Possessive Husband

Possessive Husband
46 USG



Ketahuilah, Melody sekarang sedang bingung menghadapi kedua pasangan di depannya. Bahkan Danil yang sedang menemani Melody di ruang prakteknya karena Melody tadi pagi mengeluh kepalanya pusing, menjadi jengah sendiri.


Rehan dan Nadia sedang berdebat tentang USG, Nadia menginginkan anaknya di USG guna mengetahui jenis kelaminnya. Karena Nadia ingin segera berbelanja baju untuk anaknya. Sedangkan Rehan bersikeras untuk tidak usah USG, baginya laki-laki ataupun perempuan sama saja, yang penting sehat. Soal baju dan keperluan lainnya, Rehan berkata akan membelikan baju untuk anak perempuan dan laki-laki, jika anak mereka laki-laki, baju perempuan itu sumbangin ke orang yang membutuhkan, begitupun sebaliknya.


"Mubazir, buang-buang uang saja." Nadia tidak setuju dengan cara pemikiran suaminya. Dia akui suaminya itu kaya, namun dia tidak mau membuang-buang uang hanya untuk barang yang sama sekali tidak akan anaknya pakai.


"Demi anak, aku gak apa-apa." Rehan tetaplah Rehan, lelaki keras kepala yang sulit untuk di kalahkan.


"Aku tahu kamu ngelakuin itu buat anak kita, tapi aku tidak setuju dengan cara pemikiran kamu." Nadia menatap suaminya tidak suka.


"Masalah USG saja bertengkar." Cibir Danil yang sedang duduk di sofa ruang praktek Melody. Danil yang sedang bermain game di heandponenya merasa terganggu dengan perdebatan kedua pasangan di depannya.


"Tahu tuh." Nadia menatap sengit suaminya.


"Terus maunya ini gimana?" Melody menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia menatap kedua pasangan di depannya dengan kesal.


"USG."


"Enggak usah."


"USG."


"Gak usah."


"USG."


"Gak usah."


"USG"


"USG."


Nadia tersenyum penuh kemenangan ketika Rehan tidak sengaja menyebut nama USG. Sontak ketika menyadari ucapannya, Rehan langsung menutup mulutnya.


"Perempuan itu selalu menang. Buruan Lody, USG-in anak aku." Nadia terlihat antusias. Sedangkan Rehan menghela nafas kasar.


Melody menempelkan alatnya ke perut Nadia. Seorang bayi kecil tengah meringkuk di sana. Nadia, Melody, Rehan, dan Danil melihat dengan jelas bayi itu sedang bergerak-gerak.


"Anak kalian nanti perempuan. Akhirnya kamu punya teman masak juga ya, Nad?" Nadia tersenyum menanggapi ucapan Melody. Berbeda dengan Nadia yang tampak sumringah, Rehan malah menatap bayinya yang berada di layar monitor dengan tatapan sendu. Lelaki itu sama sekali tidak berkedip, matanya memanas ketika melihat bayinya bergerak.


"Sekarang bayi kamu sudah besar, Nad." Ucap Melody kepada sahabatnya.


"Udah Rey, gak perlu kamu tatap terus. Anak kamu gak bakal ilang kok." Canda Danil.


"Haaa....." Sontak Nadia, Melody, dan Danil tertawa melihat wajah Rehan yang mengeras.


"Kamu belum tahu bahagianya akan punya anak." Rehan menatap Danil sinis.


"Iya, iya, yang bentar lagi jadi papa." Sindir Danil sambil tersenyum.


Rehan mengedikkan bahunya, dia membantu istrinya turun dari brankar ruang praktek Melody.


"Bayinya sehat, begitupun dengan ibunya. Darah kamu juga normal, Nad. Cuma kamu gak boleh stres, karena itu bisa mempengaruhi kandungan kamu." Ucap Melody kepada Nadia dan Rehan.


"Gak apa-apa, asal tidak terlalu sering." Jawab Melody sambil tersenyum. Dari jarak yang sedikit jauh, Danil mendengarkan semua percakapan mereka, setidaknya ketika dia menjadi calon ayah nanti, dia bisa sedikit tahu apa yang boleh dan tidak boleh di makan oleh ibu hamil.


