Possessive Husband

Possessive Husband
34. Rehan dan Dokter Aksa



Nadia menatap sengit kearah Rehan. Lelaki itu sedang duduk disampingnya sambil Menggegam tangannya. Lelaki super protektif itu menatapnya dengan bibir tersenyum.


"Ck, apa kamu tidak memiliki kegiatan lain selain menemaniku disini? Dan tolong lepaskan tanganmu dari tautan tanganku." Decak Nadia kesal. Rehan menggeleng, dia malah mendekatkan wajahnya ke perut Nadia.


"Apa dia tahu kalau aku papanya?" Rehan menyandarkan kepalanya ke perut Nadia yang mulai membesar.


"Tahu, papanya kan yang sering nyakitin mamanya." Jawab Nadia, malas. Dia memalingkan wajahnya kearah lain ketika Rehan menatapnya.


Rehan hanya diam, dia mengusap lembut perut Nadia. Hal itu membuat sensasi geli di perut Nadia.


"Dia bergerak." Rehan terlihat antusias. Sedangkan Nadia terlihat biasa saja. Hal itu sudah sering dia rasakan, jadi dia tidak kaget dan heboh seperti Rehan.


"Apa dia menyakitimu?" Rehan menatap Nadia dalam.


"Tidak, dia hanya mencari tempat ternyaman disana." Jawab Nadia, santai. Rehan mengangguk, dia terus bermain di perut Nadia.


"Rey..." Panggil Nadia, lembut.


"Ya?" Rehan menatap wajah Nadia dengan senyuman. Selalu begitu, dia selalu bisa membuat Nadia hampir sulit bernafas karena terpaku melihat senyumannya.


"Ambilkan aku minum." Nadia terpaksa meminta tolong kepada Rehan untuk mengambilkan dirinya minum. Mau bagaimana lagi? Kondisinya masih lemas, tidak mungkin jika dia mengambil minuman di pojok nakas sampingnya sendiri.


Dengan sigap, Rehan langsung mengambilkan Nadia minuman. Tidak hanya mengambilkannya, dia juga membantu Nadia minum. Namun...


Huek...


Nadia muntah tepat di kemeja Rehan. Bukannya jijik dan menjauh, Rehan malah mengambil tisu dan mengelap bibir Nadia yang masih terdapat sisa muntahannya.


"Bajumu?" Nadia merasa tidak enak ketika Rehan harus terkena muntahannya.


"Tidak apa-apa, lagi pula aku bisa ganti baju nanti." Rehan mengusap pipi Nadia, lembut.


"Cuci dulu bajumu di toilet, basuhi air sedikit-sedikit." Suruh Nadia.


"Tidak usah, ini cuma.."


"Rey...!" Nadia melotot kearah Rehan.


"Baiklah."


Ketika Rehan baru saja masuk ke toilet, Aksa, Jeo, Kinan, dan Dokter Aksa datang. Mereka langsung mendekati brankar Nadia.


"Apa kamu sedari tadi disini sendiri?" Tersirat nada khawatir di bibir dokter Aksa ketika dia bertanya kepada Nadia.


"Tidak, ada Rehan tadi. Tapi dia ke toilet sebentar." Nadia menatap pintu toilet yang berada di dalam ruang inapnya.


"Sepertinya akan ada drama cinta segitiga disini?" Bisik Luwis pada Jeo yang berdiri disampingnya.


"Hemm..., dan salah satunya akan tersingkirkan." Jeo menatap lekat-lekat Nadia yang tengah tertawa ketika dokter Aksa memperlihatkan heandponenya.


"Apa itu dia memakai baju adat Jawa?" Tanya Nadia, seraya menunjuk foto Vino yang sedang tersenyum kearah kamera dengan tangan memegang sendok yang berisi bakso.


"Iya, dia memakai batik." Kekeh dokter Aksa. Anaknya itu memang lucu, dia mengakui itu.


"Pasti Dokter Dara sangat kebingungan disana. Vino pasti cerewet dan banyak bertanya tentang kenapa bajunya seperti ini? kenapa topinya begini? dan kenapa aku bisa setampan ini?" Nadia tidak bisa membayangkan betapa repotnya Dokter Dara ketika mencari semua jawaban dari pertanyaan tidak masuk akal milik Vino.


"Entahlah, sepertinya Vino lebih mirip ke mamanya dari pada aku. Buktinya dia sangat narsis. Sampai-sampai ketika pergi harus berkaca lama seperti perempuan." Nadia tidak bisa menahan tawanya. Hal itu membuat semua orang yang berada di dalam ruangan inapnya terfokus menatapnya. Rehan yang baru saja keluar dari dalam toilet langsung menghampiri istrinya.


