
Nadia menarik nafasnya dalam-dalam. Kakinya terasa berat hanya untuk masuk kedalam restoran. Nadia menggigit ujung bibirnya dengan tangan meremas bajunya sendiri. Sebelumnya dia tidak pernah setakut ini untuk menghadapi sesuatu. Namun sekarang terasa beda. Hatinya seperti di sayat-sayat ketika dia mendapat kabar bahwa suaminya tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja.
Dia ingin menangis, tapi air matanya seakan sudah kering karena dia sedari tadi sudah menangis.
"Kenapa gelap?" Gumam Nadia, tidak mengerti. Kenapa restoran ini gelap? Apa pemiliknya bangkrut? Sehingga dia tidak bisa membeli token listrik.
Kedua lelaki yang berada di belakangnya entah tiba-tiba menghilang. Suara pintu di tutup dengan sangat keras. Nadia berjongkok, dia sangat takut kegelapan.
"Mas Rehan, tolong..." Isak Nadia sambil menutup wajahnya.
Semua lampu hidup, alunan musik biola masuk kedalam Indra pendengaran Nadia. Rehan berdiri di depannya dengan senyum manis miliknya.
"Kenapa, Hem? Takut gelap atau takut kehilanganku?" Rehan mengulurkan tangannya kedepan wajah Nadia. Sontak Nadia langsung menerima uluran tangan itu dengan ekspresi wajah bingung. Kata dua laki-laki tadi suaminya itu sedang....
"Kau membohongiku, Hah?" Nadia berdecak pinggang di depan Rehan sambil mengusap air matanya. Tatapan sendunya berubah menjadi tatapan tajam. Suaminya itu benar-benar....
Rehan terkekeh pelan, tangannya terurur untuk mengacak-acak rambut panjang Nadia.
"Aku tidak mau membuat kamu terus bersedih memikirkan Joe, setidaknya dengan ini aku bisa membuat pikiranmu teralihkan." Rehan membawa Nadia kedalam dekapannya. Nadia terus bergerak, dia seakan mencari tempat ternyaman di pelukan suaminya.
"Tapi tidak dengan membuatku cemas seperti ini. Bagaimana jika kau benar-benar mati? Lalu aku hidup dengan siapa?" Nadia mendongakkan kepalanya. Dia memukul pelan dada bidang Rehan. Matanya kembali berair, dia tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa sosok lelaki di depannya.
"Jika aku mati, kamu tetap akan bersamaku. Yang hilang itu ragaku, bukan cintaku kepadamu." Rehan mengusap lembut jejak air mata sang istri. Dia menggandeng tangan Nadia untuk duduk di kursi yang sudah dia hias sedemikian rupa. Tadinya dia ingin memilih tempat yang dekat dengan kolam renang, tapi dia sadar, istrinya sedang hamil. Bukannya angin malam tidak baik untuk kesehatan seorang ibu hamil?
Rehan sudah berusaha menjadi suami siaga dan perhatian. Dia terus mempelajari tentang ibu hamil di internet. Rehan mencoba sabar ketika harus menghadapi sikap menyebalkan Nadia, sikap emosional Nadia, sikap cerewet Nadia, dan tentu sikap manja tiba-tiba Nadia.
"Apa kau yang menyiapkan semua ini sendiri?" Tanya Nadia, yang di balas anggukkan kepala oleh Rehan.
"Tentu, semua ini spesyal untuk istriku tersayang." Rehan menjawabnya sambil menggegam tangan sang istri.
Swiwit....
Dua pelayan datang ketika mendengar siulan bibir dari Rehan. Pelayan itu membawa kue coklat berbentuk love. Sedangkan yang satunya membawa pisau dan piring kecil.
"Untuk merayakan kejutan malam ini, boleh dong aku ngelihat kamu motong kue?" Ucap Rehan sambil mengerlingkan satu matanya. Nadia mengangguk, dia mengambil pisau dan langsung memotong kue coklat berbentuk love itu. Mulut Nadia menganga, sebuah cincin permata ada di dalam kue itu. Rehan mengambil cincin itu dengan lembut. Dia berjongkok di depan istrinya yang masih shock. Bagaimana tidak shock, jika cincin yang berada di depan matanya adalah cincin permata yang harganya di taksir sampai ratusan juta. Dan lebih parahnya cincin itu di buat hanya satu di dunia. Limited edition guys.....
