Possessive Husband

Possessive Husband
53. Tujuh bulan



Seminggu sudah berlalu, tapi keberadaan Jeo sama sekali tidak ada yang tahu. Entah lelaki itu masih hidup atau sudah mati, Luwis dan Rehan sudah berhenti mencarinya. Mereka sudah mencari di seluruh rumah sakit Jakarta, namun hasilnya tetap tidak ada Jeo.


Hari ini adalah acara tujuh bulannya anak Nadia dan Rehan. Semua orang sibuk membuat makanan untuk kajian nanti malam.


"Lody, kemana Mas Rehan?" Nadia celingukan mencari suaminya yang sedari pagi tidak dia temukan.


"Pergi ke kantor sebentar katanya, nanti siang dia juga balik." Melody menjawab pertanyaan Nadia sambil memeluk Danil dari belakang. Hal itu membuat Nadia mengerutkan keningnya.


"Kamu sama Danil lagi ngapain? Tumben meluk-meluk?" Kekeh Nadia, biasanya kedua sejoli itu tidak pernah memperlihatkan kemesraannya di muka umum.


"Sahabat kami tuh Nad, dia cemburu sama perewang itu." Tunjuk Danil kepada perempuan muda yang pakaiannya, Akh, sexsy.


"Bagaimana aku tidak cemburu, Nad? Perempuan itu janda. Dan lihat pakaiannya, Awas, entar Rehan khilaf ngelihat dia." Setelah mengatakan itu, Melody menarik tangan Danil untuk pergi dari hadapannya.


Nadia mulai was-was, jangan sampai suaminya itu tergoda dengan perempuan itu.


"Aku harus siaga nih." Gumam Nadia, pelan.


***


Entah ada angin apa, Meli dan Eva terlihat akur. Mereka sedang memasak rendang bersama.


"Kurang asin kayaknya." Meli mencicipi rendang buatannya dan Eva.


"Udah aku kasih garam banyak masih kurang asin?" Tanya Eva, ragu.


"Cobain sendiri kalau tidak percaya." Suruh Meli kepada Eva. Nadia yang melihat mereka berdua tersenyum tipis.


"Senang ya ngelihat Mama kita akur?" Rehan berdiri di belakang Nadia, seperti biasanya, Nadia langsung mencium tangan suaminya.


"Iyalah, Tumben gitu mereka akur. Tadi berangkat kerja jam berapa? Aku bangun tidur kamu sudah tidak ada." Nadia merajuk, dia memanyunkan bibirnya.


"Jam 06.00 paling, aku kasihan mau bangunin kamu. Yaudah, aku mandi dulu." Rehan berjalan meninggalkan istrinya sendiri. Nadia menyusul Rehan dengan membawa tas kerja suaminya.


Nadia menyiapkan baju ganti untuk suaminya dengan perasaan senang. Usia kehamilannya sudah 7 bulan, artinya sebentar lagi dia akan melahirkan.


Rehan keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit bawah tubuhnya. Tanpa banyak bicara, dia langsung menggendong istrinya dan mendudukkannya ke pangkuannya.


"Aku berat loh, Mas. Nanti kamu encok gimana?" Nadia mengalungkan tangannya ke leher Rehan.


"Se-tua itu aku sampai encok gara-gara mangku kamu?" Rehan mencium leher Nadia sambil mengigitnya kecil.


"Ahhg, Mas. Nanti ada bekasnya." Rajuk Nadia, ingin turun dari pangkuan Rehan.


"Kalau ada bekasnya kenapa? Kan kamu memang milik aku." Rehan menyibakkan daster yang Nadia kenakan. Dia mengusap lembut perut Istrinya. Hal itu membuat rasa geli di sekujur tubuh Nadia.


Rehan ******* bibir Nadia lembut, seakan dia tidak mau melukai bibir manis itu.


"Argsss...." Rehan menikmati setiap desahan istrinya. Tubuhnya menegang dikala istrinya bermain di dada bidangnya.


Rehan tahu, sedari hamil Nadia sedikit manja dan ganas. Dia sering bermain-main di dada bidangnya.


"Aku menginginkan mu sayang." Ucap Rehan serak, Nadia mengangguk. Dia mulai bermain dengan suaminya.


***


"Kinan, Kinan, tutup mata Luwis. Di dalam rumah ada janda yang Uh banget bodynya." Melody sangat heboh ketika melihat kedatangan Luwis dan Kinan di rumah Nadia dan Rehan.