***


Sore ini Nadia sedang berbelanja di minimarket dekat rumahnya bersama dengan Rehan. Dia mau memasakkan sesuatu untuk Dokter Aksa, Dokter Dara, dan Vino. Rasanya tidak enak jika nanti tamunya datang, dan dia tidak mempunyai makanan untuk mereka.


"Sup daging karbau enak kali ya, Mas?" Nadia memilih-milih bahan makanan apa yang akan dia buat masak.


"Lebih enak lagi kalau makanan yang buat Aksa di kasih sianida." Jawab Rehan yang berhasil di beri tatapan tidak suka dari istrinya.


"Bercanda, sayang. Masak yang simpel-simpel aja, aku gak mau kamu kecapean." Cengir Rehan. Nadia kembali berjalan menyusuri tempat bahan makanan, dia melihat pisang yang sangat bagus untuk dimasak.


"Di pisang goreng enak nih." Gumam Nadia pelan.


"Ayam goreng kesukaan Vino, Sup jagung kesuksesan Dokter Aksa, dan..." Nadia memegang dagunya bingung.


"Udang krispi kayaknya Dokter Dara suka." Rehan yang melihat istrinya sibuk sendiri mencari bahan makanan memutar kedua bola matanya jengah.


"Yank..." Rengek Rehan, mulai bosan.


"Yaudah ayo." Rehan langsung mengambil alih troli yang Nadia pegang. Mereka berdua mengantri ke kasir dengan tenang.


"Maklum, pasangan baru, kalau udah lama juga belum tentu mau nganter istri belanja." Bisik ibu-ibu yang berada di belakang Nadia dan Rehan.


"Gak usah di dengerin." Bisik Nadia, ketika melihat kilat amarah dari kedua mata suaminya.


"Dasar ibu-ibu yang kerjaannya ngerumpiin orang." Desis Rehan yang di balas Nadia dengan garuk-garuk kepala.


***


Di dapur sangat heboh gara-gara Rehan yang tidak bisa mengupas kulit udang.


"Yang benar dong Mas, keburu mereka pada datang." Nadia sibuk mencuci ayam potong yang dia beli di minimarket.


"Alah, kerja kayak gini juga susah kalik, yank." Rehan menatap kesal Udang yang berada di tangannya. Lebih baik dia mengurus tumpukan berkas kerja dari pada memasak. Kalau tidak demi istrinya, mana mau dia berkutat di dapur seperti ini. Apalagi mengupas kulit Udang.


"Enak makan." Desis Rehan yang masih bisa Nadia dengar. Orang bodoh pun juga akan bilang enak makan, karena memasak itu susah.


"Kerjaan Mas Rehan selain ngeluh itu apa?" Tanya Nadia, melirik sinis suaminya.


"Mencintai kamu seumur hidupku." Nadia mendengus. Percuma ngomong sama raja gombal seperti suaminya, gak akan ada habisnya.


Rehan menatap punggung istrinya dari belakang. Dia akan sangat menyesal jika tidak bisa bertemu dengan istrinya dulu. Dia tidak akan bisa menikmati moment ketika istrinya hamil, ketika istrinya mual dan muntah di tengah malam, ketika istrinya mengeluh sakit di bagian kakinya gara-gara capek terus jalan pagi, dan ketika istrinya ngidam.


Rehan tidak pernah mempermasalahkan jika istrinya mengidam yang aneh-aneh. Dia selalu menuruti apapun yang istrinya inginkan. Ada satu hal yang Rehan sesali sampai saat ini, dimana saat Istrinya baru pertama kali di nyatakan hamil, dia tidak ada di sampingnya.


Tangan Rehan yang sudah dia cuci bersih, dia lingkarkan ke perut Nadia. Rehan menyembunyikan wajahnya di cekukan leher Nadia, seakan mencari tempat ternyaman disana.


"Mas, aku sedang masak." Ucap Nadia lembut, dia tahu, di balik sifat tegas dan galak suaminya, dia adalah tipe lelaki manja.


"Biarkan aku seperti ini dulu, aku nyaman ketika berada di dekatmu." Ucap Rehan, lembut.