seraya menatap lembut manik mata Nadia.