Possessive Husband

Possessive Husband
40. Cemburu.



Malam ini Jeo sedang menikmati makanan malam di restoran Italian bersama seorang perempuan. Mereka berdua saling terdiam tanpa suara.


"Apa kamu menikmati peranmu, Git?" Tanya Jeo, membuka suara. Gita terdiam, dia menatap langit-langit malam dengan tatapan sendu.


"Kamu meninggalkan aku demi karirmu, apa sekarang kamu sudah puas?" Jeo kembali bersuara. Ya, perempuan yang sedang duduk di depan Jeo adalah Gita, mantan kekasihnya. Perempuan itu memutuskan dirinya hanya untuk menjadi penulis terkenal di London. Karyanya yang berjudul, Detak jantung cinta, Berhasil mencuri perhatian banyak orang.


Jeo menatap wajah perempuan didepannya dengan tatapan sendu. Dia sudah mencoba melupakannya, mencari penggantinya, menyibukkan diri dengan segala pekerjaannya, namun hasilnya apa? Hatinya tidak pernah berubah untuk terus mencintai perempuan didepannya.


"Apa kabar, Je? Aku tidak menyangka kita bisa bertemu kembali disini." Gita tersenyum kepada Jeo. Lelaki di depannya tidak pernah berubah, selalu bisa membuat jantungnya berdetak cepat.


"Kabarku buruk setelah kamu meninggalkanku demi karirmu itu." Jawab Jeo sarkastik. Dia menatap Gita dengan tatapan sulit diartikan.


"Andai kamu tidak meninggalkan aku dulu, pasti kita sudah seperti Rehan." Gita terdiam. Dia tidak bodoh untuk bisa mencerna ucapan lelaki di depannya. Dirinya tahu, Rehan sudah menikah dan sebentar lagi akan mempunyai anak.


"Jalan cerita hidup semua orang itu berbeda, Je." Gita mencoba membuat Jeo mengerti, bahwa setiap orang mempunyai nasib dan jalan hidup yang berbeda.


"Aku tahu, tapi hanya jalan cerita cinta kita yang tidak bisa berakhir bersama." Ucapan Jeo mampu membuat Gita bungkam.


***


Nadia sedang menikmati kue kering rasa coklat di samping rumahnya. Malam ini Rehan memberitahunya lewat telepon bahwa dia pulang larut malam, karena ada pekerjaan yang harus dia selesaikan sekarang juga.


Nadia cukup mengerti, kata Luwis, suaminya itu jarang ke kantor semenjak dirinya pergi. Jadi pekerjaannya banyak yang terbengkalai.


"Assalamualaikum..." Seru Rehan, Nadia tidak mendengarnya, dia sibuk melamun sambil mengunyah kue kering coklat dari Mama mertuanya.


"Pantes gak jawab salamku." Rehan menggelengkan kepalanya pelan. Dia melepas jasnya, lalu dia menyampirkan jasnya ke punggung istrinya.


"Malam-malam jangan di luar, apalagi kamu pakai baju tidur tipis begini." Rehan duduk disamping Nadia. Tanpa bicara, Nadia meraih tangan Rehan dan menciumnya. Sontak hal itu membuat Rehan tertegun.


"Semenjak kamu pulang dari rumah Aksa, kamu memanggil aku dengan kata MAS, lalu saat aku berangkat atau pulang kerja, kamu nyium telapak tangan aku, gak sering ngambek, dan Kayaknya kamu manis banget, gak seperti dulu. Kamu kenapa?" Nadia melirik Rehan, dia tidak terkejut dengan pertanyaan suaminya.


"Kenapa, gak suka?" Nadia kembali memakan kue keringnya, dia menanggapi pertanyaan Rehan dengan santai.


"Bukan, maksud aku..." Rehan menjeda ucapannya, dia bingung harus berkata apa.


"Dulu aku menikah sama kamu dengan terpaksa," Nadia melirik Rehan yang sedang menatapnya datar.


"Semua yang aku lalui bersamamu itu terpaksa, bukan murni dari diriku. Bahkan saat aku menyerahkan tubuhku sepenuhnya padamu, itu juga terpaksa. Aku selalu beranggapan menikah denganmu itu adalah sebuah kesalahan yang akan berujung sengsara. Apalagi saat kamu dan Nesya bermain api di belakangku, walaupun itu adalah bagian rencanamu untuk menjagaku, tapi dulukan aku tidak tahu. Dulu aku semakin yakin untuk meninggalkan dirimu. Semuanya semakin membingungkan ketika Danil dan Bang Dimas datang, kedua laki-laki masalalu ku itu membuat aku bimbang. Ketika aku ingin meninggalkan dirimu, mereka berdua ada di depanku, seakan Allah menyuruhku untuk memilih." Nadia menjeda ucapannya, hal itu membuat kening Rehan berkerut.


