Possessive Husband

Possessive Husband
43. Di gantung.



Nadia membuka matanya, dia meregangkan otot-ototnya, bibirnya tersenyum malu ketika mengingat percintaannya dengan suaminya tadi malam. Dia memang sering bercinta dengan suaminya, tapi tadi malam dia melakukannya dengan dasar cinta, tanpa paksaan.


Nadia bergegas masuk kedalam kamar mandi untuk segera mandi. Tubuhnya sudah sangat lengket gara-gara tadi malam.


"Mencintaimu adalah kewajiban yang selama ini tidak pernah aku lakukan." Ucap Nadia sambil mengguyur tubuhnya.


***


Dimas menatap jalanan Singapure dari lantai 3 kamar rawatnya. Tatapannya kosong, hal itu membuat Dokter Amira kasihan.


"Kenapa lelaki setampan dia harus menderita depresi hanya karena satu perempuan. Memangnya perempuan itu secantik apa?" Gumam Dokter Amira. Dia berada di belakang tubuh Dimas dengan tatapan sendu.


"Nad..." Air mata jatuh begitu saja dari kedua kelopak mata Dimas. Dia mencengkram jendela kamar rawatnya dengan tatapan sendu. Kemudian dia berbalik dan tertunduk di lantai kamar rawatnya.


"Kamu tidak apa-apa? Apa yang kamu rasakan?" Dokter Amira menghampiri Dimas, dia menggegam tangan lelaki itu. Dimas terdiam, dia menatap Dokter Amira datar.


"Pergi kamu, kamu bukan Nadia. Pergi, Pergi, Pergi.." Dokter Amira perlahan mundur. Dia ikut meneteskan air matanya.


"Sebegitu cintanya kah dia dengan perempuan itu? Beruntung sekali perempuan itu, dia dicintai lelaki setampan dan sebaik Dimas." Gumam Dokter Amira, sendu.


***


Nadia mengerutkan keningnya, dia mengambil note kecil yang berada di pintu kulkasnya.


Untuk istriku.


*Maaf aku tidak bisa menemanimu sarapan, tapi aku sudah menyiapkan kamu sarapan dan membuatkan kamu susu hamil di meja makan. Aku harus segera ke bandara untuk menjemput Luwis dan Kinan.


Dari, Suamimu*.


Nadia tersenyum, dia menggegam note kecil yang berada di tangannya dengan perasaan bahagia.


"Kalau mencintainya sebahagia ini, kenapa tidak dari dulu saja aku mencintainya?" Gumam Nadia. Dia menyesal karena sudah menutup mata dan hatinya. Suaminya sudah baik padanya, namun dirinya malah mengabaikan semua perhatian dan rasa cinta suaminya.


Nadia membuka tudung saji yang berada di meja makan. Bibirnya memberengut dikala melihat Sayur hijau dengan kentang rebus serta ikan, telur, dan jangan lupakan irisan kecil buah-buahan.


"Hufff..., lagi-lagi aku harus memakan ini." Nadia menatap makanannya tanpa nafsu.


***


"Lama banget kamu jemput kita, Rey. Kita hampir mati kebosanan gara-gara nunggu kamu datang." Luwis berdecak kesal ketika mendapati sahabatnya belum berada di parkiran bandara ketika pesawatnya sudah turun.


Rehan menghela nafas pelan, bagaimana dia bisa menjemput Luwis dan Kinan tepat waktu, jika sepanjang malam tadi dia tidak tidur karena bercinta dengan istrinya.


"Kinan aja tidak protes, kamu yang laki-laki ngomel-ngomel kayak perempuan yang lagi PMS." Cibir Rehan.


"Kinan lagi sariawan, makanya dia gak bisa ngomong. Ya kan, Kinan?" Luwis mengerlingkan satu matanya kepada Kinan. Sedangkan Kinan malah memejamkan matanya, dia mengacuhkan Luwis begitu saja.


"Sebagai kekasih yang tak dianggap aku hanya bisa..."


Luwis langsung menarik kerah kemeja Rehan dari belakang ketika lelaki itu meledaknya.


"Haaa..., Wis, Wis, Bilang cinta aja susah." Cibir Rehan, tertawa keras.


****


"Assalamualaikum..." Meli berteriak di depan pintu rumah anak dan menantunya. Dia membawa makanan untuk Nadia.


"Sopan sekali, mama baru datang langsung di beri pertanyaan." Sindir Meli, sinis.


