
Tiada hari yang dilalui Fitri di rumah sakit tanpa sosok Hendri, pria itu selalu siap siaga menjaganya, bahkan pekerjaan yang seharusnya membutuhkan Hendri, tapi pria itu lebih memilih untuk menemani Fitri setiap hari tanpa meninggalkannya.
"Mas, kamu tidak lelah?" tanya Fitri tiba-tiba saat Hendri sedang merapikan selimut yang menutupi setengah tubuh Fitri.
Hendri menatap Fitri sejenak lalu tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaan itu.
"Mas?" panggilnya lagi.
"Ya?"
"Kamu kenapa diam saja?"
"Jika kamu dapat melihat wajahku sekarang, kamu akan tahu apakah aku lelah atau tidak."
"Tapi sayangnya aku tidak bisa melihat, jadi karena itu aku bertanya."
"Aku tidak akan ada di sini jika aku merasa lelah."
Begitulah percakapan mereka berlangsung, hampir setiap hari Fitri terus bertanya apakah Hendri lelah atau tidak, tapi ia hanya mendapat satu kata jawaban yaitu tidak.
"Mas, apa kamu tahu keberadaan Angel sekarang? Aku tidak pernah mendengar kabarnya semenjak kecelakaan itu," tanya Fitri lagi saat ia akan bersiap untuk tidur.
"Aku tidak dapat menghubunginya, mungkin dia sudah mengganti nomor yang biasa sering ia gunakan," jawab Hendri datar.
Fitri menghela napas dengan berat, sedikit kecewa kenapa sahabat baiknya itu tidak pernah memberi kabar padanya.
Tak lama setelah percakapan itu, ponsel Fitri berdering menandakan masuknya sebuah panggilan, akibat kecelakaan, ponsel Fitri tampak sudah retak, tapi masih bisa digunakan untuk sekedar mengangkat telepon.
"Mas, bisakah kamu melihat siapa nama yang tertera di sana?" Fitri meminta tolong pada Hendri sebab ia tak bisa melihat siapa gerangan yang meneleponnya.
Hendri beranjak dan melihat ponsel Fitri. "Tidak ada namanya, nomor ini sepertinya dari negara asing." Sembari memberikan ponsel tersebut pada pemiliknya.
"Halo," ujar Fitri sedikit ragu.
"Halo, Fit. Kamu belum tidur, kan? Ini aku Angel." Terdengar suara wanita di seberang telepon.
"Angel? Ya Allah, kamu ke mana saja, kenapa baru kabari aku sekarang?" Fitri tampak senang setelah mengenali suara sahabatnya.
"Aku sekarang ada di Jepang, Fit. Mendadak pergi saat itu, tidak sempat memberitahumu. Kakekku meninggal dan aku diminta oleh ayah untuk tinggal di sini menemani nenek sembari melanjutkan S2 di Jepang. Maafkan aku ya, Fit," tutur Angel menjelaskan.
"Tidak apa-apa, mendengarmu baik-baik saja, aku sudah cukup lega, untunglah kamu masih ingin menghubungiku." Fitri tersenyum.
"Lalu bagaimana dengan kabarmu, kamu baik-baik saja, kan?" angel balik bertanya.
Senyum yang tadinya merekah, kini berubah menjadi senyuman getir. "Aku ... aku baik-baik saja," jawabnya berbohong, tak ingin membuat sahabatnya khawatir.
"Baguslah jika kamu baik-baik saja, aku bisa lebih tenang, mungkin kedepannya kita akan sangat lama baru bisa bertemu kembali, kamu jaga kesehatan terus ya, Fit. Maaf tidak bisa terus mendampingimu saat bekerja di rumah sakit." Suara Angel memelas lemah.
Fitri kembali menorehkan senyum tipis, sedikit sedih ketika Angel mengatakan bahwa mereka akan sangat lama baru bisa bertemu kembali, tapi juga cukup bagus, setidaknya saat ini Angel tidak akan tahu bahwa dirinya saat ini telah mengalami kebutaan.
"Kamu fokus saja dengan studimu, jangan pikirkan aku, di sini aku baik-baik saja," ujarnya sambil terus berusaha menahan sesak, tak kuasa rasanya menahan rasa sedih kehilangan sahabat meski hanya sementara, tapi tetap saja untuk waktu yang cukup lama.
