Possessive Husband

Possessive Husband
ucapan.



Dari kejauhan fino mengamati gerak gerik arvan dan aloe yang kini sudah meninggalkan ruangan tania.


Dengan langkah perlahan fino mendekati tania yang sedang terbaring lemas belum sadarkan diri.


"tantan,lo kenapa sih pakai mabuk segala, gue tahu lo pasti stress, gue juga stress tan, gue nggak bisa ngebayangin kalau aloe tahu, gue yang udah bikin lo kaya gini. " ucap fino sambil mengusap puncak kepala tania. "gue sayang lo tan, tapi gue juga sayang aloe. "


"ya kalau sayang dinikahin dong, kan tahu kalau pacarnya hamil." ucap seorang suster yang tiba tiba aja muncul dibelakang fino. "kamu laki laki kan bukan banci, mau berbuat juga harus mau bertanggung jawab, mohon keluar dulu saya harus memeriksa pasien.


fino keluar dari ruangan tania, dia masih belum paham apa yang dikatakan suster tadi.


" tania hamil? tapi kenapa suster tadi nuduh gue, tania hamil sama siapa? "fino tampak ketakutan, " bukan gue yang hamilin tania, gue sama tania nglakuin hanya sekali, dan itu pun pakai pengaman, apa bisa hamil. "


fino langsung pergi meninggalkan rumah sakit, saat melihat aloe dan arvan sudah terlihat dari kejauhan.


°°°°°°°°°°°


perlahan tangan tania bergerak, kedua matanya juga perlahan lahan mulai kebuka.


"fino..! " gumam tania lemas.


aloe yang sejak tadi menunggui tania disampingnya bisa mendengar dengan jelas saat tania menyebut nama fino.


"tan, lo dah sadar.? " tanya aloe sambil mengenggam erat tangan tania. sementara arvan tidur pulas di sofa.


"fino.... " tania kembali menyebut nama fino.


"al.. " tania sedikit membuka katanya. "gue kok disini? "


"kok tanya sama gue, tanya ama diri lo, kenapa lo sampek disini. " jawab aloe sedikit kasar. "ngapain lo sampai mabuk segala, dan satu lagi siapa yang udah buat lo hamil?. "


"al, tania kan baru sadar. " tegur arvan. "satu satu nanya nya. "


terlihat tania menitikan air matanya sambil menatap aloe. "ngapain lo nangis, nyesel kan lo, kan gue udah bilang ama lo berkali kali bahkan ratusan kali,perempuam itu harus bisa jaga diri, jaga sesuatu yang berharga dari diri kita, jangan asal mudah percaya sama cowok, apalagi kalau cowok nya tampang buaya gitu, bahaya."


Tania meraih tangan aloe, "al, makasih ya. "


"it's oke lah, gue udah kasih tahu ortu lo, mereka masih perjalanan pulang ke indo. " ucap aloe. "gue balik dulu ya dah malam, dan satu lagi kok lo panggil nama fino sih, saat nggak sadar tadi, bukan gue?kan gue yang nolongin lo. "


"nggak ikhlas nie, "


"ikhlas kok, apa sih yang nggak buat lo, lo udah gue anggap saudara tan, kalau lo udah mood, jangan Lupa kasih tahu gue, siapa yang sudah buat lo kayak gini. " ucap aloe, yang dibalas anggukan oleh tania.


"cepet sembuh ya tan. " ucap arvan


"makasih pak arvan. "


Tania menatap aloe dan arvan yang sudah hilang dari pandangannya.


"maaf in gue al, lo pasti benci banget sama gue, setelah tahu siapa cowok yang udah membuat gue kayak gini. "ucap tania dengan berlinang air mata. " gue emang bukan sahabat yang baik buat lo al, gue nggak pantas punya temen kaya lo."