Possessive Husband

Possessive Husband
47. Kumpul bersama



Malam ini Rumah Nadia dan Rehan sangat ramai karena kedatangan Vino, Dokter Dara, Dokter Aksa, Melody, dan Danil.


Nadia maupun Rehan tidak tahu jika malam ini Melody dan Danil juga datang kerumah mereka. Mereka bersyukur tadi sore sudah masak banyak makanan. Andai saja tadi sore mereka hanya memasak makanan khusus untuk 3 tamu mereka, pasti mereka akan malu kepada Danil dan Melody Karena tidak bisa memberi mereka makan.


"Enak, emang siapa yang masak, Nad?" tanya Dokter Dara, mencicipi udang krispi yang berada di meja makan.


"Mas Rehan, mbak." Jawab Nadia sambil tersenyum. Danil yang baru menggigit ayam goreng di samping Vino langsung tertawa keras.


"Kamu bisa masak, Rey? Haaa...., Jeo dan Luwis harus tahu ini." Danil tertawa puas ketika melihat wajah merah Rehan.


"Gak usah bacot." Rehan mengancam Danil dengan mengacungkan garpunya.


"Santai Bos, woles." Danil menurunkan garpu di tangan Rehan.


"Om ini mau perang-perangan?" Tanya Vino, polos.


"Mas, Nil," Tegur Nadia.


"Heee..., enggak." Cengir Danil, salah tingkah. Dokter Aksa yang melihat kelakuan absurd Mereka berdua hanya diam.


****


Danil, Dokter Aksa, Vino, dan Rehan sedang berada di sisi kolam renang. Mereka sedang bersantai disana. Suasananya sangat canggung, tapi Vino tidak perduli, anak laki-laki itu sedang bermain mobil-mobilan di pinggir kolam.


"Ahem..., ngopi enak nih." Danil memecah keheningan yang tercipta diantara mereka.


"Mulut kamu bisa diam gak, Nil?" Sindir Rehan, kesal.


"Kalian itu katanya dulu akrab banget. Kenapa sekarang seperti orang yang tidak saling kenal?" Danil menatap Dokter Aksa yang sedang mengawasi anaknya bermain. Sedangkan Rehan, dia sedang tiduran sambil bertumpu pada kedua lengan tangannya.


Kata Jeo dan Luwis, dokter Aksa dan Rehan sudah seperti saudara sendiri. Bahkan mereka juga saling bertemu untuk bersilaturahmi. Bahkan saat istri dokter Aksa meninggal dulu, Vino sampai di titipin ke kedua orang tua Rehan. Waktu itu Vino masih kecil, dia tidak akan mengingat semuanya.


Rehan bahkan tidak tidur, dia menemani dokter Aksa bagaikan adik dan kakak. Kedua orang tua dokter Aksa dan kedua orang tua Rehan bahkan sudah berteman akrab. Tapi semenjak insiden Nadia lebih memilih pulang bersama Dokter Aksa dari pada Rehan, Rehan mulai membenci dokter Aksa, dia menganggap dokter Aksa ingin merebut istrinya. Begitupun sebaliknya, semenjak dokter Aksa tahu bahwa Rehan itu suami dari Nadia, dia malah tidak pernah bertegur sapa dengan Rehan.


"Dia yang memulainya." Rehan melirik dokter Aksa dengan sengit.


"Apa aku pernah memaksa Nadia untuk bersamaku? Tidakkan? Kalau dia memilih bersamamu, walaupun aku menyukainya, aku juga tidak mempermasalahkan itu. Aku tidak seperti laki-laki yang berada di film-film yang merebut istri orang hanya karena dia mencintainya. Kalaupun aku menyukai istrimu, itu urusanku, yang terpenting aku tidak merebutnya darimu." Danil membenarkan ucapan dokter Aksa. Mencintai itu hak semua orang, kita tidak bisa mengendalikan perasaan kita sendiri. Kita tidak bisa memilih ingin mencintai siapa dan dicintai siapa. Selagi tidak merebut milik orang, hal itu masih di batas wajar.


"Kamu waras, Sa? Ngomong suka sama istri orang di depan suaminya?" Sinis Rehan, emosi.


"Dari pada aku ngomong di belakang kamu. Lagi pula aku tidak berniat merebutnya darimu." Jawab dokter Aksa, santai.


