
Hari-hari berlalu, Nadia mulai terbiasa tanpa kehadiran Rehan. Namun Rindu tetap ada, semua itu cukup menyiksa dirinya. Seperti sekarang ini, dirinya sedang tidur sambil memeluk foto kecil pernikahannya dengan Rehan. Air matanya menetes, dirinya berjalan keluar balkon. Bibirnya membetuk senyuman getir, mengapa takdir baik tidak pernah berpihak padanya?
Nadia menatap jalanan ibu kota Bandung dari atas balkon kamarnya. Kerlap-kerlip lampu kota Bandung, membuat kota kembang itu terlihat indah di malam ini.
"Andai kita bisa duduk berdua dan menikmati dinginnya malam bersama, pasti akan terasa menyenangkan." Gumam Nadia, sambil mengusap perutnya. Bibirnya tersenyum dikala mengingat ada kehidupan baru di dalam perutnya.
"Andai kita berdua bisa menikmati moment menunggu kelahiran anak kita bersama, mungkin aku akan merasa menjadi perempuan dan calon ibu yang paling bahagia." Tersirat rasa kesedian di setiap kata yang Nadia ucapkan. Andai...., Semua itu hanya khayalan dan impian dirinya saja. Dirinya menginginkan keharmonisan keluarga kecilnya. Tapi Rehan seakan menginginkan perpisahan. Kalau begitu dirinya bisa apa?
"Aku pernah menangis karena tidak memiliki ibu, aku tidak mau semua itu terjadi pada anakku, menangis karena tidak memiliki ayah." Suara Nadia bergetar, dia menahan tangisannya.
***
"Pa, bolehkah aku liburan bersama Tante Dara? aku ingin melihat jerapah di kebun binatang. Terus ya Pah, aku mau berjelajah kuliner ke Jogja bersama Tante Dara. Bolehkan, Pa?" Vino datang ke kamar Dokter Aksa yang sedang membaca buku. Anak laki-laki itu mengambil buku papanya, dan menatap papanya dengan tatapan memohon.
"Mbak Dara tadi telepon saya, katanya dia mau jalan-jalan 3 hari ke Jogja. Kalau boleh, Vino mau diajak dia sekalian." Jelas Nadia, ketika melihat rahut kebingungan dari wajah Dokter Aksa.
"Gak boleh, kamu nanti nyusahin Tate Dara." Mendengar kata Tidak boleh dari papanya, tatapan dan senyum ceria milik Vino pudar seketika.
"Tante..." Vino menatap Nadia, memohon lewat isyarat matanya agar Nadia mau membantu dirinya.
"Ayolah, Sa. Biarkan Vino pergi bersama Mbak Dara, lagipula Mbak Dara sendiri yang ngajak Vino pergi bersamanya." Bujuk Nadia kepada dokter Aksa yang masih berkutat pada bukunya. Dia mengambil buku Panduan dokter handal ditangan putranya.
"Baiklah, asal..."
"Yee..., Jerapah, ye, ye, jerapah. Aku ketemu jerapah, jerapah, Ye.." Dokter Aksa menggelengkan kepalanya ketika melihat tingkah absurd Putranya.
"Asal jangan nakal." Lanjut Dokter Aksa, pelan.
"Saya bantu Vino berkemas dulu." Nadia hendak pergi, tapi Dokter Aksa memanggilnya.
"Nad," panggil Dokter Aksa.
"Iya?"
"Pakai Aku kamu aja, gak usah Aku saya." Suruh Dokter Aksa.
"Tapi..."
"Aku tidak menerima bantahan." Potong dokter Aksa cepat. Nadia mengangguk, lalu dia pergi menyusul Vino ke kamarnya.
"Tante, apa nanti aku harus membawakan jerapah itu wortel? Atau mungkin aku harus membawakan dia susu supaya cepat gemuk?" Sontak pertanyaan Vino membuat Nadia terbahak.
"Atau mungkin aku harus membawanya pulang, dan setelah gemuk aku kembalikan dia ke kebun binatang lagi?" Vino memang menyukai Jerapah, di dinding kamarnya terdapat banyak poster jerapah.
"Semua itu tidak perlu sayang, jerapah memang tabiatnya kurus dan tinggi. Berbeda dengan Panda yang Gemuk dan pendek." Jelas Nadia, sambil mengusap lembut rambut Vino.
"Iya kah? Kalau begitu aku tidak mau minum susu, biar aku bisa kurus dan tinggi seperti jerapah." Nadia menepuk jidatnya, dasar anak kecil.
