
Malam ini Nadia sedang duduk di atas tempat tidur, tentunya setelah sholat isya' berjamaah dengan suaminya. Rambut panjang Nadia, dia kuncir asal. Dia sedang melihat-lihat nama bayi lucu yang tertera di layar heandpone miliknya.
Tapi tiba-tiba suaminya yang baru saja selesai mengaji, meniup pucuk kepalanya dengan bibir seperti membaca sesuatu.
Rehan beralih menatap perut istrinya, dia mencium perut buncit itu. Bibirnya tersenyum, dia memang sedang menantikan seorang anak, dan Allah dengan baik hatinya menitipkan seorang anak kepadanya dan istrinya dengan cepat.
"Jadi anak yang baik, ya nak. Jangan membuat ibumu capek." Rehan mengusap perut Nadia, pelan. Hal itu membuat Nadia terdiam karena merasakan hangatnya sebuah usapan tangan Rehan.
"Kamu sudah minum susu?" Tanya Rehan, seraya melepas sarungnya. Sekarang dia hanya mengenakan baju putih polos dan celana Boxer.
"Belum, Mas." Tanpa menunggu perintah Nadia untuk membuatkan dirinya susu, Rehan sudah keluar dari kamarnya untuk membuatkan istrinya susu hamil.
Tidak butuh waktu lama, Rehan kembali kedalam kamar dengan membawa segelas susu hamil rasa coklat dan potongan buah apel.
"Aku minum susunya nanti ya? Aku gak takut muntah." Nadia menutup mulutnya, serta menatap satu gelas susu hamil di tangan suaminya dengan ekspresi ingin muntah.
"Sini," Nadia hanya menurut. Dia mendekat kearah suaminya. Rehan menahan hidung Nadia, dia menyodorkan segelas air susu kedalam mulut istrinya dengan perlahan. Setelah susunya habis, Rehan mengusap bibir istrinya lembut.
"Gimana? Masih ingin muntah?" Tanya Rehan, sembari tersenyum kepada istrinya. Nadia menggeleng, aneh sekali.
"Biasanya aku selalu muntah kalau abis minum susu, tapi kok ini..."
"Kan aku papanya, jadi dia mungkin merasakan hangatnya kasih sayangku. Jadi kamu gak mual atau muntah." Nadia terdiam, apa yang dikatakan suaminya benar? Sebelumnya saat dia dirumah dokter Aksa, dia tidak sanggup jika harus menghabiskan segelas susu hamil, tapi sekarang....
Rehan menyuapi Nadia potongan apel dengan telaten. Dia membelai rambut istrinya penuh sayang. Saat sepiring kecil potongan apel habis, Rehan meletakkannya keatas nakas kamarnya. Dia membaringkan tubuh istrinya dengan kepala Nadia bertumpu pada lengannya.
Nadia menjauhkan tubuhnya dari Rehan. "Nanti lenganmu sakit, aku sekarang berat loh."
Bibir Rehan tertawa kecil dikala mendengar ucapan istrinya." Sini, jangan jauh-jauh.".
Nadia kembali mendekat kearah suaminya, dia terus bergerak di dada bidang suaminya, seakan mencari tempat ternyaman disana.
"Sebenarnya besok aku harus pergi ke Bali untuk memantau proyek pembangunan hotel kita yang disana. Tapi melihatmu lemas dan sering muntah, membuatku tidak tega untuk meninggalkan kamu sendiri di rumah." Rehan mengusap punggung istrinya, itu sudah menjadi kebiasaannya untuk membuat Nadia segera tidur.
"Pergilah, nanti aku bisa tinggal sementara di rumah Mama Eva." Nadia menatap wajah suaminya, dia membelai rahang tegas lelaki yang berhasil membuatnya kelimpungan karena hatinya.
"Argg..., Tangan kamu sayang." Nadia terkekeh ketika berhasil menyiksa hasrat suaminya. "Aku tidak percaya dengan semua orang, aku ingin menjaga kamu dan anak kita sendiri. Lagi pula aku sudah menyuruh Kinan dan Luwis untuk memantau proyek perhotelan kita di Bali. Biarin mereka PDKT sekalian. Kasihan Kinan, udah dekat tapi belum juga dikasih Luwis kepastian."
Nadia mengangguk, dia membenarkan ucapan suaminya.
"Kayak jemuran ya, Mas? Digantung." Kekeh Nadia, seraya membenamkan wajahnya di dada bidang milik suaminya.