Atmosfer seakan berhenti. Luwis bersiul pelan, berpura-pura tidak melihat Dokter Aksa dan Rehan yang saling tatap tajam.


Sedangkan Jeo berpura-pura bermain heandponenya. Kinan yang tidak tahu harus berbuat apa? Lebih memilih berkaca dan berpura-pura menata make up di wajahnya.


"Kok aku ngerasa di ruangan ini panas ya?" Kinan mengibas-ngibaskan tangannya keudara. Kedua bola matanya melirik kanan-kiri.


"Gak usah cari kesempatan dalam kesempitan. Mau ngapain kamu, Wis?" Jeo menarik kerah baju belakang Luwis, ketika Luwis ingin duduk disamping Kinan.


"Duduk disamping jodoh masa depan lah. Emang kamu, jomblo." Luwis menatap sengit kerah Jeo.


"Biarin jomblo, yang penting..."


"Bisakah kamu pulang? Nadia sudah ada aku yang menjaganya." Rehan menepis tangan Dokter Aksa yang berada di pergelangan tangan Nadia.


"Biasakan kamu diam? Karena kamu tidak mungkin bisa bertemu dengan dia jika bukan karenaku. Aku yang menemukan dia terkapar dijalan." Sinis Dokter Aksa.


"Sebelumnya terimakasih sudah menolong istriku. Tapi maaf, dia milikku. Jadi aku memiliki hak untuk melarang laki-laki lain mendekati dia." Rehan berjalan menghampiri dokter Aksa.


"Bicara tentang Hak, memang kamu suaminya . Tapi maaf, aku yang melindunginya saat kamu melepasnya." Tatapan tajam milik Aksa, membuat kilatan emosi Rehan bertambah.


"Melepasnya? Apa aku pernah mengusirnya?" Rehan mencengkram kerah kemeja dokter Aksa.


"Cari Perempuan lain di luar sana jika ingin kamu jadikan istri, tapi jangan menjadi pebinor." Rehan menggertakkan giginya di depan Dokter Aksa.


"Pebinor itu apa, Je?" Tanya Luwis pada Jeo yang sedang memperhatikan mereka berdua.


"Perebut bini orang! Diam, kalau kamu gak mau di hajar Rehan." Jawab Jeo, lirih.


"Oh, aku kira..."


"Kalau aku tidak mau perempuan lain? Dan ternyata yang aku mau itu istrimu?" Seringai Dokter Aksa.


Bug...


Rehan menonjok pipi dokter Aksa hingga bibirnya sobek. Hal itu membuat Nadia geram.


"Rehan!" Nadia membentak lelaki itu.


"Dia yang salah, dia ingin merebut kamu dariku. Dia..."


"Aku tidak suka dengan sifat kamu yang terlalu gampang terpancing emosi. Sekarang kalian semua pergi dari ruang inapku. Biarkan aku disini bersama Kinan." Teriak Nadia, marah.


"Tapi...."


"Jika kamu tidak pergi dari sini, aku tidak akan bicara lagi sama kamu." Nadia menatap Rehan, tajam.


Mau tidak mau Rehan dan lainnya keluar dari ruangan Nadia. Sekarang di dalam ruangan hanya tinggal Nadia dan Kinan.


"Kok ibu agak gendutan ya? Bahagia ya Bu tinggal sama dokter Aksa?" Gurau Kinan.


"Haa..., kamu bisa aja. Kan sekarang di dalam perut aku ada dedek bayi. Jadi aku tambah gendut." Cengir Nadia.


"Jad_jadi...." Nadia tersenyum ketika melihat reaksi kaget Kinan.


"Berarti aku bakal jadi Tante dong?" cengir Kinan.


"Tentu." Balas Nadia sambil tersenyum.


Jika di dalam ruangan Nadia, Kinan dan Nadia sedang bercanda tentang anak yang ada di perut Nadia, berbeda dengan suasana di luar ruangan Nadia.


Rehan dan Dokter Aksa saling tatap tajam. Seakan tatapan itu bisa membunuh mereka.


"Jangan kamu sentuh milikku, jika kamu tidak ingin aku menghabisi keluargamu!" Ancam Rehan, anarkis.


"Coba saja kalau berani." Dokter Aksa pergi meninggalkan Rehan dengan bibir tersungging sinis.


"Kali ini kamu jangan mengambil keputusan sembarangan. Jika kamu tidak ingin istrimu benar-benar meninggalkan dirimu." Nasehat Luwis. Entah kata-kata bijak itu dia dapat dari mana? Yang terpenting dia bisa menyadarkan sahabatnya dari hal konyol yang akan membuat keluarga sahabatnya semakin retak.