Possessive Husband

Possessive Husband
42. Dimanja suami



Nadia menekuk wajahnya. Dia sudah berdandan lama, tapi dengan seenaknya suaminya itu merusak make up yang dirinya kenakan. Rehan, lelaki itu langsung mengusap bibir Nadia yang terlihat sangat sexsy dengan lipstik merahnya. Lelaki itu mengomel sepanjang perjalanan menuju pusat pembelanjaan terbesar di Jakarta, apalagi kalau bukan Mall.


"Kamu ingin membuat laki-laki diluar sana mencuri pandang padamu? Begitu?" Terdengar Nada tidak suka dari bibir Rehan. Dia tidak suka kecantikan istrinya dinikmati oleh Lelaki lain. Baginya hanya dirinya yang boleh menikmati tubuh dan juga kecantikan istrinya. Bahkan ketika ada lelaki yang menatap Istrinya, dia juga tidak rela. Miliknya hanya boleh disentuh dan dinikmati dirinya.


Biar semua orang menilai dirinya sebagai suami yang sangat overprotektif kepada istrinya. Dia tidak perduli. Lagi pula seharusnya para perempuan itu bersyukur ketika suaminya memberi perhatian lebih kepadanya, dari pada acuh tak acuh.


"Terus Make up di rumah yang sebanyak itu buat apa?" Nadia berdecak kesal. Kalau dirinya tidak boleh untuk make up, kenapa suaminya itu membelikan dia berbagai make up mahal yang harganya mencapai jutaan?


"Ya untuk kamu pakai. Tapi kamu hanya boleh pakai saat dirumah, bukan di luar." Jawab Rehan, penuh penekanan. Nadia menatap suaminya kesal, dia lebih memilih diam untuk mengalah.


"Terserah!" Putus Nadia Akhirnya. Rehan tersenyum samar, kemudian dia membukakan pintu mobil untuk istrinya.


"Silahkan keluar Nyonya Rehan Mahendra." Bukannya tersanjung, Nadia malah Menatap suaminya kesal.


"Sok manis." Nadia keluar dari mobil Rehan. Dia menggandeng tangan Rehan dengan sorot mata tajam. Seakan menegaskan bahwa lelaki di sampingnya itu miliknya.


Mata Nadia berbinar ketika melihat beberapa pakaian untuk ibu hamil yang terpajang rapi di depannya. Nadia memekik senang, dia menatap suaminya.


"Ambilah, akan aku bayar semua barang yang kamu ambil." Sontak ucapan Rehan membuat senyum Nadia yang sempat hilang kembali terbit. Perempuan itu mengetuk-ngetuk dagunya untuk memilih baju mana yang akan dia ambil?!


Baru saja Nadia ingin memegang baju hamil yang sangat pas ditubuhnya, Rehan langsung melotot tajam.


"Cari yang agak longgar, anakku bisa sesak nafas nanti." Nadia berdecak pinggang di depan suaminya. Apanya yang akan sesak nafas?


"Dia tidak akan sesak nafas, Mas." Tekan Nadia, kesal. Kenapa laki-laki disampingnya sangat bawel jika itu menyangkut anaknya?


"Tetap saja aku tidak mengijinkan kamu membelinya. Beli apa yang sekiranya membuatmu nyaman." Rehan menatap istrinya dengan tatapan teduh. Mungkin semua orang akan tahu bahwa laki-laki itu sangat mencintai istrinya. Kedua perempuan penjaga baju di Mall itu tersenyum malu-malu ketika sorot mata Rehan tidak sengaja menatapnya. Hal itu membuat Nadia tidak suka.


"Yang penting nyaman? Walau tidak cantik?" Nadia melirik suaminya, Rehan tersenyum, dia menganggukkan kepalanya singkat.


"Pulihkan," Rengek Nadia, seraya merangkul lengan Rehan.


Tubuh tegap Rehan berjalan menyusuri pakaian ibu hamil, dia membeli beberapa baju yang sekiranya tidak terlalu ketat ketika di pakai istrinya.


"Tolong total semuanya." Suruh Rehan kepada para penjaga baju itu. Nadia menggigit ujung bibirnya, kira-kira berapa uang yang akan suaminya keluarkan untuknya?"


"Tenang, aku tidak akan bangkrut hanya untuk membelikan istriku baju hamil." Rehan seakan bisa membaca pikiran Nadia. Dia Menggegam tangan Nadia menuju kasir. Tangan Rehan tanpa ragu memberikan kartu ATM nya kepada kasir.


