Possessive Husband

Possessive Husband
38. Tampang kaya tapi pelit.



Suasana di ruang keluarga sangat tegang. Aldi menatap Rehan dengan sorot mata tajam. Dia sudah mendengarkan penjelasan dari Rehan dan Nadia, bahwa semuanya hanya salah paham. Tapi Aldi tetaplah Aldi, lelaki paruh baya itu tetap menuduh Rehan sebagai suami yang kasar dan tidak bertanggung jawab.


"Pa, maafin Mas Rehan. Memangnya papa tega ngelihat cucu papa lahir tanpa ayah?" Nadia memohon kepada papanya. Tidak hanya Nadia yang berusaha meminta maaf kepada papanya, namun Rehan juga begitu.


"Akan papa carikan kamu suami baru, agar anakmu tetap merasakan kasih sayang dan kehadiran seorang ayah." Tanpa pikir panjang, Aldi langsung berkata seperti itu. Hal itu langsung membuat Nadia dan Rehan terbelalak kaget.


"Pa, kasih aku kesempatan sekali lagi untuk membuktikan kepada papa, kalau aku bisa membahagiakan putri papa." Rehan mencium tangan mertuanya, dia berjongkok meminta kesempatan kepada Aldi.


"Papa ingin anakku seperti diriku, menderita diasuh oleh ibu tiri. Aku tidak mau anakku menderita seperti aku. Cukup aku pa, yang jadi korban atas keegoisan orang tua. Andai papa tidak menikah lagi dengan nenek lampir itu, pasti aku sekarang ini masih kuliah." Nadia menatap sinis Meli yang sedang memakan nastar disamping papanya.


"Ck, dasar anak tidak tahu terimakasih. Udah baik aku rawat, eh malah..."


"Diam kamu, Mel!" Bentak Aldi. Dia terdiam sebentar, menatap wajah putrinya dan Rehan bergantian. Dia ingin putrinya bahagia, dia tidak ingin kembali membuat hati putrinya terluka, namun...


"Bangunlah, Rey. Papa memaafkan mu, dan memberikan kesempatan kedua untukmu menjaga anak dan calon cucuku." Aldi menepuk pundak menantunya. Mereka berpelukan bersama. Setetes cairan bening membasahi kedua pipi Nadia, dikala melihat moment mengharukan antara suami dan papanya.


"Ck, Drama king." Meli langsung pergi begitu saja. Semuanya tidak perduli, mereka sibuk menangis dan saling peluk.


"Papa..." Nadia merengek dan langsung memeluk suami dan papanya.


***


Melody tersenyum senang dikala mendengar dari Dokter Amira bahwa Abang sepupunya sudah mulai membaik.


"Apa aku sudah bisa bicara dengannya?" Tanya Melody, antuasis. Tapi sayang, gelengan kepala dari Dokter Amira membuat Melody kembali menelan kekecewaan.


"Dia memang sudah sedikit pulih, namun tatapannya masih kosong. Jangan kamu ajak bicara dulu, mungkin 2 atau tiga hari lagi dia bisa sedikit berkomunikasi dengan orang." Jelas dokter Amira, pelan.


Dokter Amira memeluk Melody, dia mencoba menguatkan perempuan di depannya. "Bersabarlah, dia akan sembuh. Tapi semua itu juga ada prosesnya."


Melody mengangguk, dia mengintip Abang sepupunya yang berada di dalam kamar.


"Dia tertidur setelah aku beri minum obat. Kalau begitu, saya permisi." Dokter muda itu pergi meninggalkan Melody sendiri. Setelah dokter Amira pergi, Melody masuk kedalam kamar Abang sepupunya.


"Bang, Melody kangen. Melody bisa membantu Mas Danil untuk melupakan Nadia, kenapa Melody tidak bisa membantu Abang melupakan Nadia? Apa rasa cinta Abang kepada Nadia begitu besar? Maafkan aku bang, seharusnya aku tidak mempertemukan Abang kembali dengan Nadia. Aku tahu bang, dulu abang pasti bersusah payah untuk mengubur dalam-dalam cinta Abang ke Nadia. Namun dengan cerobohnya, aku menggali kembali cinta Abang untuk sahabatku itu." Melody menangis sambil memeluk Dimas dari belakang.


"Andai aku bisa membolak-balikkan hati, akan aku pastikan, cintamu untuk yang lain, tidak untuk Nadia, sahabatku." Gumam Melody, perih.