***
Pagi ini Rumah Rehan dan Nadia ramai dengan datangnya Eva, mama Rehan. Bram tidak bisa menemani istrinya, karena harus mengurus perusahannya.
"Kalau sampai Rehan ceroboh dan meninggalkan kamu lagi sayang, mama pastikan dia tidak akan ketemu kamu lagi." Eva menatap putranya tajam. Dia memakan sayur bayam dengan lahap.
Nadia tersenyum, dia memakan makanan pemberian mama mertuanya dengan malas. Sayur bayam, semur ayam, dan telur rebus setengah matang, membuatnya mual.
"Bisakah aku nanti makan Ikan belut sambal hijau?" Bisik Nadia, kepada suaminya.
"Gak boleh!" Jawab Rehan tegas.
"Sayang..." Rehan menegur ucapan istrinya.
"Baik, komandan." Cengir Nadia, seraya mengigit sayur bayam. Sontak tingkah absurd Nadia membuat Rehan tertawa.
"Kalau begitu aku berangkat kerja dulu." Pamit Rehan. Nadia mengangguk, dia mencium punggung suaminya.
"Ma, Rey berangkat kerja dulu." Rehan berpamitan kepada mamanya.
"Kerja yang benar, jangan bikin ulah. Udah mau jadi ayah juga banyak tingkah." Rehan mengangguk, ketika mendengar tausiah mamanya di pagi hari.
Setelah Rehan pergi, Eva menghampiri menantunya yang sedang mencuci piring.
"Aduh sayang, sekarang kamu duduk. Biar mama yang nyuci piringnya. Rehan itu bagaimana, istri hamil kok gak di cariin pembantu. Apa gajinya itu kurang untuk menyewa satu pembantu?" Bibir Eva tidak henti-hentinya mendumeli putranya yang sudah berangkat kerja.
"Gak usah, Ma. Ini tinggal dikit kok. Lagi pula aku sendiri yang melarang Mas Rehan ambil pembantu. Aku ini seorang istri, jadi sudah tugasku untuk mengurus rumah dan keluarga." Jawab Nadia, mampu membuat Eva tertegun.
"Beruntung sekali Rehan memilikimu, Nak." Eva memeluk menantunya, lembut.
****
"Mau bulan madu ya mas?" Luwis yang tadinya ingin memesan dua kamar, langsung dia urungkan ketika mendengar ucapan sang Resepsonis.
"Tentu, kita kan pengantin baru." Jawab Luwis sambil tersenyum.
"Saya pesan 1 kamar." Mendengar ucapan Luwis, Mata Kinan langsung melotot.
"Tapi, Pak." Luwis memeluk pinggang ramping Kinan, posesif.
"Jangan panggil aku Pak dong sayang. Kita kan belum punya anak." Luwis mengerlingkan matanya, hal itu membuat resepsonis di depannya tersenyum.
"Romantis sekali kalian." Puji resepsonis itu sambil memberikan kunci kamar kepada Luwis.
"Tentu, terimakasih kuncinya." Luwis menarik koper kecilnya dan Kinan. Mereka berdua berjalan masuk kedalam lift dengan tangan Luwis masih bersarang di pinggang Kinan.
"Pak Luwis itu apa-apaansih?" Kinan keluar dari dalam lift lebih dulu. Dia meninggalkan Luwis sendiri.
"Mau ninggalin, tapi gak ngambil kunci dulu. Dasar perempuan, ngambek dulu, baru balik lagi." Luwis menggeleng-gelengkan kepalanya.
****
Melody terpaksa harus mengundur pernikahannya ketika hari ini Abang sepupunya harus di larikan ke Singapura untuk pemulihan mentalnya bersama Dokter Amira. Melody sendiri tidak bisa menemani Abang sepupunya karena tugasnya yang menjadi Dokter anak sekaligus Dokter kandungan disini.
Pesawat Garuda yang di tumpangi oleh Dokter Amira dan Dimas baru saja terbang landas 5 menit lalu.
"Aku berharap ada kabar baik setelah kepulangannya." Melody menatap sendu bandara Soekarno-Hatta.
Danil tersenyum, dia menggegam tangan Melody untuk masuk kedalam mobil.
"Percayalah sayang, Bang Dimas pasti akan kembali dengan kabar baik. Bukankah disana ada Dokter Amira yang selalu menjaganya?" Danil menggegam tangan Melody yang sedang berkeringat memikirkan Abang sepupunya.
"Semoga saja, karena aku mau dirinya hadir di pernikahan kita nanti." Melody terdiam, dia memeluk Danil dengan erat.