"Didepanmu aku memohon dengan penuh sangat, jadikan aku raja di hatimu. jangan jadikan aku tempat untuk persinggahanmu, tapi jadikan aku tempat untukmu berlabuh. Tolong jadikan aku rumah untukmu pulang. Aku mencintaimu, Nadia." Rehan memasukkan cincin Kejari telunjuk sang istri. Karena jari manis Nadia sudah ada cincin pernikahan mereka.
"Harus berapa kali aku mengatakan bahwa namamu sekarang bertahta di hatiku sebagai raja? Jika kamu mencintaiku dengan nyawamu, aku mencintaimu dengan hidup dan matiku." Nadia membalas tatapan teduh sang suami dengan senyuman termanisnya.
Sekarang mereka berdua sedang duduk berhadap-hadapan di meja bundar. Mereka sedang saling pandang dan mengagumi. Apa ini yang dinamakan takdir tuhan? Hidup dengan saling mencintai pasangan kita.
****
Tubuh Nadia menggeliat dikala sinar mentari sedikit mengusik tidurnya. Perutnya yang membesar membuat dia kesulitan untuk bergerak. Setelah pulang dari acara semalam, Nadia langsung tidur. Badannya terasa sangat remuk gara-gara memikirkan kondisi suaminya yang katanya sedang mengeluarkan banyak darah. Dan hatinya lega, bahwa ternyata semua itu hanya rekayasa. Nadia memandangi wajah tampan sang suami dengan bibir tersenyum. Betapa bodohnya dia karena telah menyia-nyiakan lelaki satampan dan sebaik dia.
"Morning kiss, honey." Rehan mencium lembut bibir ranum Nadia. Bukannya bangun, Rehan malah mempererat pelukannya pada tubuh sang istri.
"Udah lanjut tidur, mata kamu masih sayu tuh." Rehan menepuk-nepuk pelan pantat sang istri. Nadia mendengus, memangnya dia bayi yang harus di puk-puk pantatnya?!
"Tapi aku belum masak loh, Mas. Kamu juga kan harus ke kantor." Ucap Nadia, manja. Dia membelai dada bidang suaminya yang tidak memakai baju.
"Aku kan Bosnya, jadi terserah aku mau berangkat kerja atau tidak. Sekarang tidur lagi." Rehan berganti mengusap rambut sang istri.
"Haus..." Rengek Nadia, sambil menekuk wajahnya.
"Baiklah tuan putri, tunggu disini, aku ambilin minum dulu untukmu." Rehan bangkit dari posisi tidurnya. Melihat suaminya berjalan melewatinya, Nadia harus meneguk ludah beberapa kali. Perut six pack milik sang suami membuat hormonnya naik. Kenapa sekarang malah dia yang nafsuan?
Nadia mengucek kedua matanya, dia ikut keluar kamar dan menyusul suaminya yang berada di dapur. Nadia sibuk mengamati suaminya yang sedang membuatkan susu hamil untuknya.
"Aku mual kalau minum susu itu." Adu Nadia, tidak suka. Rehan hanya tersenyum, hal itu membuat Nadia kesal. Nadia lebih memilih berjalan ke gazebo rumahnya. Rehan menghampirinya dengan segelas susu hamil rasa coklat.
"Sini, mendekat." Rehan melambaikan tangannya kearah Nadia yang sedang duduk di atas ayunan. Sedangkan Rehan sendiri sendang duduk diatas batu yang diubah menjadi tempat duduk.
"Sini hidungnya," Rehan mengusap lembut pipi sang istri, pelan.
"Kalau aku suruh minum, minum ya? Gak kerasa bau susunya kok nanti." Rehan mulai memegang hidung mancung milik sang istri. Rehan menekan hidung sang istri pelan, lalu dia mengarahkan segelas susu hamil ke mulut sang istri. Nadia meminum susu itu sampai tandas. Betul kata suaminya, dia gak ngerasa amis atau bagaimana.
"Makasih udah perhatian sama aku." Nadia memeluk tubuh sang suami dengan senyum tipis.