
"Tania..? "
tanpa sadar ponsel aloe terjatuh setelah melihat video yang dikirim dari seseorang, tiba tiba saja tubuh aloe lemas.
"kenapa.? " tanya arvan. "kamu sakit. "
aloe diam tidak menjawab, itu malah membuat arvan semakin bingung.
"tania kecelakaan. " ucap nya pelan."keluarga nya lagi pergi semua ke belgia, aku harus kesana melihat keadaan tania.
arvan meraih tangan aloe. "aku antar, " ucap arvan yang dibalas anggukan oleh aloe.
setelah meminta ijin kepada orang tua aloe, arvan langsung mengantarnya ke rumah sakit dimana tania dirawat, sesampainya di rumah sakit, aloe langsung melihat keadaan tania yang masih diUGD.
Tidak beberapa lama kemudian dokter yang menangani tania muncul.
"dok, bagaimana keadaan tania?"
"apakah kalian saudara pasien."? tanya dokter tersebut. yang dibalas anggukan oleh aloe. "kondisi pasien sangat kritis dan banyak kehilangan darah, kebetulan stok darah di PMI lagi nggak ada untuk jenis darah pasien."
"kalau boleh tahu apa golongan darahnya dok.? " tanya aloe dengan muka cemas.
"B positive. "
"ambil darah saya dok, saya B positif." aloe bersemangat.
arvan menepuk pundak aloe dari belakang. "yakin, kamu kan.... "
"udah stop, aku lagi nggak ingin berdebat, aku nggak mau tania kenapa kenapa. "
aloe kemudian mengikuti perawat yang akan memeriksanya.
°°°°
aloe masih setia menunggu tania yang belum sadarkan diri.
"tan, lo kenapa sih kok pakai mabuk segala, kalau ada masalah cerita sama gue. " aloe ngedumel sendiri.
tiba tina ada seorang perawat yang masuk membawa sebuah map berwarna coklat.
"ini mbk, hasil lebnya udah keluar,alhamdulillah kandungan saudara mbak tidak apa apa. " kata perawat tersebut sambil menyerahkan map tersebut kepada aloe.
" kandungan? maksud suster tania hamil.? "tanya aloe yang dibalas anggukan oleh suster tersebut.
aloe menatap arvan yang sedang duduk di sofa. " pak, "
"tan, gue kan udah bilang berkali kali sama lo, jauhin Nicole. "
"siapa Nicole? " tanya arvan
"pacarnya tania pak, anaknya broken home gitu, sukanya pergi ke club. " aloe menjelaskan. "aku yakin pasti dia yang hamilin tania. "
arvan mengusap puncak kepala aloe. "kamu jangan asal nuduh, kita tanya dulu sama tania setelah dia siuman. "
malam ini arvan dan aloe menginap dirumah sakit menemani tania yang masih belum sadarkan diri.
"kamu laper nggak? " tanya arvan yang sedari tadi memegangi perutnya karena lapar. "kita cari makan dulu yuk? "
aloe menggeleng. "kamu aja sana, aku mau nungguin tania dulu, sampai dia sadarkan diri. "
"ya udah deh, aku juga nggak makan, nggak papa kelaparan asal sama kamu. " gombal arvan.
"ihh apan sih, receh amat. "
"aku nggak punya receh, dolar mau? "
"arvan." aloe manatap tajam kearah arvan.
"cieee, udah panggil arvan. " goda arvan. "aku lapar beneran nie,lagian juga tania sadarnya masih lama, ditinggal makan bentar juga nggak papa. "
"kok ngomongnya gitu, " aloe melotot. "nyumpain tania ya biar siumannya lama, kasihan tahu, "
"kok tahu dikasihani? tahu tu enaknya di makan sama petis atau nggak sama cabe, dikasih garam dikit, duh jadi tambah laper nie. "gumam arvan.
" arvan, nggak lucu! "
arvan menarik tangan aloe membawanya keluar dari ruangan.
"mau kemana sih, kasihan si tania sendirian? "
"cari makanlah,cacing diperut aku dari tadi udah pada demo, minta kebijakan perutnya harus di isi. "
"sumpah nggak lucu. " ucap aloe dengan muka kesal.
"emang nggak lucu, kan aku nggak lagi nglawak."
saking kesal nya aloe mencubit pinggang arvan hingga meringis kesakitan.
"gue sayang banget ama lo barby. " batin arvan sambil menatap wajah cantik aloe. "