
Baru saja Rehan dan Nadia pulang dari rumah Eva, di rumahnya sudah ada Jeo yang berdiri di depan gerbang. Tampaknya lelaki itu sedang marah, di lihat dari wajahnya yang memerah.
"Rey, tadi aku lihat Luwis ngaploud dua cincin di Instagram dan di kasih caption Alhamdulillah, lancar. Itu maksutnya apa?" Jeo bertanya dengan nafas memburu. Akhir-akhir ini dia memang tidak pernah berkumpul dengan kedua sahabatnya, karena dia harus mengurus hubungannya dengan Gita. Tapi kalau Luwis menikah, terus tidak mengundang dirinya dengan alasan tidak bertemu dengannya, berarti Luwis memulai peperangan persahabatan dengannya.
Emosi Jeo semakin meninggi dikala dia pergi ke rumah Rehan dan Nadia, namun keduanya tidak ada di rumah. Jeo berfikir, mereka berdua datang ke acara pernikahan Luwis tanpa dirinya.
"Oh itu, dia kan malam ini tunangan sama Kinan, sekretarisku." Jawab Rehan, santai. Dia masuk kedalam rumahnya, mengekor Nadia yang berjalan kedapur untuk mengambil minum.
"Nih, Je. Kamu minum dulu, jangan emosi dulu. Mas, aku mau mandi dulu." Pamit Nadia, berjalan menaiki tangga rumahnya.
Jeo meminum minuman yang di bawa Nadia tadi, dia menghelat nafas kasar. "Kenapa aku tidak di undang? Pasti kamu sama Nadia abis dari sana. Aku udah nungguin kalian lama."
Rehan memijat pangkal hidungnya, Kenapa sahabatnya yang biasanya diam mendadak jadi cerewet?
"Dia itu tunangan dengan Kinan cuma ngundang keluarganya dan keluarga Kinan. Lagi pula aku sama Nadia gak dari sana, kita itu dari rumahku." Jelas Rehan, panjang lebar. Lagi-lagi Jeo mendengus, dia menyandarkan punggungnya di belakang sofa rumah Nadia dan Rehan.
"Aku kirain mereka nikah gak ngundang-ngundang aku." Jeo terlihat sangat lelah. Dan Rehan sadar itu.
"Mending kamu istirahat di kamar tamu, Je. Kasihan aku ngelihat kamu, pasti masalah kamu sama Gita belum selesai." Rehan melihat sahabatnya dengan iba. Jeo tidak pernah sekacau ini, namun sekarang...
"Aku mau pulang, masih ada urusan yang harus aku selesaikan besok. Salam buat Nadia." Jeo berjalan keluar dari rumah Rehan, matanya sungguh sangat berat.
"Hufff..., Je, Je, masih aja ngejar-ngejar mantan." Gumam Rehan, pelan.
***
Luwis sedang pamer di Instagram tentang Kinan kekasihnya. Akhirnya dia tidak jomblo lagi. Ada banyak pesan masuk dari Jeo, tapi dia abaikan. Pasti sahabatnya itu mengamuk karena tidak dia undang.
"Luwis itu sampai membuat saya dan papanya bingung, Bu. Ngadain lamaran kok dadakan, saya kira dia ngehamilin perempuan dulu." Mama Luwis bicara dengan Mama Kinan sambil menghela nafas lega. Jujur saja, sewaktu putranya menelepon dirinya dan bicara ingin melamar seorang perempuan, dia sangat shock.
"Nak Luwis baik kok, Bu. Mana mungkin dia menghamili anak saya." Balas Mama Kinan sambil tersenyum. Mama Luwis mengangguk, semoga saja anaknya itu tidak bertindak di luar batas.
Di balkon kamar Kinan, mereka berdua sedang menikmati suasana kota Jakarta pada malam hari. Luwis dan Kinan saling tatap dengan bibir tersenyum.
"Aku kira jodohku orang jauh, ternyata malah sekretaris sahabatku sendiri." Luwis Menggegam jemari tangan Kinan, dia mengusap punggung tangan itu lembut.
"Aku juga gak nyangka kalau aku yang biasa ini bisa berjodoh dengan kamu, Mas. Padahal banyak perempuan di luar sana yang lebih dari aku yang siap menjadi pendamping kamu. Dan entah kenapa kamu malah milih aku." Kinan memeluk Luwis, dia merasa jantungnya berdetak cepat seperti kuda melaju ketika dia berada di dekat lelaki ini.