"Dari pada mencintai Nadia yang sudah berbadan dua, mending mencintai dokter Dara yang cantiknya tiada duanya." Sontak ucapan Danil membuat Dokter Aksa dan Rehan menatapnya.


"Heee..., bercanda." Cengir Danil.


***


Di dapur Nadia, Melody, dan Dokter Dara sedang bercanda. Dokter Dara sedang memblender jus alpukat, Nadia sedang sibuk menyiapkan cemilan kering, sedangkan Melody sedang sibuk menggoreng pisang goreng yang di beli Nadia tadi.


"Pantas, Mbak. Aku tuh sempat ngelihat Mbak kapan itu waktu ikut seminar kedokteran di Singapure. Ternyata Mbak dokter juga toh." Melody tersenyum kepada Dokter Dara.


"Oh ya mbak, gimana? Udah bisa ngerebut hatinya dokter Aksa belum?" Tanya Nadia antusias.


"Belum, Nad. Masih kayak dulu, dia cueknya kebangetan." Terlihat jelas bahwa dokter Dara mulai capek mengejar-ngejar cinta lelaki itu.


"Cinta di tolak, dukun bertindak. Dukunin aja, mandiin pakai kembang tujuh rupa. Udah tahu di taksir perempuan cantik kayak mbak Dara ini masih gak mau." Celetuk Melody yang asal bicara. Kadang Nadia berfikir, Danil dan Melody itu sama-sama cocok, karena mereka adalah tipekal orang yang humoris dan ceplas-ceplos.


"Aku maunya dia mencintaiku karena hatinya, bukan terpaksa, apalagi karena dukun gak jelas." Jawab Dokter Dara, pelan.


"Sabar Mbak, entar juga luluh sendiri hati Dokter Aksa kalau mbak dekati terus." Nadia mengusap punggung Dokter Dara simpati.


***


"Om Danil, kira-kira berapa bintang di langit sana?" Vino menunjuk bintang yang berada di langit dengan mata menatap Danil.


"Mana om tahu, Vin." Jawab Danil. Dia bukan dukun, peramal, atau cenayang yang bisa menjawab hal-hal aneh seperti itu.


"Kalau gitu, berapa buah mangga itu?" Tunjuk Vino pada pohon mangga yang dekat dengan kolam renang. Lagi-lagi Danil menggeleng.


"Om tidak tahu, Vin." Geram Danil.


"Kalau begitu biar aku panjat pohonnya, dan aku hitung buangnya." Mendengar ucapan polos Vino, membuat Nadia yang baru datang menghampiri mereka kesal.


"Sampai kamu benar-benar manjat pohon itu, Tante tidak segan-segan buat tarik telinga kamu." Ancam Nadia, yang di balas ringisan oleh Vino.


Dokter Aksa dan Rehan yang mendengar suara Nadia langsung menoleh ke belakang.


"Bawa cemilannya telat, kita udah mati kebosanan disini." Rehan menegakkan tubuhnya, dan menghampiri istrinya yang membawa berbagai kue kering dan juga cemilan.


"Wih, calon istri idaman bawa pisang goreng." Tanpa bertanya pisangnya panas atau tidak, Danil langsung mencomot pisang itu hingga spontan tangannya langsung melempar pisang itu kesembarang arah.


"Hufff...., panas." Danil mengibas-ngibaskan tangannya ke udara. Sontak karena kelakuannya yang ceroboh, membuat semua orang yang berada disitu tertawa.


"Dasar rakus." Desis Dokter Aksa.


"Ini alpukat, Dar?" Tanya dokter Aksa sambil meminum jus alpukat yang Dokter Dara bawa.


"Modus, udah tahu jus alpukat pakai nanya." Sindir Rehan sambil menggigit kue kering bawaan istrinya.


"Kalau sirik ngomong!" Sinis dokter Aksa.


"Ngapain sirik, nih..." Rehan mencium pipi Nadia lama.


"Enakan juga pas udah halal." Sontak kelakuan Rehan membuat Nadia malu.


"Yang jual racun jam segini masih bukan gak ya?" Tanya Danil sambil menatap dokter Aksa.


"Bukak, Ayo Nil kita beli." Mendengar gurauan Danil dan dokter Aksa semua orang tertawa.


"Nah, kalau akur ginikan senang ngelihatnya." Melody tersenyum ketika melihat tawa mereka.