"Silahkan, masuk." Nadia berjalan lebih dulu ke ruang tamu. Dia menatap rantang makanan yang mamanya bawa.


"Jangan kamu tatap terus rantang makanan yang mama bawa. Mama tidak akan menaruh racun di dalamnya." Nadia memalingkan wajahnya, dia kembali menghela nafas panjang.


"Mama tidak mau basa-basi, mama kesini mau ngundang kamu makan malam, lebih tepatnya papa kamu yang mengundang." Meli menyilangkan kedua kakinya dengan angkuh. Hal itu membuat Nadia tidak suka.


"Kapan?" Tanya Nadia seraya memincingkan matanya.


"Nanti malam! Sudahlah, mama mau pergi arisan. Oh ya, jangan lupa kalau kesana bawa hadiah untuk mama dan papa, jangan cuma bisanya numpang makan." Setelah mengatakan itu, Meli pergi dari rumah Nadia. Jika bukan karena papanya yang mengundangnya makan malam, dia malas datang.


"Ibu tiri, jangan sampai anakku merasakan apa yang aku rasakan." Nadia mengusap perutnya lembut.


Nadia kembali ke kamarnya, dia mengelap semua album fotonya bersama Rehan yang sedikit berdebu.


Mata Nadia menangkap sendal dan sepatunya yang sudah tidak terpakai. Nadia mengambilnya, lalu dia membawanya ke gudang. Mata Nadia menatap berbagai warna cat yang pernah dia dan Rehan beli dulu. Ternyata semua Cat itu di simpang suaminya di gudang.


"Aku kira dia buang." Nadia meniup debu yang berada di atas wadah cat itu.


"Uhuk..., uhuk...," Debu-debu itu membuat dada Nadia sesak.


"Mas, Mas, bukannya di buat ngecat rumah, kok malam disimpan disini." Nadia menggelengkan kepalanya pelan.


***


Rehan memutar matanya jengah ketika melihat kedua pasangan di depannya sedang berdebat. Kelakuan mereka berdua membuat Rehan merindukan Istrinya.


"Emmm..., enaknya." Udang yang hampir masuk kedalam mulut Kinan, di rebut paksa oleh Luwis.


"Bukannya tadi Pak Luwis bilang tidak suka dengan udang?" Kinan menatap Luwis dengan sorot mata tajam. Luwis meringis, dia kembali memakan kepiting super pedas pesanannya.


"Heee..., aku gak suka kok, cuma incip-incip doang." Cengir Luwis yang di balas Kinan dengan dengusan.


"Eh Rey, Jeo kemana? Kemarin dia aku telepon buat ngasih saran tempat-tempat indah yang berada di Bali malah gak di angkat." Luwis merasa kesal dengan Jeo. Gara-gara Jeo tidak mengangkat teleponnya, dia tidak jadi jalan-jalan dengan Kinan.


Luwis memang tahu beberapa tempat indah di Bali, tapi dia tidak setahu Jeo.


"Lagi ngejar-ngejar Gita." jawab Rehan, santai.


"Mereka balikan?" Luwis memincingkan matanya, terkejut.


"Entah, aku tidak tahu." Rehan mengedikkan bahunya. Percintaan Jeo itu sangat rumit. Jeo sudah dekat dengan beberapa perempuan, tapi nyatanya dia kembali lagi dengan mantan kekasihnya.


"Jeo itu laki-laki apa bencong? Kalau suka langsung datangi rumahnya, pakai acara ngejar-ngejar tuh perempuan." Luwis berkata dengan santai.


"Lah apa kabar sama kamu, Wis? Udah tahu cinta tapi tidak mau mengakui. Mengekang, tanpa memberi kepastian. Berlagak seperti seorang kekasih, tapi nyatanya hanya sebatas atasan dan bawahan. Lucu!" Sindir Rehan. Kinan menunduk dalam, dia tampak diam sambil mengigit udangnya.


"Buat perempuan sepesyal harus memilih hari sepesyal juga buat ngungkapin perasan ke dia dong." Luwis melirik Kinan yang hanya terdiam.


"Jangan mau di gantung, Kinan. Kayaknya pegawaiku ada yang ganteng. Kamu mau?" Sontak pertanyaan Rehan yang di layangkan kepada Kinan, membuat Luwis emosi.


"Rumah kamu belum pindahkan, Kinan? Nanti aku kesana." Luwis menyugar rambutnya kebelakang.


"Numpang minum, apa ngasih kepastian?" Ledek Rehan, yang semakin membuat Kinan malu.