
Dokter Aksa, Danil, Rehan, dan Luwis berkumpul di TKP. Mereka mencari informasi kepada ibu-ibu yang memiliki warung di sekitar kejadian itu.
Keadaan di TKP itu sungguh mengenaskan, darah berceceran, serta kendaraan menghalangi jalan raya. Bau anyir darah menyeruak masuk ke hidung mereka semua yang berada di TKP. Para polisi sedang menyiram bekas darah itu dan menyilang dengan garis polisi.
"Memang ada satu laki-laki terpental jauh dari tempat kejadian, tapi sudah di tolong oleh perempuan yang baru lewat. Perempuan itu terlihat sangat panik, dia membawa lelaki korban kecelakaan itu ke mobilnya dengan di bantu oleh pengemudi lain." Jelas seorang perempuan pemilik warung itu. Rehan dan Luwis saling tatap.
"Apa warna mobil yang menolong sahabat saya itu? Plat nomor kendaraan perempuan itu apa? Atau ciri-ciri perempuan itu bagaimana?" Luwis bertanya kepada pemilik warung itu dengan beruntun. Dia sangat khawatir, syukur-syukur pemilik warung itu mengingat semuanya.
Luwis dan sahabat lainnya tidak sabar melihat ibu-ibu pemilik warung itu yang terdiam sambil mengingat- ingat sesuatu.
"Sebentar, mobil yang menolong lelaki itu berwarna merah, badannya tinggi, ramping, dan sangat rapi. Kalau Plat no nya saya tidak melihatnya." Jawab ibu-ibu itu. Rehan mengingat-ingat apa yang ibu itu bicarakan.
"Apa sewaktu perempuan itu menolong sahabat saya, sahabat saya masih sadar?" Tanya Danil, dengan harap-harap cemas.
"Tidak, sepertinya dia sudah tidak sadar." Jawab ibu-ibu itu ragu. Dia tidak berani mendekat, karena darah bertebaran di mana-mana.
"Ibu melihat wajah si penolong itu?" Tanya dokter Aksa dengan mimik wajah datar.
"Saya tidak melihatnya secara persis, hanya saja saya melihatnya dari samping." Jelas ibu-ibu itu.
"Terimakasih atas infonya, Bu. Kami permisi." Pamit Rehan, yang di balasan ibu-ibu itu dengan anggukan kepala.
"Sama-sama, Mas."
Saat semua orang sudah pergi, Dokter Aksa mengeluarkan uang dari dompetnya. "Untuk ibu, terimakasih sudah memberi informasi kepada kami."
Ibu itu sempat menolaknya, namun Dokter Aksa memaksa.
Mereka semua duduk di pinggir aspal, mereka benar-benar bingung harus mencari Jeo kemana lagi?
"Kalau perempuan itu tidak mengenal Jeo, mana mungkin dia mau menolong Jeo. Karena menolong orang kecelakaan itu resikonya besar, sidik jari dia bisa tertempel di sana. Dan itu urusannya bisa sama polisi." Jelas dokter Aksa. Rehan dan lainnya mengangguk, dia membenarkan ucapan dokter Aksa.
"Apa mungkin Gita?" Luwis langsung menatap Rehan, dikala lelaki itu menyebut nama mantan kekasih Jeo.
"Gak mungkin, masa bisa kebetulan begitu." Elak Luwis, tidak yakin.
"Tapi mobil Gita warnanya merah." Rehan sangat yakin dengan opininya.
"Rey, Rey, mobil warna merah itu banyak." Timpal Danil.
"Gita siapa?" Tanya dokter Aksa, tidak tahu.
"Mantan kekasih, Jeo." Jawab Rehan, masih dengan wajah cemas.
***
Malam ini semua orang berkumpul di rumah Rehan dan Nadia. Kinan dan Meli sudah menyiapkan makanan untuk mereka. Namun tidak ada satupun dari mereka yang menyentuh makanan itu.
Seharian Nadia hanya menangis, dia tidak meminum susu hamil ataupun vitamin yang Melody berikan. Bahkan sedari pagi dia belum makan, hal itu lah yang membuat perutnya sakit.
"Auu...." Nadia memegangi perutnya, Rehan yang sedang berbincang-bincang dengan Dokter Aksa langsung menghampiri istrinya.
"Kamu kenapa, sayang?" Tanya Rehan panik. Nadia menggeleng, dia memegang perutnya sambil meremasnya pelan.