"Dulu jantungku berdetak kencang ketika aku di dekat Danil, tapi itu hanya sebentar, pikiranku terus memikirkan dirimu. Lalu saat aku di dekat Bang Dimas, aku hanya merasakan nyaman, bukan sebuah cinta yang mampu membuat diriku bertahan. Begitupun ketika aku di dekat Dokter Aksa, aku hanya merasakan kelembutan dan ketulusan seorang ayah kepada anaknya. Aku mengagumi Dokter Aksa karena dia mampu menjadi sosok ayah dan ibu untuk Vino. Tapi dari mereka, tidak ada yang bisa membuatku senang dan tertawa lepas seperti ketika aku bersamamu." Rehan hanya diam mendengarkan istrinya bicara. Nadia menatap wajah Rehan, dia menyandarkan dirinya ke dada bidang suaminya.


"Aku sudah mencintaimu, aku ingin berubah menjadi istri yang seutuhnya. Istri yang baik terhadap suaminya, istri yang memanggil suaminya dengan perkataan lembut, dan istri yang bisa melayani suaminya dengan lahir dan batin. Tentunya tanpa embel-embel terpaksa." Rehan tidak bergeming, tatapannya dingin seperti es.


"Kamu mau membantuku?" Nadia menyentuh rahang suaminya.


"Maksudnya?" Tanya Rehan tidak mengerti.


"Bantu aku menjadi seorang istri yang baik. Kita mulai semuanya dari awal lagi." Sebuah senyuman terbit dari bibir Rehan. Dia memeluk Nadia dengan sangat erat.


"Bagiku kamu adalah istri terbaikku." Rehan mempererat pelukannya, seakan memberi kehangatan kepada istrinya yang kedinginan karena angin malam.


***


Dokter Aksa menatap dokter Dara dengan ekspresi datar. Perempuan itu rela terjaga demi untuk menjaga putranya yang sedang demam. Tapi sulit untuknya memberikan hatinya kepada Dokter Dara, karena nama Nadia sudah berhasil mengisi kekosongan hatinya.


"Cepat sembuh ya, Vin." Dokter Dara mencium kening Vino, dia kembali mengompres Vino. Dokter Aksa memalingkan wajahnya, dia kembali mengecek data-data pasiennya di sofa kamar putranya. Sedangkan Dokter Dara menunggu Vino di kursi samping tempat tidur Vino.


"Kamu kalau mau pulang gak apa-apa, Dar. Biar Vino aku yang jaga." Dokter Aksa mendekati tempat tidur putranya. Dia mengusap lembut rambut putranya yang basah oleh keringat. Padahal kamar putranya itu ber AC.


"Tidak, aku mau disini. Percuma aku pulang, dirumah pasti aku tidak bisa tidur gara-gara ngehawatirin Vino." Tolak Dokter Dara, dia menggegam jemari Vino dengan bibir tersenyum.


"Lagi pula Vino sudah aku anggap sebagai anak aku sendiri. Jadi tidak mungkin seorang ibu meninggalkan anaknya sendiri ketika dia sedang berjuang untuk melawan sakitnya." Dokter Dara menempelkan tangan mungil Vino ke pipinya. Mendengar ucapan Dokter Dara, sontak langsung membuat Dokter Aksa terdiam. Dia tidak mengeluarkan suara sama sekali.


***


Pagi ini Rehan sedang menemani istrinya jalan-jalan mengelilingi kompleks. Mata para ibu-ibu dan perempuan yang melewati mereka, pasti menatap Rehan dengan bibir tersenyum. Hal itu membuat Nadia kesal.


"Ayo pulang, Mas. Disini perempuannya genit-genit kayak dedemit. Curi-curi pandang terus ke Mas." Nadia menarik tangan Rehan untuk kembali ke rumah.


"Loh, jangan pulang. Kamu pokoknya harus jalan-jalan, supaya peredaran darah kamu lancar ketika melahirkan nanti." Rehan mengusap lembut rambut istrinya.


"Peredaran darah aku yang lancar, apa mata mereka yang lancar ngelihatin kamu terus? Udah ah, ayo balik." Nadia menarik paksa tangan suaminya untuk putar balik. Hal itu membuat Rehan terkekeh pelan.


"Jadi ceritanya kamu cemburu?" Goda Rehan, sambil menoel-noel pipi Nadia.


"Kayak gitu kamu masih nanya?" Nadia menatap suaminya tajam.