Possessive Husband

Possessive Husband
49. Cerita mertua



Pagi ini Nadia bertandang ke rumah Eva, dia merindukan suara cerewet mertuanya. Tentunya Rehan yang mengantar dirinya. Suaminya itu sungguh over protektif, dia tidak memperbolehkan dirinya mengendarai mobil sendiri. Hanya dengan alasan dirinya nanti bisa kecapean menyetir. Terlalu berlebihan memang.


Para ibu-ibu sedang berkumpul di rumah mertuanya, Nadia yang baru saja selesai menata kamar suaminya, keluar rumah gara-gara mendengar gelak tawa ibu-ibu itu.


"Yang jelas Rehan beruntung sekali memiliki istri secantik Mbak Nadia. Mana kelihatan muda banget lagi." Nadia yang berdiri di abang pintu tersenyum tipis. Eva yang menyadari kehadiran menantunya menyuruh Nadia duduk di kursi.


"Gak enak Ma, semua ibu-ibu disini duduk di bawah, masa aku duduk di atas. Kesannya kayak gak sopan." Nadia menatap ibu-ibu yang duduk di bawah dengan tatapan canggung. Dia sudah biasa melihat ibu-ibu ini berada di rumah mertuanya ketika pagi, karena mereka semua sedang menunggu tukang sayur datang.


"Gak apa-apa, Mbak. Kita itu duduk di bawah biar enak nanti kalau ada Mang sayur bisa langsung kesana. Lagian mbak Nadia sedang hamil, gak enak duduk di bawah, repot." Jelas ibu-ibu yang memakai baju abu-abu kepada Nadia.


"Iya, nak. Duduk, duduk. Kalau kamu kenapa-napa, sudah pasti mama di omelin Rehan." Eva menekan pundak menantunya pelan. Dia menyuruh menantunya duduk di kursi.


"Enak ya Mbak Nadia, hamil masih di tungguin suami. Anak saya baru hamil langsung di tinggal merantau suaminya di Kalimantan untuk mencari biaya persalinan." Nadia menanggapi ucapan ibu-ibu berambut keriting itu dengan senyuman. Dia memang bersyukur ketika hamil di temani suaminya, karena jika tidak ada suaminya itu, dirinya tidak bisa membayangkan betapa repotnya dirinya ketika harus muntah mencium susu hamil, mual di pagi hari, bahkan membeli beberapa makanan dan barang saat mengidam.


"Iya, apalagi waktu setelah nikah langsung punya rumah sendiri, beda sama anak dan mantu saya, mereka sampai sekarang masih ngontrak." Nadia membenarkan ucapan ibu-ibu itu, dia memang bersyukur karena Allah memberikan kelancaran pada usaha suaminya.


"Iya, Bu. Alhamdulillah, Mas Rehan di beri kelancaran pada kerjaannya." Balas Nadia, sopan.


"Itu juga berkat doa kamu sayang." Timpal Eva, sembari mengusap pundak menantunya.


***


Rehan menatap jengah kedua pasangan di depannya yang sedang menebar kemesraan. Di kantin kantornya, Luwis dan Kinan sedang saling suap, hingga membuat Rehan ingin menenggelamkan mereka ke laut antena.


"Doain aku biar lancar ngelamar Kinan nanti malam." Luwis menyendok makanannya dengan bibir tersenyum.


"Kamu ngelamar Kinan gak ngundang aku sama Nadia?" Rehan memincingkan matanya. Luwis menatap Kinan dan Menggegam jemarinya.


"Gak usah tebar kemesraan di depanku. Aku sudah tahu kalau Kinan itu milikmu." Desis Rehan, dia jengah melihat kelakuan kedua pasangan di depannya. Kinan tersenyum canggung, dia menundukkan kepalanya.


"Jangan nunduk sayang, nanti mahkotamu jatuh." Rehan mendengus, dia memutar kedua bola matanya malas.


"Buaya darat beraksi." Cibir Rehan, yang di balas oleh Luwis dengan tertawa.