"Danil, tolong ambilkan alat-alat periksa ku di dalam mobil. Dan kamu Rey, bawa Nadia ke kamarnya." Suruh Melody, untung saja tadi dia belum sempat pulang. Jadi alat-alat periksa kehamilannya masih berada di dalam mobil.
"Semuanya tetap tenang, ada dokter Melody disini." Seru Dokter Aksa, dia menghendel semua orang yang cemas dengan keadaan Nadia.
Kinan yang ingin menghampiri Nadia, langsung di panggil oleh Luwis. "Mau ngapain?"
"Ngelihat Mbak Nadia, Mas." Jawab Kinan, panik.
"Gak usah, biarkan Melody melakukan tugasnya. Disana juga sudah ada Rehan. Kamu temani Tante Meli dan Tante Eva saja." Suruh Luwis. Kinan tidak membantah, dia tidak mau memperumit masalah yang ada.
Dikamar, Nadia sedang menangis sambil memegangi perutnya. Wajahnya sangat pucat, hal itu membuat Rehan panik.
"Cepat, Lody!!" Bentak Rehan, sambil mengusap keringat istrinya.
"Santai dong, gak usah ngebentak-bentak Melody." Danil menatap wajah Rehan dengan amarah yang menggebu.
"Apa kamu bilang? Santai? Mata kamu gak lihat Nadia lagi kesakitan?" Rehan menatap Danil dengan tatapan membunuh.
"Sudah! Kalian kalau mau berantem di luar saja." Bentak Melody, sambil memeriksa kandungan Nadia.
"Kandungan kamu sangat lemah, bukankah aku sudah memberi kamu vitamin penguat kandungan? Perut kamu juga kosong, kamu belum makan?" Melody bertanya, sambil menatap wajah sahabatnya, cemas. Nadia menggeleng pelan, hal itu membuat Rehan geram.
"Astaga, Nad. Kamu itu bagaimana?!" Bentak Rehan spontan. Nadia semakin menangis, bagaimana dia bisa makan? Disaat semua orang sedang menangisi Jeo.
"Biar aku suruh Kinan membawakan makanan untuk Nadia." Danil keluar dari kamar Nadia dan Rehan.
"Akan aku siapkan susu hamil dan vitaminnya." Melody juga ikut keluar bersama Danil.
Didalam kamar suasananya sangat tidak enak. Nadia sibuk mengeluh sakit sambil memegangi perutnya, sedangkan Rehan sedang mengontrol emosinya yang siap meledak kapanpun itu.
"Kamu boleh menghawatirkan keadaan dan keberadaan, Jeo. Tapi kamu jangan sampai lupa, di perut kamu juga ada anak kita." Rehan mendekati istrinya, dia mengusap perut Nadia, hal itu membuat Nadia sedikit nyaman.
"Maaf, aku lupa kalau..."
"Kalau kamu mengandung? Sudah berapa kali aku bilang?! Jaga anak kita!" Rehan benar-benar emosi. Sahabatnya belum di ketahui dimana keberadaannya, sedangkan istrinya malah bertindak ceroboh.
"Hiks..., Hiks..., maaf." Rehan memeluk istrinya, dia mengusap rambut Nadia dengan gerakan lembut.
"Maafkan aku yang tidak memperhatikan kamu hari ini. Aku bingung mencari keberadaan Jeo, sehingga aku melupakan kewajibanku untuk menjagamu dan anak kita." Rehan menggegam tangan istrinya yang sedang menangis.
"Nih, makanan, susu, dan vitamin untuk Nadia. Aku sama Kinan mau kebawah dulu." Pamit Melody, sambil tersenyum kepada Nadia.
Rehan mengangguk, dia menyuapi istrinya dengan sabar.
"Huek..., udah Mas. Perut aku udah kenyang." Nadia menggelengkan kepalanya, rasanya dia ingin muntah.
"3 suap lagi, lalu kamu minum susu dan vitamin." Nadia menggeleng, dia mendorong pelan sendok yang berada di depan mulutnya.
"Perutku sudah kenyang." Tolak Nadia. Nasi dengan sayur bayam dan telur itu membuatnya ingin muntah.
"Nad...." Tatapan tajam milik Rehan, membuat Nadia kembali membuka mulutnya. Dia takut jika suaminya kembali marah kepadanya.
"Telan nasinya, jangan kamu muntahin. Kalau perut kamu gak ada isinya, nanti kamu masuk angin." Rehan mengusap pelan bibir Nadia. Perhatian dari suaminya ini lah yang membuat Nadia bisa tegar menghadapi semuanya.