~~
Hendri mengangguk serius, membuat dokter hanya bisa menghela napas pasrah, ia pun tak bisa mencegah keputusan yang telah dibuat oleh Hendri.
Setelah dua minggu menjalani perawatan pasca koma, kini Fitri telah diputuskan untuk bisa menjalani transplantasi kornea.
Fitri tampak tersenyum bahagia, akhirnya ia bisa kembali melihat lagi.
"Mas, terimakasih kamu sudah mendampingiku selama ini, setelah aku bisa melihat lagi, aku akan membuatkanmu sebuah masakan spesial tanda terimakasihku untuk yang telah kamu lakukan selama aku dirawat, tolong kamu tunggu aku, ya," ujar Fitri dengan hati yang begitu berbunga dan tak sabar lagi.
Hendri mengelus rambut wanita itu dengan lembut, sembari tersenyum cerah. "Pasti, aku akan menunggumu sampai saat itu tiba."
Operasi berjalan dengan lancar, tapi saat itu juga, Fitri tak lagi mendengar suara Hendri di ruangannya.
"Sus, apa kamu tahu ke mana pria yang selama ini selalu bersamaku? Kenapa aku tak mendengar suaranya sejak aku sadar dari pengaruh bius."
"Oh, pria itu. Beliau berpesan pada saya untuk menggantikannya sementara waktu menjaga Anda, ada keperluan mendesak yang harus diselesaikan," jawab suster tersebut sembari mengecek keadaan Fitri.
Seminggu kemudian.
Perban mata Fitri akan segera dilepas, perlahan Fitri membuka matanya dan pandangan buram mulai terlihat hingga lama-kelamaan menjadi terang, ia dapat melihat jumlah dan wajah orang-orang yang ada di ruangan itu.
"Bagaimana?" tanya dokter.
Fitri tersenyum kegirangan. "Saya bisa melihat lagi, Dok. Saya bisa melihat lagi," ucapnya berulang saking senangnya.
"Baguslah, sekarang kamu jangan kerja berat dulu, terapkan makanan yang kaya akan serat dan seimbang, agar matamu juga sehat." Semua yang ada di ruangan itu ikut senang atas keberhasilan operasi yang dijalani Fitri.
"Dokter, apa Mas Hendri tidak datang hari ini?" tanya Fitri yang seketika teringat akan pria itu.
"Saya kurang tau, tapi yang pasti sebelum beliau pergi, sempat meminta saya untuk melakukan yang terbaik untuk operasi Anda, dia pria yang cukup tulus. Jangan disia-siakan." Dokter tersenyum, lalu berbalik badan dan meninggalkan ruangan itu setelah memastikan semua baik-baik saja.
Belum juga lama setelah perban dibuka, setelah kepergian sang dokter dari ruangan, seketika pintu dibuka dengan kasar oleh seseorang.
"Mbak Andini?" Fitri mengerutkan alis tak percaya. Kenapa tiba-tiba saja wanita itu datang menemuinya.
"Dasar wanita murahan!" teriaknya sembari berjalan dengan cepat menghampiri Fitri.
"Mbak, kamu kenapa?" tanya Fitri panik melihat raut wajah Andini yang begitu marah.
"Dasar bedebah, kembalikan mata Mas Hendri, beraninya kau mengambilnya begitu saja, kau pikir siapa dirimu, hah?" Andini mencekik leher Fitri dengan kuat, membuat wanita itu seakan ingin kehilangan napasnya.
"Mbak, lepaskan. Anda bisa kami tuntut karena mengganggu ketenangan pasien." Dua perawat yang masih ada di sana segera menarik kedua belah tangan Andini hingga berhasil terlepas.
Fitri terbatuk merasa kesakitan. Kepalanya tiba-tiba terasa pusing.
"Mas Hen ...," lirihnya dalam pandangan yang mulai buram. Yang ada di pikirannya kali ini hanya Hendri. Hingga ia pun tak sadarkan diri detik itu juga, mengenai Andini, ia tak dapat mengingatnya lagi.
Jangan lupa likenya, Guys.
See you