Possessive Husband

Possessive Husband
48. Cinta



Nadia sedang menikmati sarapan pagi bersama dengan Vino. Pagi ini suaminya sudah berangkat kerja, sedangkan Dokter Dara dan Dokter Aksa sedang berlari pagi mengelilingi taman kompleks.


"Ini namanya bubur apa Tante?" Vino menyendok bubur di depannya dan menatap wajah Nadia.


"Bubur ayam, sayang. Enak loh..." Nadia mengacungkan jarinya, dia memang menyukai bubur ayam.


"Ayamnya ini udah matang?" Tanya Vino sambil mengaduk-aduk buburnya.


"Iya, kalau masih hidup gak bisa di makan, nanti matuk kamu." Jawab Nadia cengengesan.


***


"Rey, kayaknya obset kita bulan ini akan naik, menurut laporan yang aku lihat dari buku Kinan tadi, pengunjung di hotel kita ini sangat ramai." Rehan yang semula sedang membaca laporan pemasukan dari bulan lalu yang sempat menurun langsung menatap Luwis.


"Bukankah kita punya saingan baru? Hotel yang terletak di Jakarta barat itu memiliki fasilitas yang hampir sepadan dengan hotel yang kita miliki." Rehan bukan cemas tentang hotelnya yang miris di saingi oleh hotel sebelah. Hanya saja dia penasaran siapa pemilik hotel tersebut?


"Memang, tapi disitukan hotel baru, belum terlalu terkenal. Jadi masih banyak orang yang memilih menginap di hotel ini." Jelas Luwis yang di balas Rehan dengan anggukan kepala.


***


Dokter Dara dan Dokter Aksa siang ini sedang berberes pulang. Mereka sedang berpamitan kepada Nadia.


"Maaf kita ngerepotin, Nad. Kita harus pulang, pasienku di sana sudah menunggu." Dokter Dara tersenyum dan memeluk Nadia.


"Oh iya, hati-hati dijalan." Nadia mengusap pipi chabby Vino yang sedang tidur di gendongan Dokter Aksa.


"Terimakasih sudah bertandang ke rumahku, Sa." Nadia tersenyum kepada Dokter Aksa. Tapi anehnya dokter Aksa tidak merasakan getaran yang semalam sempat dia rasakan. Apa dia hanya terobsesi ingin memiliki Nadia tapi tidak mencintainya?


"Iya, sama-sama. Kami permisi, salam buat suami kamu." Dokter Aksa, dokter Dara, dan Vino pergi meninggalkan halaman rumah Nadia.


Nadia menatap mobil putih itu yang baru keluar dari halaman rumahnya dengan bibir tersenyum. Dia berharap dokter Aksa mau membuka hatinya untuk dokter Dara.


"Semoga ada akhir bahagia untuk cerita cinta mereka." Doa itu tulus Nadia panjatkan untuk Dokter Dara dan Dokter Aksa. Dilihat dari tatapan Vino ke dokter Dara, dia sepertinya sudah nyaman, bahkan persis seperti ibu dan anak kandung.


***


Jeo dan Gita sedang bersantai di Caffe milik Danil. Mereka berdua duduk saling berhadapan. Yang berbeda pada hari ini adalah Gita memakai masker, karena dia adalah penulis terkenal yang nama dan karyanya sudah di kenal orang. Otomatis wajahnya juga ikut tersorot kamera saat dia di wawancarai oleh wartawan perihal karirnya itu.


Berbeda dengan Luwis dan Kinan yang peka dengan perasaan mereka sendiri kalau ternyata mereka saling mencintai, Jeo dan Gita malah meninggikan egonya. Jeo mengakui dia mencintai Gita, namun dia tidak mau perasaannya hancur karena penolakan mantan kekasihnya itu. Sedangkan Gita tahu bahwa dirinya mencintai Jeo, tapi rasanya begitu aneh ketika cinta yang sudah berakhir di mulai kembali.


"Apa yang membuatmu ragu untuk menjadikan aku kekasihmu?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Jeo. Lelaki itu bertanya dengan tenang, tidak ada gurat memaksa atau menuntut lawan bicaranya untuk menjawab.


