Possessive Husband

Possessive Husband
41. Ngidam.



Siang ini Rehan hampir gila gara-gara permintaan istrinya yang meminta burung berwarna-warni. Dia tidak bisa meminta bantuan, kedua sahabatnya sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Luwis masih di Bali bersama Kinan untuk mengurus proyek pembangunan hotel disana. Sedangkan Jeo sedang memperjuangkan cintanya kepada mantan kekasihnya. Jadilah sekarang Rehan harus mencari sendiri permintaan aneh Istrinya.


"Emang orang hamil itu ngidamnya aneh-aneh?" Monolog Rehan, pada dirinya sendiri. Rehan bingung harus bagaimana? Karena sedari tadi dia tidak menemukan burung permintaan istrinya. Tiba-tiba ide jahil keluar dari otaknya.


Rehan menjalankan mobilnya dengan semangat, dia turun di pinggir jalan ketika melihat ada penjual burung.


"Burung merpatinya 3 pak." Rehan menatap burung merpati yang berada di dalam sangkar dengan bibir tersenyum.


"Perjuangan jadi papa." Rehan sudah membayangkan bagaimana lucunya anaknya nanti.


"Ini mas, totalnya 550 ribu." Sang penjual burung itu memberikan burung berserta sangkarnya kepada Rehan.


"Terimakasih, pak." Setelah membayar burung dan sangkarnya, Rehan melajukan mobilnya ke tempat tujuannya.


***


Nadia mendumel kesal dikala mengukur lingkar pinggangnya. Bajunya yang dulu longgar menjadi tidak muat.


"Terus aku harus pakai baju apa?" Nadia membuang semua baju-bajunya kelantai. Dia menghela nafas kasar. Dia sama sekali tidak membeli baju ketika hamil, baju hamilnya yang di belikan dokter Aksa, mungkin masih tertinggal disana.


"Pipi chabby, badan melar, perut buncit, kaki bengkak, terus ini..." Nadia melihat kantong matanya yang menghitam gara-gara tidak bisa tidur. Perutnya yang semakin membesar, membuat dirinya tidak nyaman. Sehingga dia sulit untuk tertidur.


Nadia menghela nafas kasar, betapa sulitnya menjadi ibu hamil.


"Untung aku masih punya daster yang agak besar." Nadia mengambil daster dari lemarinya. Baju-bajunya tidak ada yang bisa dia pakai. Es Krim, Kue, Air dingin, dan nasi, membuat berat badannya naik draktis.


***


Rehan bangga dengan karyanya, dia memasuki rumahnya dengan bibir tersenyum. Hari memang sudah agak gelap, tapi demi istrinya apapun dia lakukan.


"Sayang," Rehan langsung mencium pipi Nadia yang sedang mengemil sambil menonton televisi. Mata Nadia berbinar ketika melihat kedatangan Rehan.


"Kamu pasti kangen sama aku, soalnya tumben bahagia banget lihat aku pulang." Rehan sudah sangat percaya diri ketika Nadia menatapnya dengan mata berbinar.


"GR bangetsih kamu, burung aku mana?" Nadia celingukan mencari burungnya.


"Lah, aku kirain kamu kangen aku. Tapi kok...."


"Burung aku mana?" Nadia celingukan mencari burung pesanannya.


"Sini," Rehan Menggegam tangan istrinya menuju halaman rumahnya. Dia membuka bagasi mobilnya, dan...


"Baguskan?" Tanya Rehan ketika melihat Nadia tidak berkedip melihat sangkar yang berisi tiga burung warna-warni.


"Ini yang hijau namanya Danil, yang kuning namanya Luwis, terus yang merah namanya Jeo." Rehan tidak bisa membayangkan betapa murkanya mereka bertiga ketika mendengar namanya di pakai untuk nama burung.


"Bibir kamu kalau ngomong tuh nyes banget. Ini kok malah burung merpati kamu Pilok jadi begini? Aku tuh mintanya burung warna-warni, bukan burung merpati di Pilok warna-warni." Nadia menatap suaminya dengan kesal. Selalu tidak benar kalau disuruh.


"Burung beo kan warna-warni, kenapa kamu tidak berfikir sampai kesitu? Katanya pengusaha sukses, tapi nyari burung warna-warni gak bisa. Itu tuh yang minta anak kamu, bukan aku. Harusnya kamu ngerti, dan bla..., bla...., bla." Nadia terus mengoceh sambil membawa sangkar burung merpati masuk kedalam rumahnya. Dia menaruh burung itu di samping rumahnya.


"Dasar perempuan, katanya salah, tapi di bawa masuk juga." Rehan menggelengkan kepalanya pelan. Tingkah istrinya benar-benar membuatnya pusing.


****


Setelah tadi ribut, kedua pasangan suami istri itu sekarang sudah kembali akur. Rehan mencoba sabar menghadapi Nadia yang sedikit emosional. Mungkin itu bawaan ibu hamil.