Luwis melihat Danil sambil menahan tawanya. Tangan Danil di ikat dengan tangan Melody menggunakan tali.


"Aku akan membelinya nanti." Melody menatap tajam mata Danil dari samping.


"Ya Tuhan Lody, aku tadi hanya membantunya memasukkan bahan-bahan belanjaan kedapur." Danil menghela nafas kasar. Dia tadi hanya membantu janda itu memasukkan barang-barang belanjaan untuk acara tujuh bulannya Nadia. Dia juga tidak tahu kalau perempuan itu janda.


"Alah, Modus. Gaya kamu Nil pakai acara bantuin." Luwis memang seperti kompor meleduk yang terus mengompori Melody.


"Udah-udah, jangan berantem, malu. Dan kamu Mas Luwis, kalau sampai kamu macam-macam, aku gantung kamu di pagar rumah Mbak Nadia." Ancam Kinan, lebih tajam.


"Ibaratnya Melody itu setan, lah tunangan kamu itu iblis. Jauh lebih ganas." Danil tertawa melihat wajah takut Luwis.


"Kamu ngatain aku apa tadi?" Melody menatap Danil, tajam.


"Kamu cantik, aku suka." Kinan dan Luwis saling tatap mendengar Alibi Danil.


***


Malam ini semua orang sedang menikmati acara syukuran tujuh bulan anak Nadia dan Rehan. Mereka sedang menikmati makanan prasmanan yang keluarga besar Nadia dan Rehan siapkan.


Nadia dan Rehan duduk di pojokan ruangan. Mereka sedang makan bersama. Nadia duduk di samping Rehan yang sedang menyuapinya makan.


"Aku gak suka bau telurnya, pengen muntah." Nadia mendorong sendok yang Rehan sodorkan kepadanya. Melihat reaksi istrinya yang ingin muntah, Rehan langsung menjauhkan makanannya dari hadapannya dan istrinya.


"Yaudah, aku ganti makanannya." Rehan berjalan cepat mengambil makanan baru. Kali ini Rehan mencari aman, dia mengambil opor ayam dan juga semur tahu.


Rehan kembali menghampiri istrinya yang sedang minum. Tapi ada yang aneh dengan minuman istrinya.


"Jangan kamu minum ini, ini soda sayang." Rehan merebut paksa gelas yang ada dalam genggaman Istrinya.


"Itu bukan es sirup?" Tanya Nadia, sambil menunjuk gelasnya tadi.


"Bukan, ini soda. Ini udah kamu minum?" Tanya Rehan, khawatir. Nadia menggelengkan kepalanya pelan, hal itu membuat Rehan sedikit lega.


"Baru aku selesai mengambilnya, belum sempat aku minum." Jelas Nadia.


"Syukurlah. Yaudah, buka mulutmu." Rehan menyuruh Nadia membuka mulutnya. Mereka berdua makan sepiring berdua.


"Kalian itu lagi ngirit atau lagi romantis?" Luwis duduk di depan Rehan dengan santai.


"Kinan mana?" Tanya Nadia celingukan.


"Sama Melody, ngintrogasi janda." Jawab Luwis, sambil meringis pelan.


"Akhirnya bisa kabur juga." Danil duduk di samping Luwis dengan nafas memburu.


"Kenapa, Nil?" Tanya Luwis sambil menahan tawanya.


"Gila, perempuan kalau lagi cemburu ganas banget. Aku tadi sampai di ikat di kursi sama Melody, Kinan sama Melody Lagi ngintrogasi janda." Jelas Danil, sambil meminum soda yang Nadia ambil tadi.


"Janda siapasih, Mas?" Tanya Nadia, penasaran.


"Kamu kira aku RT, tahu semuanya." Nadia meringis ketika mendengar jawaban suaminya.


"Seandainya ada Jeo..." Luwis menatap datar kedepan.


"Dia masih ada, tapi kita tidak tahu keberadaannya." Balas Rehan, datar. Seandainya ada sahabatnya itu, pasti acara tujuh bulan anaknya tambah seru.


"Udahlah Bro, sekarang kita doakan dia saja. Kalau dia masih hidup, semoga dia cepat di temukan. Dan jika dia sudah pergi, semoga dia di tempatkan disisi terbaik tuhan." Semuanya terdiam. Danil mengerti akan keadaan ini, pasti Luwis dan Rehan masih terpukul karena kehilangan sahabatnya.