"Dengan caramu menghindari ku dan memutuskan hubungan cinta kita dulu, aku yakin, kamu masih ragu dengan diriku." Jelas Jeo. Gita menghela nafas kasar, dia menatap manik mata Jeo. Harus bagaimana lagi dia menjelaskan? Bahwa dia memutuskan lelaki di depannya demi karirnya, bukan dia ragu dengan perasaan Jeo.


"Terserah kamu mau berfikiran seperti apa, karena itu hak kamu. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, aku tidak pernah ragu dengan perasaanmu kepadaku." Ucap Gita kesal. Tanpa mereka tahu, ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka.


***


Nadia ternganga ketika malam ini suaminya berubah menjadi laki-laki paling romantis. Dia membelikan kalung liontin untuknya. Tidak hanya itu, suaminya datang dengan membawa setangkai mawar merah.


"Terimakasih karena kamu sudah mau menjadi istriku, menjaga anak kita, dan memberikan seluruh hidupmu kepadaku." Nadia bukannya tersanjung, dia malah ingin tertawa. Suaminya yang over protektif, tegas, galak, dan memiliki sikap dingin tingkat dewa, berubah menjadi laki-laki romantis dalam semalam.


"Kamu gak kemasukan jin kantorkan, Mas? Tumben pulang-pulang romantis." Nadia menatap suaminya dengan bibir tersenyum, dia menundukkan kepalanya, matanya menatap takjub kalung liontin pemberian suaminya.


"Kamu tuh bisa gak ngehargai usaha aku? Aku mau mencoba menjadi suami romantis seperti oppa-oppa yang kamu tonton di heandpone kamu setiap malam. Kamu selalu ketawa ketika menonton mereka, berteriak tidak jelas karena mereka tampan, karena mereka romantis, dan tentunya karena mereka memiliki Kepekaan tinggi." Jelas Rehan panjang lebar. Nadia mengerutkan keningnya, kemudian dia tertawa keras.


"Kamu cemburu sama idola dan bias aku?" Nadia mendekatkan tubuhnya pada Rehan. Dia tertawa lagi ketika melihat Rehan menghela nafas kasar.


"Kamu saja belum pernah mengatakan kalau suami kamu ini tampan, lalu dengan seenaknya kamu mengatakan idola dan bias kamu itu tampan." Terdengar nada tidak suka dari bibir Rehan. Nadia menggelengkan kepalanya pelan, suaminya ini benar-benar....


"Sayang, mereka itu gak nyata. Maksudnya mereka itu hanya orang yang menghibur aku ketika kamu tidak ada. Dan kamu itu suamiku, kalau kamu tidak tampan mana mau aku menikah sama kamu." Nadia mengalungkan tangannya ke leher suaminya. Lalu dia mencium cepat bibir suaminya.


"Kamu tampan malam ini." Bisik Nadia, seksual.


"Hanya malam ini?" Rehan memincingkan matanya, dia membawa istrinya kedalam pelukannya.


"Tidak, dari dulu kamu tampan, hanya saja mataku di tutupi rasa benciku kepadamu. Oh ya, terimakasih kalung dan bunganya. Aku mencintaimu." Nadia kembali membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


"Terimakasih sudah sabar dengan sikapku yang sering berubah-ubah, menjaga aku bagaikan kaca yang jika di sentuh dengan kasar akan retak, dan menjadi suami yang siaga." Rehan tersenyum, dia mencium kening Nadia dengan sayang.


Tangan Rehan mengusap bibir Nadia, matanya sudah kalap.


"Aku menginginkanmu malam ini." Rehan menggendong istrinya masuk kedalam rumahnya. Udara luar tidak baik untuk ibu hamil.


"Apa aku sangat berat?" Tanya Nadia sambil mengalungkan tangannya di leher suaminya.


"Iya, tapi aku tidak masalah. Karena kamu mengandung anakku. Lagian kalau kamu gendut dan berat memang kenapa? Aku mencintaimu bukan karena fisik, tapi karena aku nyaman dan jantungku berdetak kencang ketika aku berada di sampingmu." Jawab Rehan jujur. Nadia tersenyum, dia menatap wajah suaminya dengan wajah sumringah.


"Jika cinta semanis ini, kenapa aku tidak mengecapnya dari dulu?" Batin Nadia, sambil menikmati wajah tampan suaminya.