***


Pagi menyapa, setelah kemarin seharian Vino menangis dan membuat semua orang bingung karena dia meminta bertemu dengan Nadia, kini anak kecil tampan itu sedang bermain jungkat-jungkit bersama temannya di taman kompleks.


Hari ini adalah hari Minggu, Dokter Aksa dan Dokter Dara janjian untuk berjoging bersama. Tentu atas permintaan Vino.


"Hemm..." Bibir Dokter Dara tersenyum kecut ketika mendengar respon dari Dokter Aksa. Hanya sebuah gumaman kecil yang siapapun pasti bisa. Dokter Dara menggelengkan kepalanya pelan, memangnya dia berharap dokter Aksa merespon pertanyaannya seperti apa?


"Aku memang bukan Nadia yang dengan gampangnya mencuri hatimu, tapi aku punya hati, yang kapanpun akan lelah jika terus di abaikan." Gumam Dokter Dara, sendu.


***


"Kamu mau susu yang rasa Strawberry? Coklat? atau Vanila?" Rehan menunjuk deretan susu hamil yang terletak di depannya.


"Rasa Kelengkeng ada gak?" Tangan Rehan yang baru saja ingin memegang Susu coklat, kembali dia urungkan.


"Gak ada, yank. Adanya rasa Strawberry, Coklat, sama Vanila. Kamu pilih yang mana?" Rehan menatap istrinya yang sedang tertawa kecil di depannya.


"Rasa yang gak bikin aku mual ada?" Tanya Nadia, sembari memasang senyum manis. Memang dia sering sekali mual ketika meminum susu hamil itu.


"Ada, rasa cinta aku ke kamu. Dijamin gak bikin mual, tapi bikin bahagia." Nadia mendengus ketika mendengar jawaban Rehan. Dia langsung mengambil susu coklat kesukaannya. Bukan kesukaannya jugasih, abis gak ada pilihan lain. Jika dia disuruh minum susu hamil atau minum air putih, mending dia tidak minum semuanya. Air putih rasanya hambar, sedangkan susu hamil rasa coklat bikin dirinya mual.


"Kemarin kalau kamu pulang lebih awal dari rumah papa, pasti tadi pagi kamu sudah minum susu." Omel Rehan, dia memarahi Nadia karena tidak bisa minum susu gara-gara berada di rumah papanya terlalu lama.


"Kamu marahin aku?" Nadia memajukan bibirnya, hal itu membuat Rehan bingung. Mati dia kalau istrinya marah, macan betina yang lagi terung aja kalah sama dia.


"Enggak, kan perempuan gak pernah salah, jadi aku yang salah, aku kan laki-laki." Rehan mengacak-acak rambut istrinya yang sedang berjalan disampingnya sambil memakan es krim.


"Yank, makaroni pedas sama kripik kentang pedas." Nadia menarik tangan Rehan yang sedang mendorong troli.


"Aku gak dengar." Rehan menulikan telingannya, dia memang melarang keras istrinya memakan yang pedas-pedas.


"Ilove you!" Bisik Nadia, sambil mencium pipi Rehan cepat.


"Ilove you to." Jawab Rehan, santai.


"Tapi belikan aku itu?" Tangan Nadia menunjuk keripik kentang pedas dan makaroni pedas.


"Gak, kita pulang. Kamu harus minum obat siang ini." Nadia mendengus ketika mendengar ajakan pulang suaminya tanpa membelikan cemilan kesukaannya.


"Sekarang kamu peritungan sama aku. Yank, itu gak ada 100 ribu loh." Rayu Nadia, sambil menarik ujung baju suaminya yang sedang mengantri ke kasir.


"Mau harganya 500, diskon 100%, bahkan gratis sekalipun aku gak akan beliin kamu cemilan itu. Harganya gak seberapa, tapi perut kamu nanti sakit." Rehan Menggegam tangan istrinya. Dia melirik Nadia yang sedang merajuk padanya.


"Kali ini saja, plis....." Nadia mengatupkan kedua tangannya didepan Rehan.


"Mas-mas, tampang kaya kok sama istri sendiri pelit." Ucap ibu-ibu yang berada dibelakang Rehan dan Nadia. Rehan melirik Nadia, sedangkan Nadia berpura-pura tidak melihat suaminya.