"Jangan mau, Kinan. Luwis itu play boy, buat acara meriah, biar semua orang tahu kalau dia milikmu. Jadi kalau ada perempuan yang mendekati dia dan bilang kalau dia tidak tahu kalau Luwis sudah bertunangan denganmu, gampar aja pakai sepatu kamu." Rehan bagaikan iblis yang sedang menghasut Kinan.


"Lagi pula lelaki tajir kayak Luwis itu memiliki banyak uang untuk di buat menyewa gedung dan mengadakan sebuah acara pertunangan mewah." Luwis melotot kepada Rehan.


"Saya percaya sama Mas Luwis kok Pak, kalau dia benar-benar serius sama saya, dia pasti bisa menjaga perasaannya buat saya." Kinan menatap wajah Luwis dengan bibir tersenyum.


"Iblis kayak kamu gak akan bisa menghasut otak cantik bidadari ku." Luwis mencium tangan Kinan dengan lembut.


"Terserah!" Putus Rehan akhirnya.


***


"Ini tuh foto Rehan sewaktu kecil, Nak. Dulu sampai sekarang kami selalu manjain dia, karena dia anak satu-satunya yang kami miliki. Dulu mama sempat mau punya anak lagi, tapi mama mengalami kecelakaan jatuh dari tangga Sehingga mama keguguran, dan rahim mana di angkat. Mama sangat sedih dulu, tapi Rehan menguatkan dan menyadarkan mama, bahwa mama masih punya dia." Nadia tersenyum menanggapi cerita mama mertuanya. Pantas saja suaminya kalau di rumah mamanya bagaikan anak kecil, ternyata ini toh alasannya.


"Mas Rehan waktu kecil lucu ya, Ma?" Nadia menunjuk foto suaminya yang sedang menatap sinis papanya.


"Iya, itu tuh waktu Rehan mau pergi main, roda sepadanya papanya gembesin. Jadi dia ngambek. Mama sampai ke ingat wajah dia kalau lagi marah jika di jahilin papanya. Nanti anak kamu juga pasti ngambekan kalau punya papa jahil seperti Rehan." Nadia tersenyum tipis, suaminya memang sangat jahil. Tapi dirinya mencintai suaminya tanpa mempermasalahkan hal itu.


"Untung anak aku perempuan, Ma. Jadi nanti gak ikut-ikutan papanya jahil." Cengir Nadia.


"Perempuan? Mama ada temannya belanja dong. Soalnya kalau anak laki-laki itu sibuk, Nak. Pagi di suruh mamanya nemenin belajar, bilang mager. Siang di suruh nganter mamanya arisan, bilang males. Sore di suruh nemenin mamanya nonton televisi, malah pergi main. Dan malamnya kalau di ajak ngobrol mamanya, malah main game di kamar. Kalau anak perempuankan tidak." Ucap Eva, sumringah. Nyatanya begitu, Mengandalkan anak laki-laki untuk di ajak bersantai sambil menikmati teh di sore hari itu susah, selalu saja ada alasannya.


"Iya, Ma. Aku juga senang ada teman masak." Nadia mengusap perutnya yang tidak terlalu besar. Bahkan dia sering meringis ketika tendangan-tendangan kecil dari anaknya dia rasakan.


"Cucu nenek pasti cantik. Gak sabar nenek ketemu kamu." Eva mengusap perut Nadia.


"Mama mau gendong dia kalah lahir. Maklum, mama gak punya anak perempuan. Jadi mama senang waktu kamu bilang kalau anak kamu ini perempuan." Ucap Eva, senang. Nadia bersyukur memiliki mama mertua seperti Eva, setidaknya wanita paruh baya itu sangat perhatian kepadanya. Dia selalu menjaga dirinya ketika suaminya kerja di kantor dan pulang larut malam. Mama mertuanya itu seperti mama kandungnya, dia menjaganya tanpa mengeluh.


"Makasih, Ma. Mama udah sayang sama aku dan calon anak aku dan Mas Rehan." Nadia memeluk mama mertuanya. Rasanya hangat ketika Eva mendekapnya.


"Sama-sama, sayang." Nadia meneteskan air matanya, dia merindukan mamanya. Tapi berkat mama mertuanya, rindunya terhadap mamanya bisa terobati.