
"Kurasa kita tidak pernah bertemu, kamu menunjukku seperti itu bukankah kurang sopan, Nona? Ya, walaupun aku tau bahwa pesonaku ini memang tidak bisa teralihkan, bahkan sejak pertama kali bertemu sekalipun."
"Hah?" Fitri sedikit tercengang mendengar penuturannya, walaupun memang tidak saling kenal, tapi mereka baru saja bertemu kemarin, dan tidak mungkinkan, ia dilupakan begitu saja setelah apa yang ia terima dari pria brengsek itu? Bahkan dirinya masih sangat hafal bagaimana senyum licik pria itu tampil di depan matanya.
"Kau ingin berpura-pura tidak mengenalku setelah melakukan suatu hal yang menjijikkan? Tidak takut aku akan menuntutmu, hm?" ancam Fitri berani.
"Sialan, setelah terlihat polos dan ketakutan di hadapanku, ternyata sebenarnya ia juga wanita yang licik, apa karena ada pria ini di sampingnya lantas begitu berani terhadapku?" batin sang pria.
Pria itu bernama Burhan, ia melirik ke arah Andini dengan raut wajah serius. "Bagaimana kamu akan menyelesaikan masalah ini?"
Pertanyaan Burhan pun berhasil membuat Andini pucat pasi, apa yang mesti ia jawab, sementara sekarang ia tak memiliki cukup uang untuk diberikan pada Burhan, tapi jika ia tak menuruti keinginan pria itu, maka semuanya akan sia-sia begitu saja, Hendri akan tahu yang sebenarnya.
"Han, bisa kamu pergi dulu sekarang? Aku akan menemuimu setelah masalahku di sini selesai," bisik Andini tepat di telinga Burhan, tak ingin Hendri dan Fitri mendengarnya.
"Baiklah jika itu yang kamu mau." Burhan mengangguk sembari menatap Hendri dengan lekat.
Andini pun merasa lega, akhirnya Burhan bisa mengerti dengan keadaannya sekarang.
"Kamu suaminya Andini, kan?" tanya Burhan tanpa mengalihkan pandangan dari Hendri.
Hendri pun diam saja, tak berniat untuk menjawab pertanyaan tersebut.
"Anak yang di kandung Andini adalah anakku, darah dagingku, selama ini kau telah ditipu olehnya." Burhan mengatakan apa adanya, jujur tanpa di manipulasi sedikitpun. Andini memintanya pergi, jadi tidak ada alasan baginya untuk menutupi itu lebih lama lagi, ia hanya butuh uang sekarang.
Sedetik setelah Burhan mengatakannya, mata Andini melebar sempurna, antara gugup dan marah, ia tak tahu harus berucap apa hingga hanya bisa diam dengan lidah yang terasa kelu.
Wajah Hendri tampak begitu tenang, tidak sesuai dengan ekspektasi Burhan yang mengira bahwa Hendri akan terkejut dengan pengakuannya.
Ya, hal itu memang tidak cukup untuk membuat Hendri terkejut, lebih tak layak lagi untuk menyita perhatiannya.
"Sekarang kalian berdua silahkan tinggalkan rumahku, kalian tidak cukup pantas menginjakkan kaki di sini. Seharusnya aku juga tidak perlu mengantar kalian hingga ke gerbang depan, kan?"
"Ayo kita masuk." Hendri merangkul pundak Fitri dan berpaling dari Andini, berniat meninggalkan mereka lebih dulu.
"Lepaskan tanganmu!" tegas Hendri pada Andini yang sedang mencengkram pergelangannya dengan kuat.
"Mas, kamu tidak boleh bersikap tak adil padaku, kamu tidak bisa menelantarkan aku begitu saja, Mas," mohon Andini dengan tampang yang butuh belas kasihan.
Namun, siapa yang akan peduli?
"Aku bilang lepas!" Hendri semakin melotot tajam dan menepis tangan Andini hingga wanita itu pun terpental ke lantai.
"Mas!" Tak peduli seberapa keras ia berteriak, Hendri sama sekali tak menghiraukannya, ia ditinggalkan begitu saja, menggandeng Fitri dengan sejuta kelembutan yang tak terbatas.
"Sial!" Andini mengumpat kesal.
"Kenapa bukan aku yang ia cintai?" batinnya memberontak, benar-benar tak terima akan situasi yang tak berpihak padanya.
"Kamu meninggalkannya begitu saja, apa dia akan menerimanya? Aku takut akan ada kejutan baru yang akan ia lakukan pada kita di masa mendatang, Mas." Dari tadi Fitri hanya diam dalam kecemasan, ia tahu Andini tidak akan semudah itu menerima perlakuan Hendri.
"Aku ada di sini bersamamu, apa yang akan kamu takutkan?"
Hendri memegangi kedua bahu Fitri dan menatapnya dengan penuh keyakinan, wajah serius dan yakin itu berhasil membuat Fitri merasa nyaman dan aman bila bersamanya.
"Ingat, selama aku masih bersamamu, maka aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhmu dengan kelicikan mereka, dan kita punya Tuhan, kan? Serahkan takdir kita padanya, cukup berusaha sebisa mungkin, maka semuanya akan terlewati," ujar Hendri sambil menatap wajah cantik istrinya yang kini tampak mulai berkaca-kaca.
"Setelah melalui banyak rintangan bersamanya, aku tak pernah berpikir akan mencapai titik di mana semua rintangan itu akan benar-benar berakhir sekarang, tapi kalau boleh jujur, seberat apapun yang aku alami dari setiap rintangan yang ada, aku tidak pernah menyesal telah mencintainya, sekarang Tuhan telah menjawab doa-doaku, dia yang kucintai, sekarang telah berdiri di hadapanku memberikan kedua tangan dan bahu kokohnya untuk aku jadikan tumpuan disaat tengah bersedih, sekarang yang ada di depan mataku, benar-benar terlihat begitu nyata, setelah selama ini selalu menganggapnya sebuah bayangan semu yang mungkin tak akan bisa kugapai," batin Fitri.
"Terimakasih telah memperjuangkan aku sampai saat ini, Mas. Aku akan tetap menjadi diriku yang dulu, menjadi wanita yang selalu mencintaimu dari dulu, sekarang, hingga Tuhan sendiri yang akan memutus cinta itu suatu saat nanti."
"Tugasku sekarang, hanya menjadi seorang istri yang taat dan patuh padamu, juga akan melayanimu 24 jam selama dalam keadaan sehat." Fitri tersenyum sumringah, memberikan senyuman paling lebar dan berarti pada suaminya.
Hendri mendekap tubuh mungil itu dengan erat, akhirnya dekapan itu pun terasa begitu nyata, sekarang tidak ada lagi yang bisa menjadi penghalang untuknya mencintai Fitri tanpa batas, bahkan sampai ia matipun, wanita itu akan tetap abadi dalam ingatannya.
Selesai.