Possessive Husband

Possessive Husband
45. Mengecat rumah



Weekend ini Rehan dan Nadia sedang mengecet kamarnya. Mereka mengecet kamarnya dengan warna kuning, lebih tepatnya Nadia yang memilih warna itu. Dengan alasan supaya kelihatan cerah seperti matahari. Rehan tidak memusingkan tentang warna cat dinding kamarnya, karena menurutnya warna kuning tidak terlalu jelek untuk di pandang sebelum tidur.


Nadia sedang memegang tangga yang di injak suaminya. Rehan sedang mengecat langit-langit kamarnya dengan warna putih.


"Yang rapi dong, Mas." Nadia menilai apa yang Rehan cat kurang rapi.


"Ini juga udah usaha biar rapi, Yank. Aku kan tidak tukang bangunan yang tahu masalah alur mengecat rumah." Balas Rehan. Nadia mendengus, sambil menggerutu pelan. Memangnya mengecat rumah itu ada alurnya?


Tluling..., tluling....


Suara dering heandpon milik Nadia berbunyi nyaring. Menandakan ada seseorang yang sedang menelponnya. Nadia berjalan hendak mengambil heandpon miliknya yang terletak di atas tempat tidur, namun...


"Eee...., yank, aduh..." Rehan goyang-goyang karena dia sedang mencoba mengimbangi tubuhnya. Dengan cepat Nadia kembali memegang tangga yang di injak suaminya.


"Hee..., Maaf Mas." Cengir Nadia, salah tingkah. "Aku angkat telepon dulu."


Nadia berjalan mengambil heandpon miliknya, sedangkan Rehan sedang membuat adonan Cat lagi di bawah.


Dokter Dara calling...


Nadia mengerutkan keningnya. Tumben dokter cantik itu meneleponnya. Tanpa fikir panjang, Nadia langsung mengangkat teleponnya. Dia tidak mau membuat dokter cantik itu menunggu.


"Hallo, Nadia?" Sapa seseorang dari seberang sana dengan nada riang.


"Hallo, Dokter, eh Dar, mbak, anu..."


"Dara saja." Kekeh Dara.


"Kesannya kayak gak sopan kalau aku manggil nama doang. Aku manggil Mbak aja, gak apa-apakan?" Nadia duduk di pinggir tempat tidurnya.


"Terserah kamu. Oh ya, Nad, aku, Aksa, dan Vino nanti malam mau nginep di rumah kamu boleh? Sekarang ini kita sedang berada di Jakarta untuk menghadiri seminar kedokteran. Kasihan Vino, dia kangen sama kamu." Nadia terdiam ketika mendengar ucapan Dokter Dara, dia melirik suaminya yang sedang menakar air agar catnya tidak terlalu cair dan tidak terlalu kental.


"Nad, apa kamu masih mendengarku?" Tanya dokter Dara dari seberangnya sana.


"Eh, dengar kok." Nadia terjengkit kaget ketika kembali mendengar suara dokter Dara. Dia berjalan mendekati suaminya yang sedang mengaduk-aduk cat.


"Mas..." Panggil, Nadia pelan.


"Hemm..." Rehan mendongakkan kepalanya keatas guna menatap wajah istrinya.


"Kalau misal Vino, Dokter Dara, dan Dokter Aksa tidur disini malam ini boleh?" Nadia bertanya sambil menjauhkan heandpone milikinya dari dirinya dan Rehan.


Tangan Rehan yang semula sedang mengaduk Cat, berhenti dengan tatapan datar. Dia tidak mengiyakan dan tidak melarangnya. Hal itu membuat Nadia bingung.


"Mas..." Nadia memegang pundak suaminya. Dia berjongkok di samping Rehan.


"Kalau Dokter Dara dan Vino mau tidur disini boleh, tapi kalau Dokter Aksa..." Rehan menjeda kalimatnya. Bukan dia tidak percaya dengan ucapan istrinya yang mengatakan dia mencintainya. Tapi tidak ada laki-laki yang mempersilahkan saingannya masuk kedalam rumahnya, apalagi menginap.


"Dulu dia yang nampung aku waktu kita bertengkar loh Mas." Nadia mencoba membujuk suaminya. Dia tidak enak kepada Dokter Aksa dan Dokter Dara ketika menolak mereka untuk tidur di rumahnya.


"Mas..." Panggil Nadia, pelan.


Rehan menghela nafas kasar. "Baiklah, asal kamu jaga pandangan mata kamu terhadap dia. Aku mau melanjutkan mengecat dulu. Bukankah nanti siang kita ada janji dengan Melody?"