Nadia sedang tidur di pangkuan Rehan yang sedang mengaji Al-Qur'an. Banyak yang berubah dari diri Rehan, semenjak dia tahu sebentar lagi dia akan mempunyai seorang anak, dia mencoba menjadi sosok suami dan papa yang baik untuk istri dan calon anaknya.


Seperti biasa, Rehan selalu meniup pucuk kepala Nadia, dan menciumnya lama. Nadia menatap suaminya yang sedang meletakkan Al-Qur'an di atas nakas.


"Iya, tapi siang ya sayang? Aku ada meeting dulu soalnya." Rehan mencoba memberi pengertian kepada istrinya. Dia mengusap lembut pipi chabby istrinya.


"Oh gitu, yaudah iya." Jawab Nadia pasrah. "Tapi malam ini harus beliin aku sate Madura."


Rehan yang baru saja ingin membaringkan tubuhnya, langsung kembali menegakkan tubuhnya.


"Besok ya sayang? Ini udah malam banget." Rehan menepuk bantal Nadia, seakan menyuruh istrinya itu tidur.


"Maaf ya sayang, besok kalau kamu ileran, salahin papamu ya Nak." Nadia mengusap perutnya, lembut. Dia melirik suaminya yang sedang menghela nafas kasar.


"Yaudah, kamu dirumah, aku beliin." Rehan mengambil jaketnya yang berada di dalam lemari kamarnya.


"Gak mau, aku ikut." Nadia menguncir rambutnya asal. Dia memakai jaket yang warnanya sama dengan Rehan. Yaitu coklat.


"Gak boleh, orang hamil gak boleh kena udara luar ketika malam. Ayolah, Nad. Sekarang kamu dirumah dulu." Rehan mencoba membujuk istrinya yang sangat keras kepala.


"Gak mau, ikut, ikut, ikut." Nadia memasang Popy eyesnya, agar Rehan luluh dan mengajaknya.


"Nanti kamu gak beliin aku sate Madura, kamu malam beliin aku sate lainnya. Kan tadi aku suruh kamu beli burung warna-warni, kamu malah beli burung merpati, terus kamu Pilok warna-warni." Nadia melipat kedua tangannya didada.


"Burung yang aku Pilok tadi warna-warni gak? Emang kamu nyebutin nama burung yang harus aku beli? Kamu cuma bilang beliin aku burung warna-warni, ya aku bingung burung apa yang memiliki warna-warni. Jadi aku Pilok saja burungnya." Jelas Rehan panjang lebar.


"Tetap saja kamu salah." Nadia menatap sinis suaminya.


"Yaudah pakai jaket yang benar, kita berangkat beli sate Madura sekarang." Kali ini Rehan lebih memilih mengalah.


Nadia mengangguk, dia tersenyum penuh kemenangan. Setelah mengunci pintu, Nadia masuk kedalam mobil yang sudah ada Rehan di dalam. Nadia mendengarkan music yang berjudul Perfeck dengan santai. Terkadang bibirnya juga menyanyikan lirik lagu itu. Kepalanya tidak tinggal diam, kepalanya bergerak mengikuti irama musik itu.


"STOP!!" Seru Nadia, tiba-tiba. Kening Rehan berkerut, dia melirik istrinya yang sedang menatapnya.


"Itu ada tulisan Sate Madura." Tunjuk Nadia, pada warung kaki lima.


"Itu warung kaki lima sayang, nanti perut kamu sakit." Rehan meletakkan kepalanya di pengemudinya.


"Yang kamu fikir higienis, belum tentu higienis. Ayo turun, lama banget." Nadia turun lebih dulu.


"3 sate Madura dan lontong, Mang." Pesan Nadia dengan bibir tersenyum.


"Siap, neng." Jawab si penjual itu semangat.


Nadia mengangguk, dia duduk di kursi kosong yang baru di tinggal pergi oleh pembeli. Rehan celingukan mencari istrinya yang kelewatan semangat.


"Mas..." Seru Nadia tanpa rasa malu. Rehan meringis ketika banyak orang menatapnya dan Nadia. Baru saja dia duduk di depan istrinya, 3 piring lontong dan sate Madura sudah diantar oleh sang penjual.


"Dimakan Aden, neng." Ucap penjual itu sambil tersenyum kepada Nadia dan Rehan.


"Siap, Mang." Jawab Nadia semangat.


"Tiga piring? Kita kan berdua yank." Tanya Rehan heran.


"Tambah anak kita satu." Jawab Nadia sambil menggigit satenya.


"Tapikan dia belum lahir." Rehan menatap istrinya bingung.


"Berarti aku yang harus memakannya. Kan dia berada di perutku, jadi kalau aku memakannya, dia juga merasakannya." Jawab Nadia, santai.


"Hemm..." Balas Rehan, seraya menggigit ujung satenya. Percuma membantah ucapan ibu hamil. Galaknya kayak serigala.