
Pagi ini Nadia bangun kesiangan gara-gara acara tujuh bulanannya tadi malam. Dia berjalan menuju dapurnya dengan bibir cemberut. Rambutnya sangat acak-acakan, kantong matanya menghitam, serta tubuhnya lemas.
Nadia duduk di kursi makan, dia sedang menatap suaminya yang sok sibuk bergelut di dapur. Nadia mengerutkan keningnya dikala melihat suaminya sudah rapi menggunakan baju kerjanya, tapi masih berkutat di dapur.
"Pagi sayang, aku mau pergi ke kantor dulu. Ini susu hamil buat kamu, jangan lupa di minum. Kalau mau makan, udah aku siapin semuanya di dalam kulkas. Assalamualaikum." Rehan mencium pipi dan kening istrinya. Kemudian dia berjalan cepat keluar dari rumahnya.
"Waalaikumsalam." Jawab Nadia terheran-heran. Tumben sekali suaminya itu memasak.
Nadia meminum susu hamilnya dengan rahut wajah tidak suka. "Rasanya bikin aku mual."
***
Wajah Nadia terlihat Fress setelah selesai mandi. Dia sekarang sedang berada di luar untuk membeli bahan makanan di tukang sayur depan rumahnya.
"Mbak Nadia enak ya nikah sama Mas Rehan." Ucap salah satu ibu-ibu itu. Nadia mengerutkan keningnya, memangnya kenapa kalau dia menikah dengan Rehan?
"Maksud ibu?" Nadia benar-benar tidak mengerti dengan arah pembicaraan ibu-ibu itu.
"Iya, Mbak Nadia itu beruntung menikah dengan Mas Rehan. Anak saya hamil tujuh bulan sudah di tinggal suaminya merantau, sedangkan Mbak Nadia terus di temani Mas Rehan." Nadia meringis pelan. Dia membenarkan ucapan ibu-ibu itu. Memangsih nasibnya sedikit mujur. Walaupun dia di jodohkan, tapi suaminya itu sangat baik dan perhatian. Materi yang suaminya berikan tidak pernah kurang, dia selalu memenuhi apa keinginannya.
"Semua itu sudah takdir, Bu." Nadia menanggapi ucapan ibu-ibu itu dengan bibir tersenyum.
"Iya, coba saja Mas Rehan belum nikah, sudah pasti saya jodohin dia sama anak saya." Ucap ibu-ibu satunya lagi.
"Memang Mas Rehannya mau sama anak ibu?" Sinis si tukang sayur.
"Ya jelas mau dong, anak sayakan cantik." jawab ibu itu percaya diri.
"Kalau cantik kenapa belum laku?"
SKATMAT!
Nadia tersenyum kaku mendengar pertengkaran antara penjual sayur dan ibu-ibu itu.
***
Ingin sekali siang ini Rehan pulang ke rumah dan makan siang bersama istrinya. Melihat Luwis sedang saling suap bersama Karin, membuat dirinya iri.
"Argg..., dasar pasangan sok romantis." Mereka berdua benar-benar membuat kepala Rehan ingin pecah. Rehan ingin pulang dan makan siang bersama istrinya, tapi pekerjannya sedang menunggunya, menuntut dia untuk segera di selesaikan.
Rehan duduk di kursi kantin. Jemarinya sibuk menari-nari di layar heandpon miliknya. Bibirnya tersenyum tipis dikala melihat wajah istrinya sedang tersenyum diwaktu acara tadi malam.
"Aku mencintainya tanpa syarat, dan menyayanginya tanpa batas." Ucap Rehan dengan mata yang memancarkan kebahagiaan.
***
Hari ini Nadia ingin memasak sayur asam ikan kerbau kesukaan suaminya. Untung saja heandpon keluaran terbaru miliknya tidak jatuh ke panci masakannya. Nadia meringis pelan dikala melihat heandpon miliknya jatuh ke lantai dengan mengemaskan.
"Resiko orang gak bisa masak ya gini. Mau masak pakai nyari di internet. Endingnya heandpon menjadi korban." Nadia memungut heandponenya. Tadi dia sedang menonton tutorial memasak daging kerbau agar tidak keras saat di makan. Namun tiba-tiba heandponenya terjatuh saat dia mengambil pisau untuk memotong ikan kerbaunya.
