Possessive Husband

Possessive Husband
31. Realistis



Sesuai janjinya kemarin, tepat jam 15.00 sore tadi Dokter Aksa menjemput Nadia di rumahnya. Perempuan itu kelihatan sangat cantik dengan Dress merah yang tidak terlalu ketat. Karena sebelum membeli baju itu, Dokter Aksa sudah mengira-ngira, kira-kira baju yang dia beli ini cocok tidak dengan keadaan Nadia yang sedang hamil.


Kemeja berwarna putih, serta jas berwarna hitam, membuat Dokter Aksa kelihatan sangat tampan. Dokter dengan lesung pipi di kedua pipinya itu terlihat sangat gagah.


Mobil sport hitam menjadi pilihan dokter Aksa untuk mengajak Nadia pergi.


"Kita mau pergi kemana?" Nadia yang tidak menyukai keheningan, akhirnya membuka suaranya.


"Rahasia, kamu tidur aja. Masih 1 jam perjalanan lagi." Suruh Dokter Aksa. Nadia hanya diam, dia menatap keluar jendela.


"Kita mau ke Jakarta? Kayaknya aku kenal jalan ini." Dokter Aksa tertawa pelan mendengar Nadia sedang menebak-nebak.


"Kayaknya aku tidak pandai membohongi dan menyimpan rahasia kepadamu. Aku kira kamu tidak ingat dengan jalanan Jakarta, tapi eh ternya..."


Nadia ikut tertawa mendengar ucapan dokter Aksa.


***


"Apa aku sudah kelihatan sangat tampan dengan memakai baju adat Jawa?" Vino melihat dirinya dari bawah sampai atas. Sekarang dia dan Dokter Dara sedang di pusat pembelanjaan Malioboro, Yogyakarta. Vino terlihat sangat suka dengan baju yang dia kenakan.


"Topi ini namanya apa Tante?" Vino memakai topi khas orang Jawa yang memiliki warna coklat muda.


"Itu blangkon. Itu biasa di pakai sama orang Jawa sayang. Baguskan?" Dara membayar pakaian yang Vino kenakan.


"Aku suka..." Vino menatap Dara senang.


"Terimakasih Tante, tapi sekarang aku lapar." Vino memegang perutnya yang keroncongan.


"Sama-sama, bagaimana kalau kita membeli gudeg khas daerah Jogja?" Tanya Dara meminta pendapat Vino.


"Gak mau, ada yang jual bakso gak? Aku mau itu." Vino celingukan kesana-kemari hanya untuk mencari gerobak penjual bakso seperti yang biasa lewat di depan kompleks rumahnya.


"Ada, ayo ikut Tante." Dokter Dara menggandeng tangan mungil Vino memasuki warung makan kaki lima. Yang Dokter Dara lihat, sepertinya Vino bukan anak yang manja, yang selalu mau makan di tempat mewah.


"Om, om, bakso bulat 2 yah! ingat, yang bulat." Vino duduk di hadapan Dokter Dara. Sang penjual bakso itu tertawa ketika mendengar pesanan Vino.


"Haaa..., Baik dek." jawab penjual itu sambil tersenyum.


"Bakso-kan emang bulat sayang." Dara mengusap lembut rambut Vino.


"Ada yang gak, dulu waktu mang bakso gak lewat di depan rumahku, papa yang buatin aku bakso. Tapi hasilnya gak bulat, semacam bakso yang baru di injak Roda sepeda, jadi gak berbentuk." Tawa dokter Dara seakan ingin meledak mendengar ucapan polos Vino.


"Oh gitu..." Dokter Dara mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.


***


Yang Nadia lihat, sepertinya ini adalah pesta pertunangan. Karena di depannya tidak ada tulisan The wedding. Sebuah gedung megah dan luas menjadi pilihan pesta pertunangan orang yang sama sekali tidak Nadia kenal. Yang Nadia tahu, ini pasti pesta pertunangan orang kaya.


"Ayo masuk." Dokter Aksa menggandeng tangan Nadia, masuk kedalam gedung megah itu.


Mata Nadia membulat ketika yang berada di atas Altar adalah Rehan dan Nesya. Dilihat dari wajah Rehan, sepertinya laki-laki itu sangat bahagia.


