Possessive Husband

Possessive Husband
35. Memilih yang lain.



Hari ini Nadia sudah boleh pulang. Tapi jika kalian menebak Nadia pulang kerumahnya dan Rehan, kalian salah. Nadia lebih memilih pulang ke rumah dokter Aksa. Hal itu membuat Rehan murka dan marah besar.


"Harusnya kamu melarang dia pulang bersamamu. Karena aku suaminya! Bagaimana jika terjadi apa-apa dengan Nadia dan calon bayinya?" Kali ini Rehan dan Dokter Aksa sedang berdebat di parkiran rumah sakit. Keduanya sama-sama keras kepala, Dokter Aksa terus membalas setiap umpatan dan ucapan Rehan. Sedangkan Rehan terus memancing emosi dokter Aksa.


"Ada aku, aku akan menjaganya." Dokter Aksa hendak masuk kedalam mobilnya, tapi Rehan menahan pintu mobil dokter Aksa.


"Tidak bisa! Jika masalah ini aku bawa ke rana hukum, pasti aku yang menang. Kamu bukan siapa-siapanya dia, sedangkan aku adalah suaminya." Rehan menantang dokter Aksa tajam. Bukannya takut, dokter Aksa malah tersenyum sinis.


"Kalau begitu, aku akan melaporkan mu balik atas tuduhan KDRT. Bukankah kamu pernah menampar Nadia dan membela selingkuhanmu itu?" Bibir dokter Aksa tertarik keatas. Rehan pikir dia bisa mengancamnya.


"Oh silahkan saja. Aku tidak takut!" Rehan membalas ancaman dokter Aksa tanpa rasa takut.


"Kalian ini bisa diam gak sih?! Bikin pusing aja. Nad, kamu tinggal sama aku ya?" Melody tersenyum kepada Nadia yang sedang duduk di dalam mobil. Dia menatap lembut kedua manik mata sahabatnya.


"Tinggal denganku dan Bang Dimas." Melody berharap Nadia mau menerima tawarannya.


Nadia terdiam. Dia tidak mau tinggal satu rumah dengan Dimas. Dia tidak mau laki-laki itu kembali berharap lebih padanya. Dirinya bukan tidak tahu jika Dimas masih menyimpan rasa padanya, hanya saja dirinya berpura-pura acuh. Dirinya tidak mungkin menolak atau menerima cinta Dimas. Semua orang boleh menganggap dirinya labil dan tidak tegas, tapi nyatanya dirinya tidak bisa melakukan itu. Dirinya tidak mau membuat Dimas sakit hati karena mendengar penolakannya. Dia juga tidak mungkin menerimanya, karena dia sudah menganggap Dimas sebagai Abangnya. Sosok laki-laki yang selalu ada di saat dirinya tertimpa masalah.


"Maaf, Lody. Aku tidak bisa." Nadia menggeleng lemah, dia tersenyum lembut kearah Melody.


"Kali ini aku mohon, ikutlah pulang ke rumahku. Plis..." Melody mengatupkan tangannya ke depan wajah Nadia.


"Biar dia tinggal bersamaku!" Dokter Aksa mendorong bahu Rehan. Dia melajukan mobilnya keluar dari halaman parkiran rumah sakit.


"Anu Je, Kerjaanku di kantor banyak. Pasti Om Bram sedang menungguku di kantor. Yuk Kinan, kita balik ke kantor." Luwis menarik tangan Kinan untuk pergi dari parkiran. Dirinya memang sudah kembali kerja di perusahaan keluarga Rehan semenjak Mama Rehan sakit, dan papa Rehan sibuk mengurus istrinya. Sehingga semua pekerjaan terbengkalai.


"Sepertinya Club' malam milikku sedang ada masalah. Nil, Lody, aku cabut dulu." Jeo berjalan cepat menghampiri mobilnya. Semua orang sudah pergi, hanya tinggal Rehan, Danil dan Melody disini.


"Rey...." Panggil Danil, pelan.


"Aku tahu, Pasti kamu senang Nadia meninggalkan ku. Karena aku sudah merebutnya darimu." Rehan berbalik, dia menatap Danil dengan mata berapi-api.


"Maksud kamu apa?" Danil mencoba sabar menghadapi sikap Rehan.


"Halah, kamu pasti tunangan dengan Melody hanya untuk pelampiasankan? Karena kamu tidak bisa mendapatkan Nadia. Dasar Picik!" Rehan pergi mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Udah, gak usah di pikir. Biasa, dia lagi emosi gara-gara masalah tadi." Melody mengusap lembut punggung Danil.