"Terimakasih atas pengertiannya." Nadia mencium pipi Rehan, singkat.


"Bagaimana, Nad?" Desak Dokter Dara tidak sabar.


"Baiklah Mbak, aku tunggu kedatangan kalian. Sudah tahu alamat rumahku dan Mas Rehan kan?" Tanya Nadia memastikan.


"Sudah tahu kok. Btw udah dulu ya, aku lagi ngurus Vino. Assalamualaikum, Nad."


"Waalaikumsalam, mbak."


Tut..., Tut...


Sambungan telepon terputus. Nadia kembali mendekati suaminya.


"Setengah putih, setengah kuning Mas, bagus." Saran Nadia.


"Iya, aku juga tadi berfikir seperti itu." Jawab Rehan, singkat.


***


"Apakah nanti aku akan bertemu dengan Tante Nadia?" Vino terlihat antusias ketika mendengar nanti malam mereka akan menginap di rumah Nadia.


"Tentu, kamu bisa bertemu dengan Tante Nadia." Jawab Dokter Dara, seraya mencubit hidung mancung Vino.


Dokter Dara dan Vino terlihat antusias untuk tidur di rumah Nadia dan Rehan, berbeda dengan dokter Aksa yang murung. Kembali bertemu dengan Nadia, membuatnya resah. Entahlah, dia juga tidak tahu hatinya resah karena apa?!


"Pa, apa nanti Tante Nadia juga pulang bareng kita?" Dara yang sedang mengunyah makanannya sontak langsung tersedak. Sedangkan Dokter Aksa menatap putranya dengan bibir tersenyum samar.


"Tidak, nak." Dokter Aksa membawa putranya ke pangkuannya.


"Jika kamu satu hari tidak bertemu dengan papa, perasaan kamu bagaimana?" Dokter Aksa mengusap rambut putranya. Vino terdiam, dia mengerutkan keningnya tidak mengerti.


"Memangnya papa mau pergi kemana? Papa gak boleh pergi, nanti aku kangen papa." Vino memeluk papanya dengan mata memerah menahan tangis.


"Shut..., papa tidak pergi kemana-mana nak. Tapi harus kamu ingat, Tante Nadia juga punya keluarga, dia tidak mungkin pulang sama kita. Nanti kalau keluarganya kangen kayak Vino gimana?" Perlahan tapi pasti. Dokter Aksa memberi pengertian kepada putra satu-satunya yang dia miliki. Bibir Dokter Dara tersenyum ketika mendengar kalimat bijak yang keluar dari bibir Dokter Aksa.


"Dedek bayinya sama Tante Nadia punya keluarga?" Pertanyaan polos itu keluar begitu saja dari bibir Vino.


"Iya, dedek bayinya juga punya papa, kalau nanti Tante Nadia tidur di rumah kita lagi, nanti papa dedek bayinya nangis." Mengatakan hal itu sama saja meremas hatinya. Tapi mau bagaimana lagi? Anak di kandungan Nadia membutuhkan papa kandungnya. Dokter Aksa sadar, bahwa dia tidak bisa memisahkan anak dan papanya.


Telinga dan mata dokter Aksa tidak tuli dan buta. Dia selalu melihat Nadia merintih memanggil nama Rehan ketika tertidur. Hal itu sudah sering terjadi ketika Nadia tidur di rumahnya. Katakan saja kalau dirinya egois, dia tidak pernah mau tahu tentang siapa suami Nadia, karena baginya kehadirannya mampu menggantikan sosok suami Nadia. Tapi jujur, dirinya tidak tahu jika Nadia itu milik Rehan, pasiennya yang hampir mati dulu.


"Gak apa-apa gak ada Tante Nadia, kan masih ada Tante Dara. Iya kan Tante?" Dokter Dara tersenyum, dia merasa senang kehadirannya di hargai.


"Iya, sayang." Jawab Dokter Dara sambil tersenyum. Dokter Aksa melirik Dokter Dara sekilas. Dia menghela nafas kasar.


"Lanjutkan makan kamu." Dokter Aksa menurunkan putranya dari pangkuannya.


"Terus langsung ke rumah Tante Nadia kan, Pa?" Tanya Vino sambil melahap makanannya. Dokter Aksa hanya diam, melihat itu Dokter Dara langsung mendekati Vino.


"Iya dong sayang. Setelah makan kita langsung ke rumah Tante Nadia, kita tidur disana." Jawab dokter Dara, lembut.