Setelah membeli baju hamil, keduanya berjalan menyusuri Mall. Nadia melirik suaminya yang sedang berjalan menggegam tangannya sambil bermain heandpone miliknya.


"Apa kita tidak sebaiknya membeli baju untuk calon anak kita?" Nadia mendongakkan kepalanya, dia menatap suaminya dengan ekspresi ragu.


"Tidak perlu, nanti kalau sudah 7 bulan saja." Jawab Rehan, seraya kembali berjalan. Kaki Nadia berhenti di sebuah restoran Jepang. Sontak ketika Nadia berhenti, Rehan juga berhenti.


"Cari restoran lain." Rehan kembali berjalan. Dia tidak mengizinkan istrinya memakan makanan sembarang.


Mata Nadia membelalak ketika suaminya berhenti di restoran pre-chiken.


"Di rumah ayam, masa disini juga ayam." Gumam Nadia yang sudah pasti masih Rehan dengar.


"Karena kamu butuh ayam untuk mengimbangi semua makanan yang sudah kamu makan." Jawab Rehan, yang dibalas dengusan oleh Nadia.


***


"Kamu lihat sunset itu?" Tunjuk Jeo, kepada mantan kekasihnya. Gita terdiam, tapi matanya menatap apa yang sedang Jeo tunjuk.


"Dia memang menghilang ketika ingin beranjak malam, tapi seenggaknya dia kembali muncul lagi untuk menemani sang Surya." Perkataan Jeo mampu membuat Gita bungkam. Gita menunduk sambil bermain pasir di kakinya. Dia tahu, Jeo sedang menyindirnya lewat kata-kata itu. Dirinya yang menghilang tiada kabar, lalu memutuskan hubungan dengannya demi karir, membuat lelaki dingin disampingnya semakin terasa dingin.


"Teka-teki saja pasti punya ujung untuk ditebak, lalu apa hubungan kita ini tidak punya ujung untuk kembali bersama?" Jeo memang selalu berbelit, dia tidak mengatakan secara langsung inti pembicaraannya.


"Tunggu tulisanku selesai." Jawab Gita, sendu.


"Bukankah aku sudah sering menunggu? Dan kamu hanya memberikan aku janji." Sinis Jeo, begitu tajam.


"Maaf, Je." Gita beranjak dari duduknya, dia berlari meninggalkan Jeo sendiri.


Jeo menatap lurus kedepan, dia membiarkan Gita pergi meninggalkan dirinya. Bukankah dia sudah terbiasa ditinggalkan? Lalu dia harus menunggu tanpa status yang jelas.


***


Nadia merebahkan tubuhnya keatas kasur empuknya. Setelah muter-muter Jakarta, akhirnya malam ini dia sampai juga di rumahnya.


"Ini nih yang dinamakan surga perempuan. Dimanjain suaminya." Nadia memeluk gulingnya dengan bibir tersenyum.


"Ayo mandi, aku mandiin." Mendengar ucapan suaminya, Nadia semakin merinding.


"Gak, nanti pasti berakhir dengan kamu bercinta." Tolak Nadia, sambil menutup wajahnya menggunakan bantal.


Tanpa mendengarkan penolakan istrinya, Rehan langsung menggendong Nadia ke kamar mandi.


Rehan membuka pakai Nadia dengan lembut. Tangannya terurur mengusap perut istrinya.


"Karenamu papa harus masuk angin gara-gara terus mandi air dingin di malam hari demi menurunkan hasrat papa. Tapi karena kamu, mama kamu bisa merubah perasaan bencinya terhadap papa menjadi cinta." Rehan mencium perut Nadia. Lalu dia ******* bibir istrinya dengan lembut dan memabukkan.


Rehan menggigit leher Nadia, hingga meninggalkan bekas meras disana.


"Uh..." Lenguh Nadia. Dia mengalungkan tangannya ke leher suaminya.


"Rey...." Mata Nadia meremang ketika Rehan meremas pantatnya pelan.


"Panggil namaku, sayang." Rehan memperdalam ciumannya. Dia mengusap lembut pipi chabby Nadia.


Rehan menempelkan keningnya ke kening istrinya. Lalu dia menyiram tubuh Nadia menggunakan air hangat dengan perlahan.


Rehan menggigit telinga Nadia pelan, hingga membuat Nadia meremas rambut Rehan dengan kencang. Ada sensasi geli yang tidak biasanya hadir di tubuhnya.


Rehan menuangkan sabun di tubuh istrinya. Dia mengusapnya dengan lembut, sehingga memberikan reaksi merangsang.


"Aku ingin menghabiskan malam panjang ini bersamamu, hanya bersamamu." Bisik Rehan serak.