"Aku tahu." Balas Danil, sambil Menggegam tangan Melody.


***


Sekarang Dokter Dara Dan Vino sedang duduk gusar di teras rumah Dokter Aksa. Mereka berdua sedang menunggu Dokter Aksa dan Nadia pulang. Mereka langsung pulang dari Jogja ketika kemarin dokter Aksa mengabari Dokter Dara bahwa Nadia sakit.


"Kenapa mereka lama sekali? Padahal perjalanan Jakarta ke Bandung tidak ada 3 jam." Risau dokter Dara. Dia menggigit ujung kukunya, gugup. Kasihan Nadia dan calon bayinya jika mereka kenapa-napa.


Tit... tit...


Tapi langkah kakinya tiba-tiba berhenti. Dia melihat dokter Aksa berjalan kearahnya sambil menggendong Nadia.


"Aku bisa berjalan sendiri, Sa." Nadia merasa tidak enak ketika melihat tatapan sendu milik dokter Dara.


"Kamu sedang sakit, badanmu juga lemas, jadi diamlah." Dokter Aksa melewati Dokter Dara begitu saja. Dia membawa Nadia ke kamar Nadia sendiri.


"Kamu tidak apa-apa, Nad?" Dokter Dara memegang kening Nadia dengan panik. Hal itu membuat Nadia semakin merasa bersalah karena sudah mengambil perhatian dokter Aksa. Walau dirinya tahu, dirinya tidak menginginkan dokter tampan itu.


"Tidak apa-apa. Aku hanya kecapean." Cengir Nadia.


"Syukurlah, aku sangat khawatir tadi saat kamu keluar dari dalam mobil dengan di gendong dokter Aksa." Nadia tersenyum canggung. Dia tahu, dokter Dara cemburu padanya.


"Aku tidak apa-apa. Oh ya, bagaimana liburanmu dengan Vino?" Nadia mencoba mencari topik pembicaraan lain selain tentang dirinya dan dokter Aksa.


"Sangat menyenangkan." Dara menjawabnya dengan binar bahagia.


"Iya, sangat menyenangkan. Apalagi saat Tante Dara mengajakku untuk naik gajah." Vino yang tadinya sedang duduk di sofa bersama dokter Aksa, langsung menyambar pertanyaan Nadia.


"Lain kali Tante Nadia dan papa juga harus ikut liburan bersama kita." Vino berjalan menghampiri Dara dan Nadia.


"Biar aku punya foto bareng kalian. Sayang deh sama Tante Dara dan Tante Nadia." Vino memeluk Nadia dengan tangan Menggegam jemari Dara.


"Papa gak kamu sayang, Vin?" Rajuk dokter Aksa.


"Sayang, setelah papa bisa membuat bakso dengan bentuk benar-benar bulat." Sontak jawaban yang Vino berikan membuat Dara dan Nadia tertawa lepas.


Dokter Aksa meringis, putranya itu benar-benar suka sekali membuat dirinya malu.


***


Rehan sempat di marahi kedua orang tuanya ketika dia pulang untuk menjenguk mamanya yang sedang sakit dirumah.


"Kalau kamu tidak bertindak dengan gegabah, semuanya tidak akan begini." Jelas sekali ada aura kesal dari wajah Eva yang mulai keriput. Tapi dia tetap terlihat cantik di usianya yang sekarang.


"Dari dulu papa sudah pernah bilang, pikirkan dulu ketika mau mengambil keputusan." Bram mendekati anaknya yang sedang duduk di sofa single ruang tamu rumahnya.


"Semuanya sudah terlanjur terjadi, Pa." Rehan menjawabnya ucapan papanya dengan Penuh sesal.


"Iya, semuanya sudah terlanjur terjadi. Nadia sudah terlanjur meninggalkanmu, dan kamu baru menyadari akan kesalahanmu itu." Sinis Bram.


"Nadia tidak akan meninggalkanku. Aku akan berjuang untuk mendapatkannya. Walau aku harus memulai perang dengan Dokter Aksa yang pernah menolongku dulu." Eva dan Bram membuang muka ketika Rehan menatap mereka. Keduanya sama-sama terdiam, enggan untuk menyahuti ucapan putranya.


"Sekali pergi, sulit untuk kembali." Bram menghela nafas kasar. Dia benar-benar murka dengan putranya itu.


"Ajak menantu dan calon cucu mama pulang. Sebelum mama benar-benar menyalahkan kamu atas kepergian mereka." Eva enggan menatap Rehan. Sikap kedua orang tuanya yang terkesan memojokkannya, membuat kepalanya semakin pusing.