Possessive Husband

Possessive Husband
32. Terbongkar



Nadia sedang ingin berdansa bersama dokter Aksa. Namun tiba-tiba.....


"Aku akan mencelakakan Nadia jika kamu tidak meninggalkan dia." Suara itu milik Nesya. Wajah Nesya yang tadinya sedang berseri bahagia, langsung pucat seketika.


Awalnya Rehan tidak memperdulikan ancaman itu. Namun tindakan Nesya sudah sangat membahayakan Nadia.


Malam itu saat dirinya baru pulang kerja, dia melihat Nesya keluar dari gerbang rumahnya. Malam memang sudah larut, karena dia harus lembur dulu. Tidak ada yang mencurigakan memang, tapi saat berada di halaman rumahnya. Dia melihat cincin Berlian di bawah mobil yang biasa Nadia bawa. Rehan tahu, itu cincin berlian milik Nesya. Karena cincin itu dirinya yang membelikan saat mereka masih berstatus sepasang kekasih.


Rehan mencoba menyusun rencana. Dan rencananya berjalan dengan lancar saat Nesya datang sendiri ke ruangannya. Rehan membiarkan Nesya mencumbunya. Setelah lengah, Rehan ingin mengintrogasi Nesya dan merekamnya untuk di jadikan bukti pengajuan atas tindakan kriminal dengan mencabotase mobil miliknya. Tapi rencananya gagal saat Nadia datang.


Rehan sudah pusing mencari istrinya yang tiba-tiba pergi dari rumah. Dia fikir, dia harus menuntaskan masalahnya dulu sendiri. Untuk masalah ini, hanya dirinya yang tahu. Hingga pada suatu hari saat dia mengobrol dengan orang suruhannya di telepon, obrolannya di dengar oleh Danil dan Melody. Itu bukan kesalahan mereka berdua, dirinyalah yang terlalu ceroboh. Karena dirinya mengangkat telepon di parkiran Mall. Danil dan Melody mencari tahu semuanya, Hinga mereka bekerja sama dengan Rehan untuk menjebak Nesya. Mereka berencana untuk mempermalukan keluarga Nesya. Ide untuk bertunangan dan membuka semua kejahatan Nesya di muka umum adalah ide Danil.


"Haaa..., sekarang kamu sudah berhasil aku singkirkan, Nad. Sebentar lagi aku bisa hidup bersama Rehan." Nesya tertawa sambil meminum votka. Rehan yang berada di depan Nesya, merekam semua omongan Nesya yang mulai ngawur.


"Apa kamu yang mencabotase mobilku?" Tanya Rehan hati-hati.


"Iya, aku sudah lama menguntit istrimu, bukankah mobil itu yang sering istrimu bawa?" Nesya tersenyum penuh kemenangan.


"Apa yang kamu inginkan setelah istriku mengendarai mobil itu?" Rehan semakin mendekatkan rekaman vidio heandpon miliknya kedepan Nesya.


"Aku ingin dia mati! Jika dia masih selamat, aku akan berusaha mencari akal untuk bisa menyingkirkan dia."


Terpampang jelas wajah Nesya saat mengucapkan kata-kata itu. Sekarang Nesya benar-benar malu.


Nadia yang berada di samping Dokter Aksa seketika langsung shock. Hingga dia pingsan di tempat. Saat dokter Aksa ingin menggendongnya, Rehan langsung mendorong dokter Aksa.


"Singkirkan tangan kamu dari istriku." Rehan berjalan cepat menuju pintu keluar gedung ini.


"Danil, urus semuanya." Suruh Rehan, Danil mengangguk. Saat Rehan baru saja sampai di parkiran, dia melihat Melody datang bersama dua polisi.


"Rey, it_itu Nadia?" tanya Melody kaget ketika melihat keadaan sahabatnya yang sedang pingsan.


"Iya, kamu bantu ngurus di dalam." Jawab Rehan cepat. Dia masuk kedalam mobil bersama Nadia. Sedangkan Melody berjalan masuk kedalam Gedung tunangan Rehan dan Nesya.


Kedua mata Nesya membelalak ketika melihat Melody datang dengan membawa dua polisi.


"Harusnya Rehan ngajak-ngajak aku kalau mau bales dendam sama Nesya." Luwis duduk di samping Jeo yang sedang berbincang-bincang dengan rekan kerja Rehan.


"Ngajak orang rusuh yang bisanya pacaran kayak kamu malah jadi bubar semua rencana. Harusnya dia ngajak aku, akukan calon mafia." Ucap Jeo yang mendapat dengusan oleh Luwis.


