Possessive Husband

Possessive Husband
26. Berasa punya keluarga lengkap.



"Bang, udahlah Lupain Nadia. Abang cari kehidupan baru, sebentar lagi aku sama Danil mau menikah, Abang gak mau gitu nikah?" Melody menatap Abang sepupunya yang baru saja selesai olahraga.


Dimas hanya diam, dia meneguk air mineral yang baru saja dia ambil kedalam kulkas. Setelah minum, Dimas berjalan melewati Melody begitu saja.


"Sudah lama Abang menantikan Nadia, tapi nyatanya apa? Nadia sama sekali tidak menghargai hati dan penantian Abang. Dunia ini luas bang, satu perempuan pergi, masih banyak perempuan lain. Abang mau sampai kapan menunggu Nadia? Umur Abang dudah 27 tehun, mau ubanan dulu baru nikah?" Perkataan anarkis milik Melody, langsung menghentikan langkah kaki Dimas.


"Aku akan menunggu Nadia kembali. Tidak perduli berapa lama dia pergi. Dan ingat, cinta itu tulus. Dia tdak perduli berapa lama penantiannya." Jawab Dimas, bijaksana.


"Iya, cinta itu tulus. Tapi nunggu yang tidak pasti itu capek bang. Abang gak capek nunggu cinta Nadia yang bukan untuk Abang?" Melody menatap punggung Dimas yang kian menjauh.


Dimas menghela nafas kasar, dia menaiki tangga menuju kamarnya. Bibir Dimas tertarik keatas, membentuk sebuah senyuman.


"Aku merindukanmu." Dimas memeluk bingkai foto yang berisi foto Nadia yang sedang tersenyum sambil memasak.


***


"Bisnis kamu bisa hancur kalau sikap kamu terus kayak gini, Rey!" Jeo datang kerumah Rehan. Hanya Jeo yang perduli dengan lelaki itu. Luwis dan seluruh keluarganya menyalahkan Rehan atas kepergian Nadia.


"Aku tidak perduli, yang aku perdulikan hanya istriku, aku hanya perduli kepada Nadia." Rehan duduk di balkon kamarnya. Kantong mata lelaki itu menghitam, pertanda bahwa dia jarang tidur. Jika Jeo lihat, tubuh Rehan juga semakin mengurus.


"Jangan bodoh, kamu mau ngasih makan Nadia apa nanti, jika bisnis mu hancur?" Jeo mencoba membuka pikiran Rehan yang mulai kacau. Disini tinggal dia yang perduli, kalau dia juga ikut-ikutan pergi, lalu bagaimana dengan nasib Rehan nanti? Lagi pula dia yakin, Rehan tidak mungkin menyakiti hati Nadia.


"Kamu pergi saja, bukannya sudah tidak ada yang perduli denganku?!" Sinis Rehan, dia mengakui kesalahannya. Tapi semua orang tidak berhak menghakiminya. Mata belum tentu benar, dan telinga belum tentu aktual.


"Mereka itu pergi karena kesalahan mu, andai kamu tidak bersikap bodoh dengan mempersilahkan Nesya masuk kedalam ruangan mu, pasti Nadia masih ada disini, dan semua orang tentu tidak akan membencimu." Kali ini Jeo mencoba bersikap bijak. Dia pernah ditinggal tunangannya pergi bersama temannya sendiri, tapi itu bukan kesalahannya. Jeo tidak menyesalkan hal itu. Tapi ini permasalahannya beda, Nadia pergi karena melihat Rehan bermain api bersama perempuan lain. Jelas hal itu membuat Jeo yakin, Rehan pasti menyesalkan hal itu.


"Tapi semuanya tidak sepenuhnya salah ku. Aku ini laki-laki normal Je, dia yang menyerang ku lebih dulu. Aku ingin mendorongnya, namun dia malah memperdalam ciuman kami. Dan saat itu Nadia masuk kedalam ruangan ku, dia melihat semuanya." Rehan terlihat sangat frustasi. Jeo hanya diam, dia tahu siapa Nesya dan Rehan.


"Tapi tindakan kamu itu salah!" Jeo menekankan setiap kalimatnya.


"Aku mencintai Nadia, tapi aku dan Nesya..." Rehan tidak melanjutkan perkataannya.


"Kamu tidak bisa mencintai keduanya, pilihlah salah satunya. Hati perempuan itu lembut, bro. Sekali kamu sakiti, dia akan ingat sampai dia mati." Jeo menatap Rehan, kesal.


"Nadia itu masa depanmu, sedangkan Nesya adalah masalalu mu. Kamu harus bisa membedakan itu." Sudah sekian kali Jeo berkata seperti itu, tapi Rehan seakan menulikan telingannya.