"Itu karena aku mencintaimu." Luwis menempelkan Keningnya dengan kening Kinan.
"Apa benar kalau cinta itu buta?" Tanya Kinan, lugu. Luwis menggeleng pelan.
"Lihat bintang disana, dia bersinar paling terang, seakan sedang menyaksikan kisah cinta kita berdua." Tunjuk Luwis, pada bintang yang paling terang di langit.
"Iya, aku melihatnya." Kinan menempelkan tubuhnya pada tubuh Luwis.
***
Berita tentang kecelakaan beruntun di siarkan melalui Chanel televisi pagi ini. Nadia yang sedang menonton televisi sambil menyesap tehnya, langsung menjatuhkan gelas yang berisi teh dari genggamannya.
"Kecelakaan beruntun yang di sebabkan oleh pengemudi yang mengantuk, membuat 3 orang meninggal, 2 orang luka-luka ringan, 1 orang luka parah, dan 4 orang selamat. Di duga pengemudi itu menabrak truk yang parkir di pinggir jalan."
Jantung Nadia bagaikan mau copot. Matanya memanas, dia tidak sanggup untuk sekedar berdiri.
"Mas..., Mas Rehan...!!" Nadia berteriak sambil menangis. Tangannya memegang dadanya yang terasa sangat nyeri.
Rehan yang semula sedang mandi, langsung berlari menghampiri istrinya. Rehan benar-benar sangat panik ketika melihat istrinya menangis sambil memegang dadanya.
"Apanya yang sakit sayang? Bilang, apanya yang sakit?" Rehan terlihat sangat panik. Ini bukan waktunya istrinya melahirkan. Karena kandungan istrinya baru menginjak 6 bulan 3 hari. Lalu kenapa dia menangis?.
"Je_jeo, Mas. Je_jeo..." Nadia memeluk suaminya, dia menumpahkan air matanya disana. Kabar berita tadi sungguh masih berputar di kepalanya.
"Jeo? Dia kenapa?" Tanya Rehan tidak mengerti. Dia bingung, ada apa dengan sahabatnya?
"Je_Jeo kecelakaan, Mas. Dia ikut dalam kecelakaan beruntun karena menabrak truk yang sedang parkir di pinggir jalan. Di duga pengemudi mobil mengantuk. Dan mobil yang berada di belakang truk itu adalah mobilnya Jeo. Kalau dia ngantuk, kenapa dia tidak tidur di rumah kita saja?" Nadia benar-benar sangat sedih dikala mendengar kabar tentang kecelakaan yang menimpa Jeo, sahabat suaminya. Lelaki itu sudah banyak membantu masalah rumah tangganya dan suaminya.
Seketika badan Rehan membeku, semalam dia sudah menyuruh sahabatnya itu untuk istirahat dirumahnya. Namun Jeo menolaknya dengan alasan nanti pagi ada urusan yang harus dia selesaikan.
Berita tentang kecelakaan itu terus di siarkan, tapi sang reporter tidak menyebut siapa saja orang yang meninggal karena kecelakaan maut itu. Mereka hanya menyebutkan berapa orang yang meninggal, bukan nama orang yang meninggal.
Jantung Rehan seperti di remas ketika melihat mobil sahabatnya hancur tidak berbentuk. Bahkan mobil itu lebih parah dari mobil-mobil orang lain yang juga mengalami kecelakaan.
"Baru kami liput kembali, ternyata ada satu orang lelaki yang di kabarkan hilang. Di Mobilnya hanya ada Heandpon dan dompet yang bersisi KTP, nama lelaki itu adalah Jeo Alexander."
"Mas..." Teriak Nadia. Rehan mematikan televisinya. Dia memeluk istrinya yang mungkin sedikit tertekan.
"Ini bagaimana?" Nadia meremas dadanya sendiri.
"Akan aku cari tahu semuanya, kamu tenanglah. Kalau kamu stress seperti ini, kasihan anak kita. Dia pasti ikut kena dampaknya." Rehan mencoba menenangkan istrinya, dia mengusap punggung istrinya pelan.
"Dia sudah berjasa untuk keluarga kita. Dia sudah banyak bantuin kita, Mas." Nadia menangis sesenggukan. Rehan mengangguk, dia tahu itu. Bahkan sahabatnya itu lah yang perduli padanya, di saat keluarganya, Luwis, dan orang-orang lainnya membencinya.