"Prett..., Mafia jomblo." Kekeh Luwis.


Mama Nesya berjalan cepat menghampiri kedua orang tua Rehan. Dia bersujud di kaki Bram dan Eva. Air mata Mama Nesya mengalir begitu deras.


"Maafkan anak saya, Bu. Maafkan dia, mungkin saya salah mendidiknya." Mama Nesya menangis sesenggukan di kaki Eva. Dia memohon untuk kesalahan anaknya di maafkan.


"Maafkan Nesya, pak. Saya janji, saya akan menghukum dia. Tapi jangan bawa dia ke kantor polisi." Papa Nesya menghampiri Bram yang sedang berdiri disamping istrinya.


"Saya tidak perduli. Nil, Je Wis, urus!" Bram menggandeng istrinya keluar dari dalam gedung.


"Tangkap dia, Pak!" Suruh Melody. Kedua polisi itu memberogol kedua tangan Nesya.


"Lepasin saya, Pak. Saya gak salah! Nadia yang salah, Nadia yang merebut Rehan dari saya." Teriak Nesya, dia memberontak ketika polisi membawanya.


"Dia tidak akan menjadi korban atas perbuatan keji kamu!" Jeo menghempaskan pipi Nesya dengan kasar.


"Dasar bict!" Sahut Melody.


Nesya menggelang, air matanya menetes begitu banyak."Pa, Ma, tolongin aku."


Sekarang ini Nesya sedang bersimpuh di kedua kaki orang tuanya. Nesya menatap mata kedua orang tuanya dengan tatapan memohon.


"Ma, Pa..." Nesya merintih. Tapi kedua orang tuanya hanya mampu diam dan menangis.


"Kalian jahat! Kalian semua adalah iblis!" Teriak Nesya bagaikan orang kesetanan.


"Iblis teriak iblis!" Sinis Luwis, santai.


"Sudah, diam!" Polisi menyeret Nesya paksa.


"Pak, saya tidak salah!" Teriak Nesya, memberontak.


"Nanti jelaskan di kantor kepolisian." Jawab salah satu polisi itu.


Malam ini menjadi malam kelabu. Rombongan keluarga Nesya pergi begitu saja dengan rasa malu. Sedangkan tamu yang lainnya saling pandang dan membicarakan tentang kejadian ini.


"*Kasihan istrinya Pak Rehan ya?"


"Rupaya Perempuan cantik tidak semuanya baik."


"Kenapa ada perempuan yang memiliki otak selicik itu?"


"Mungkin itu karma buat dia*."


Masih banyak lagi komentar-komentar dari mereka yang tidak semua Danil atau yang lainnya dengar.


"Baik semuanya, acara malam ini sudah selesai. Kalian boleh pulang, atau kalau mau ngobrol disini juga boleh." Kinan naik keatas Altar. Dia mengambil paksa Mice yang di pegang oleh sang Mc.


Semua orang bubar, termasuk sang Mc. Yang tersisa hanya ada Danil, Kinan, Melody, Luwis, Jeo, dan Dokter Aksa.


"Bagaimana Nadia bisa bersama kamu?" Jeo dan Luwis memang sudah akrab dengan Dokter Aksa. Karena dokter itu lah yang menyelamatkan nyawa Rehan ketika di tusuk pisau oleh selingkuhan Nesya.


"Ceritanya panjang." Jawab dokter Aksa masih bingung dengan kejadian ini.


"Singkat aja, Sa. Aku tungguin kamu meringkas ceritanya." Gurau Luwis. Hal itu membuat Kinan geram.


"Jangan macam-macam kamu." Kinan mencubit pinggang Luwis.


"Ya, ya. Tadikan aku bercanda biar suasananya tidak terlalu panas." Cengir Luwis.


"Tapi dokter tahu jika Nadia itu istri Rehan?" tanya Danil, mencoba mengorek informasi dari lelaki di depannya.


"Saya tidak tahu." Jawab Dokter Aksa sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Rumit." Ucap Jeo tiba-tiba. Harusnya jika Rehan ingin membuat rencana besar seperti ini, dia tidak gegabah. Kalau sudah seperti ini, rumit urusannya. Sekali di lepas, biasanya perempuan sulit untuk kembali seperti dulu. Jeo tahu, kalau niat Rehan itu baik. Dia tidak mau istrinya di sakiti orang lain. Tapi caranya yang salah.