"Mari kita kesana!" Ajak dokter Aksa, Nadia hanya menurut. Tidak mungkin jika dia berlari dan meninggalkan dokter Aksa disini sendiri. Dia tidak ingin membuat laki-laki baik di sampingnya menjadi malu.


Rehan yang semula sedang mengobrol bersama Danil di atas Altar, langsung menoleh ke arah dokter Aksa.


"Thanks, Bro. Roman-Romannya ada yang bakal nyusul ke pelaminan nih. Siapa tuh di belakang kamu?" Mata Rehan melirik Nadia yang masih menunduk.


"Nad..."


Deg...


Jantung Rehan seakan mulai berhenti berdetak dikala melihat wajah perempuan yang sangat dia rindukan. Dan sekarang Perempuan itu berada di depannya.


"Nad_nadia?" Rehan menatap lekat manik mata Nadia yang juga menatapnya.


"Oh kalian sudah saling kenal. Kenalin Nad, ini Rehan, laki-laki yang dulu pernah aku tolong sewaktu terluka di Bali. Dulu tuh dia sempat di tinggal kabur calon-nya, eh sekarang malah balikan. Emang kalau jodoh ya gak kemana-mana." Dokter Aksa tersenyum kepada Rehan dan Nadia. Keduanya hanya diam, sedangkan Danil mulai menerbitkan senyumannya.


"Emang kalau jodoh gak akan kemana, Dok." Danil tersenyum penuh arti sambil menatap wajah Nadia dan Rehan bergantian.


"Tadi aku lihat pasangan perempuannya, kok sekarang gak ada?" Tanya dokter Aksa, melihat samping Rehan yang kosong.


"Lagi ke toilet." Jawab Rehan singkat. Dokter Aksa mengangguk, lalu dia kembali Menggegam tangan Nadia.


"Yaudah, kita kesana dulu." Dokter Aksa turun dari atas Altar bersama Nadia. Pelan-pelan tangan Rehan terkepal erat. Matanya terus menatap tautan tangan antara Nadia dan dokter Aksa.


"Sabar, Bro." Danil menepuk pelan pundak Rehan.


***


Meli sedang mengecet kukunya, dia malas mendengar ocehan suaminya yang terus menyebut nama Rehan.


"Udahlah, Pa. Bukannya Nadia yang kabur dari rumah sendiri tanpa Rehan usir? Sekarang Rehan mau tunangan sama orang lain ya biarin. Yang penting perusahaan kita kan gak Jadi bangkrut." Aldi menatap meli sinis. Dia melempar guci yang berada di ruang tamu.


Pyar...


Guci mahal milik Meli harus melayang karena amukan Aldi. Hal itu tentu membuat Meli kesal.


"Papa!!" Bentak Meli, marah.


"Ini semua gara-gara kamu, andai kamu tidak mendesakku untuk menjodohkan Nadia dan Rehan, mungkin semua ini tidak akan terjadi." Maki Aldi, marah.


"Terus saja salahin aku." Meli masih tenang duduk di sofa. Baginya mengecet kukunya itu lebih penting dari pada mendengar ocehan suaminya.


"Berani-beraninya dia mengundangku ke acara pertunangannya dengan Perempuan selingkuhannya. Tentunya setelah dia membuat putriku menghilang dan pergi." Aldi menyisir rambutnya kebelakang. Tentu dia sangat marah, belum juga putrinya kembali, namun Rehan sudah menemukan pengganti.


"Lagian salah sendiri sih Nadia, udah tahu suaminya itu tampan dan kaya, eh malah di tinggalin. Kalau aku sih ya mending tutup mulut dan ngebiarin suami aku selingkuh dengan Perempuan lain. Yang penting jatah uangku tidak berkurang." Meli berjalan menaiki tangga sambil Menggegam kuteknya.


"Itu prinsip wanita matre sepertimu, bukan prinsip Perempuan baik seperti anakku!" Teriak Aldi, marah.


"Realistis saja, Pa. Tanpa uang kita tidak bisa hidup. Memang sih semuanya tidak tentang uang, tapi tanpa uang kita akan mati. Pernikahan itu tidak cuma butuh cinta, kita tidak bisa kenyang hanya karena ucapan cinta. Kita butuh makan, dan untuk beli bahan makanan itu butuh uang, bukan cinta." Sinis Meli, tanpa menoleh kearah Aldi.


"Arggg..., dasar wanita matre!!" Aldi menendang kaki sofa miliknya.