"Boro-boro mau jadi istri idaman, mau masak daging kerbau aja gak bisa." Gumam Nadia, kesal. Dia meletakkan heandponenya di atas kulkas. Lalu dia memotong daging kerbaunya sesuai ukuran. Nadia mempresto daging kerbau yang dia beli tadi biar cepat empuk. Nadia beralih memotong sayur kol yang dia beli, dia menatap sayur kol itu dengan kening berkerut.
"Sayur kol sebanyak ini siapa nanti yang ngehabisin?" Gumam Nadia, pelan.
"Sayang, Rehan mana?" Tanya Luwis sambil membawa berkas-berkas di tangannya yang harus Rehan tanda tangani.
"Sudah pulang dari tadi." Jawab Kinan sambil membaca jadwal maiting untuk Rehan besok.
"Serius udah pulang?" Luwis menatap tunangannya dengan tatapan tidak percaya.
"Nanya, dikasih tahu gak percaya." Kinan menatap Luwis, jengah.
"Dia itu gimanasih? Terus ini gimana?" Luwis menatap berkas-berkas yang dia pegang dan wajah tunangannya bergantian.
"Mana aku tahu." Kinan mengedikkan bahunya. Hal itu membuat Luwis menghela nafas kasar.
***
Tok..., Tok...
Nadia yang sedang menunggu suaminya di meja makan tersenyum senang. Sudah lama dia menanti suaminya pulang, pasti sekarang yang ngetuk pintu rumahnya adalah suaminya.
Nadia yang hendak memegang kenop pintu menjadi ragu. Bukankah suaminya itu kalau pulang kerja memencet bel? Ini kenapa malah ngetuk pintu?
"Apaansih aku, bukannya senang suaminya pulang, kok malah nuduh yang enggak-enggak." Nadia menekan kenop pintu rumahnya. Senyumnya pudar dikala melihat dua lelaki di depannya. Dia merasa tidak mengenali dua lelaki itu, lalu kenapa mereka berdiri di depan rumahnya? Atau mereka adalah tamu suaminya?
"Maaf Mas, kalian siapa ya?" Tanya Nadia dengan sopan. Mereka berdua saling tatap, kemungkinan usia kedua lelaki itu adalah 28 tahun. Salah satu dari lelaki itu maju sedikit di depan Nadia.
"Apa ini rumah dari Pak Rehan?" Tanya lelaki itu.
"Iya, ada apa ya Mas?" Tanya Nadia, cemas.
"Apa semua ini adalah barang-barang dari Pak Rehan?" Tanya lelaki yang satunya. Nadia membeku, dia menerima tas dan juga dompet suaminya dengan tangan bergetar.
"Iy_iya, itu semua punya suami saya." Jawab Nadia dengan suara terbata.
"Suami Mbak di temukan tidak sadarkan diri di depan restoran melati, dekat dengan rumah Mbak. Dia masih berada disana, apa Mbak mau melihat dia?" Tanya salah satu lelaki itu.
"Iya Mas, ayo." Nadia menutup pintunya, lalu dia berjalan cepat masuk kedalam mobil kedua lelaki itu.
Air mata Nadia mengalir deras ketika mengingat semua moment indah bersama suaminya. Rasanya dia tidak rela jika sampai suaminya terjadi apa-apa.
"Yaallah, jangan ambil dia dariku." Nadia memeluk dirinya sendiri. Tangannya mengusap lembut perut buncitnya. Dia mau merawat anaknya berdua dengan suaminya, tapi....
"Jangan tinggalin aku Mas." Nadia menangis di dalam mobil.
Mobil yang di kendarai oleh salah satu lelaki itu berhenti di restoran melati, dekat dengan rumahnya. Kening Nadia berkerut dikala dia tidak melihat garis polisi disana. Tapi...
Ada banyak bercak merah di sekitar mobil suaminya. Hal itu membuat jantungnya berdetak dengan sangat kencang. Ada apa ini? Ada apa dengan suaminya? Ingin rasanya dia berteriak untuk meminta suaminya ada disisinya kembali.
"Mari masuk Mbak, suami Mbak sudah di bawa oleh beberapa warga ke dalam restoran." Ucap salah satu lelaki itu. Kaki Nadia terasa lemas. Dia masuk kedalam Restoran itu dengan langkah ragu. Rasanya dia tidak sanggup ketika harus melihat keadaan terluka suaminya.
"Yaallah, jika kau ambil suamiku, ambil juga diriku." Nadia menunduk dalam.