***


"Tante..., aku pulang!" Teriak Vino, dia melangkahkan kakinya masuk kedalam rumahnya.


"Loh Vin, kamu pulang sama siapa?" Nadia celingukan mencari seseorang diluar. Setahunya dirumah ini tidak ada pembantu ataupun supir.


"Dianterin sama mama teman aku. Oh ya Tante, aku bawain ini buat Tante. Aku bilang sama mama teman aku, kalau aku akan punya adik kecil. Terus mama teman aku ngebeliin Tante ini." Nadia mengambil kantong plastik yang berisi beberapa buah-buahan.


"Oh ya? Baik sekali mama teman kamu. Sekarang kamu ganti baju, Tante tunggu kamu dibawah. Kita makan siang bersama-sama." Nadia mencium pipi chubby Vino dengan gemas.


Baru saja Nadia meletakkan buah-buahan kedalam baskom, karena ingin dia cuci. Dia mendengar mesin mobil memasuki perkarangan rumah Dokter Aksa.


Dokter Aksa menghampiri Nadia dengan langkah terburu-buru. Hal itu membuat Nadia mengerutkan keningnya bingung.


"Nad, apa Vino sudah pulang? Aku tidak menemukan dia di sekolah. Padahal gurunya bilang, sekolah sudah pulang sedari tadi." Tersirat nada cemas saat Dokter Aksa menanyakan tentang keberadaan Vino.


"Vino sudah pulang kok, Dok. Dia lagi ganti baju di kamar." Jawab Nadia santai, dia kembali mencuci buah-buahan yang dia pegang satu-persatu.


"Udah pulang? Pulang sama siapa? Biasanya saya yang jemput dia." Dokter Aksa masih terlihat panik.


"Sama teman sekelas aku. Tadi mama teman sekelas aku nawarin tumpangan, terus aku ikut dia. Soalnya aku udah kangen banget sama Tante Nadia. Aku tidak sabar pulang kerumah. Kalau nunggu papa ngejemput lamasih." Vino mendekat kearah Dokter Aksa. Tingkah dan keberanian putranya inilah yang membuat jantungnya sering ingin copot.


"Lain kali kamu harus menelpon papa dulu. Papa takut kamu hilang." Dokter Aksa memeluk putranya.


"Maaf pa, Heandpon aku tadi baterainya lowbat. Papa takut kehilangan aku, karena papa sudah pernah kehilangan mama?" pertanyaan polos yang Vino lontarkan membuat Dokter Aksa berdiri dari posisi berjongkoknya.


"Sudahlah, kamu duduk dimeja makan dulu sana. Papa dan Tante Nadia akan menyusul mu nanti." Vino mengangguk, dia meninggalkan Nadia dan dokter Aksa berdua di dapur.


"Buah dari siapa? Kamu tadi pergi membelinya? Kenapa kamu tidak menyuruh saya saja?" Dokter Aksa mengambil alih buah mangga yang Nadia cuci, sekarang giliran dia yang mencuci semua buah-buah itu.


"Tidak, ini buah pemberian dari mama teman Vino." Jawab Nadia sambil membuatkan Vino susu.


"Oh gitu, pokoknya kamu kalau butuh apa-apa bilang sama saya. Jangan sungkan." Nadia mengangguk, baginya dokter Aksa adalah malaikat penolongnya.


Nadia meletakkan susu dan berbagai makanan yang sudah dia masak keatas meja makan. Sekarang mereka bertiga sedang duduk dimeja makan, dengan Nadia yang sedang sibuk mengambilkan Nasi untuk Dokter Aksa dan Vino.


"Kamu mau makan bakso goreng atau ikan, sayang?" Tanya Nadia kepada Vino dengan bibir tersenyum.


"Bakso, aku mau bakso goreng." Jawab Vino, semangat. Nadia mengangguk, dengan bibir tersenyum.


"Kalau dokter?" Tanya Nadia, dia mengalihkan tatapannya yang semula menatap Vino, berganti menatap dokter Aksa.


"Saya apa aja." Jawab dokter Aksa tidak mau ribet. Dia bukan tipekal lelaki yang suka memilih-milih makanan dan berkomentar tentang makanan tersebut.


Mereka bertiga makan dalam diam. Hanya dentingan sendok dan piring yang beradu, hingga membuat suara gaduh dimeja makan itu.


"Suka deh sama Tante Nadia, berasa punya keluarga lengkap." Ucap Vino, tiba-tiba.


Uhuk.., uhuk...


Nadia meringis pelan, matanya tidak sengaja bertatapan dengan mata tajam milik Dokter Aksa.


"Diam, dan habiskan makanan mu." Suruh dokter Aksa, penuh penekanan. Bukannya takut, justru Vino malah tertawa kecil.