"Kalau kamu tidak minum susu, kamu akan pendek seperti Panda." Mata Vino membulat, kemudian dia menggeleng.
"Kalau begitu, aku akan minum susu yang banyak agar tinggi seperti jerapah." Ucap Vino, cepat.
"Haa..., Anak pintar." Nadia mencium pipi chubby milik Vino dengan gemas.
***
"*Saya sudah membayarmu mahal. Saya mau semuanya berjalan sesuai Rencana."
"Tapi, Bos..."
"Atau kamu mau saya habisi?!"
"Baiklah, saya akan segera menyelesaikan semua perintah, Bos*."
"Bagaimana kalau aku ke rumah kamu, dan membelikan mama kamu baju? Bukankah kata kamu mama kamu kemarin sudah pulang dari rumah sakit?" Rehan melotot mendengar ucapan Nesya. Mamanya di rawat di rumah sakit selama 1 seminggu, dan baru dibawa pulang kemarin. Lalu tiba-tiba Nesya mau datang ke rumahnya, yang ada mamanya akan terkena serangan jantung nanti.
"Silahkan datang kalau kamu ingin membunuh mama ku!" Tegas Rehan.
"Kok kamu ngomongnya gitu? Kan aku berniat baik mau ngejenguk calon mertua aku." Ucap Nesya, sambil bergelayut di tangan Rehan.
"Memang kenyataannya begitu." Sinis Rehan, moodnya hari ini sedang tidak baik.
"Baiklah, aku akan kerumah mu setelah kita tunangan nanti." Nesya tersenyum sambil menatap wajah Rehan.
"Hem..." Dehem Rehan sebagai jawaban.
***
Dimas diam cukup lama, melihat kemesraan Rehan dan Nesya di Instagram miliknya, membuat dirinya sendiri geram. Lelaki brengsek seperti dia memang tidak layak untuk hidup.
"Aku disini mati-matian mengejar cintanya, sedangkan dia disana malah melepaskan Nadia dengan gampangnya. Dasar laki-laki tidak punya otak." Maki Dimas, marah. Kelakuan Rehan yang seperti bocah membuat dirinya geram.
"Iblis seperti dia seharusnya tidak layak hidup!" Dimas menyengkram pembatas balkon kamarnya.
"Seribu lelaki mengantri untuk mendapatkan Nadia, dia yang sudah mendapatkan-nya malah membuangnya bagaikan sampah." Dimas menggertakkan giginya, marah.
"********!!" Dimas memukul pembatas tembok sampai membuat tangannya berdarah.
***
Ting, Tong, Ting, Tong....
Nadia yang sedang masak di dapur, berjalan terburu-buru untuk membuka pintu utama Rumah dokter Aksa.
Ting, Tong, Ting, Tong...
"Sebentar!" Seru Nadia, dia membuka pintu Rumah dengan kening berkerut.
"Rumahnya bapak Aksa?" Tanya pemuda berkulit hitam di depannya.
"Iya, ada apa Mas?" Jawab Nadia, bingung.
"Paket dari Mas Aksa, untuk Mbak Nadia." Pemuda di depannya memberikan kontak bersampul biru kepada Nadia.
"Silahkan tanda tangan disini mbak." Suruh pemuda itu ketika Nadia sudah menerima kotak paketnya.
"Terimakasih." Ucap pemuda itu sambil tersenyum. Nadia mengangguk, ketika pemuda itu sudah pergi, Nadia kembali menutup pintu.
"Aneh, kira-kira apa ya isinya?" Monolog Nadia. Dia mematikan kompornya, lalu naik ke lantai atas.
Nadia duduk di atas tempat tidurnya, matanya menelusuri kotak di depannya.
"Buka ah, kata orang tadi kan untuk aku." Nadia menyobek sampul biru kotak itu. Keningnya berkerut dikala melihat setangkai bunga mawar berseta surat yang tertempel di tangkai bunga mawar itu.
To, Nadia
Untukmu, dariku, Dokter Aksa. Malam ini aku tidak pulang, tiba-tiba tadi aku ditelepon pihak rumah sakit, katanya aku harus mengoperasi orang. Besok jadwal operasiku juga padat, Besok tepat pukul 15.00 sore Aku akan menjemputmu dirumah. Bersiaplah.
From, Aksa
Nadia meletakkan bunga mawar yang terdapat surat ditangkainya. Tangannya mengambil Dress merah dan juga sepatu merah di dalam kotak bersampul biru itu.
"Apa ini semua untukku? Tapi Dokter Aksa mau ngajak aku kemana? Sampai-sampai aku harus disuruh memakai Dres seperti ini." Gumam Nadia, bingung.