
pikiran aloe sangat kacau saat ini. Dia masih menyelidiki hubungan tania dan fino.Belum lagi tugas sekolah yang menumpuk.
"Huaaaaah... " aloe menguap sedikit berteriak. "gini amat sih hidup gue. "
pintu kamar aloe tiba tiba ada yang membuka ternyata mamanya.
"ada apa ma? " tanya aloe malas."firasat aloe kok nggak enak, tumbenan mama kekamar aku. "
mama tersenyum kemudian duduk disamping aloe . "gitu amat sih sama mama. "
"udah deh, mending mama jujur, ada perlu apa mama nyari aku.? "
mama aloe menarik nafas dalam dalam kemudian menghemkannya lagi.
"arvan mau melamar kamu nanti malam. "
"apa? " kadua mata ember aloe melotot lebar. "aku nggak mau, tolak aja ma. "
mama aloe mamalingkan mukanya. sebenarnya belief kasihan sama aloe karena masih belia sudah mau dilamar.
"ma? mama nangis? "
"sayang, mama nggak akan maksa kamu untuk menerima perjodohan ini, tapi kalau kamu nggak ingin membuat papa kamu malu, mama ingin kamu menerima nya, tapi semua mama kembalikan lagi sama kamu. "
aloe diam sejenak,dia tidak mau penyakit jantung papanya kambuh lagi. "iya ma, aku terima. "
kedua mata mama aloe berbinar. "makasih sayang," mama memeluk tubuh aloe erat.
°°°°°°°°°
aloe manatap dirinya dicermin. wajahnya terlihat tidak bahagia. rambutnya yang sebahu disanggul cantik dengan hiasan pita ditengahnya, dengan make up yang natural aloe terlihat cantik malam ini.
perlahan kaki jenjangnya melangkah menuju ruang keluarga yang sudah ddihias sedemikian rupa.
"apa benar langkah yang ku ambil sekarang Ya Allah. " batin aloe. "berikan hamba petunjukmu. "
"sayang, kamu cantik. "papa aloe memeluk aloe erat." nggak terasa anak papa udah mau nikah. "
"pa, aloe kan masih sekolah, ini hanya lamaran saja kan pa,? " rengek aloe manja.
"sayang dengerin papa, kamu sama kak kiran itu harta papa paling berharga, papa nggak akan maksa kamu menerima perjodohan ini, tapi alangkah baiknya kita jalani dulu wasiat dari kekek ya sayang, biar kakek tenang disana."
"iya pa, tapi semisal aloe nggak cocok sama pak guru kulkas, boleh dong ya aloe nggak ngelanjutkan perjodohan ini? "
"itu semua terserah kamu, papa mendukung kalau itu mambuat kamu bahagia. "
"aku sayang papa. " aloe mencium pipi papanya. "ayo pa kita temui tamunya. "
semua orang sudah berkumpul diruang tamu termasuk keluarga arvan juga, proses lamaran pun di mulai.
"kamu cantik sekali." bisik arvan pelan ke telinga aloe. "pengen cepet cepet halalin."
kedua mata aloe melotot lebar. "jangan macam macam ya. "
"kita udah sah dong. " arvan menunjukkan cincin yang dipakaikan aloe tadi dijari manis arvan.
"belum." aloe sedikit berteriak yang membuat banyak pasang mata menatap kearahnya.
"ini artinya kamu harus putusin cowok kamu yang brengsek itu. " bisik arvan. "aku nggak mau ya kamu masih berhubungan lagi sama dia. "
aloe mendengus kesal, dia langsung pergi meninggalkan arvan. Dari kejauhan sambil menikmati semangkuk galantine dihadapannya. Aloe diam diam memerhatikan arvan yang sedang ngobrol bersama ayah nya.
"pak arvan ganteng juga. " ucap aloe tak sadar sambil tersenyum. "kalau dibandingkan sama fino jelas masih gantengan pak arvan. tapi fino kok belum hubungin gue seharian ini, tania juga.? "
Aloe berjalan cepat menuju kamarnya.yang diam diam di ikuti oleh arvan dari belakang.
aloe meraih ponselnya, ternyata ada WhatsApp masuk dari seseorang, aloe membuka pesan itu, sebuah video dari seseorang.
"tania..?? "