
"Kenapa terus menghindar, tidak ingin disentuh olehku, tapi senang disentuh pria lain, apa kamu sesungguhnya memang semurahan itu, hm?" Hendri lagi-lagi menyeringai sinis menatap Fitri yang dari tadi selalu menghindar saat ia dekati, mulai geram pada wanita yang selama ini begitu sabar ia hadapi.
Dengan kasarnya Fitri melempar bantal ke arah wajah Hendri, tak peduli apakah pria itu akan semakin marah atau tidak. Ia tak terima, ini kali kedua Hendri menyebutnya sebagai wanita murahan, tampaknya ia tak dapat mentolerir pria di hadapannya ini lagi.
"Ya! Lalu kenapa jika aku memang wanita murahan? Lantas kenapa kau menyukai wanita murahan sepertiku?" cibir Fitri dengan puncak kemarahan yang mulai membuncah.
"Sekarang kau mau apa, hm? Aku benar-benar bodoh telah percaya dengan pria sepertimu, Mas. Jika kau memang ingin membuktikan apakah aku telah bermain gila dengan pria lain. Ayo, silahkan, kita buktikan dan buka mata kamu lebar-lebar, sebaiknya kamu cari kebenarannya terlebih dahulu sebelum kamu berani mencela kehormatanku sebagai seorang wanita." Wajah Fitri memerah, urat lehernya nampak muncul akibat terus berteriak penuh penekanan.
"Kenapa kamu diam saja, hah? Sini, akan kuperlihatkan padamu bagaimana caraku bermain dengan pria lain." Fitri dengan kasarnya melangkah cepat menghampiri Hendri.
"Ini yang kamu inginkan, bukan?" Fitri mulai membuka handuk yang membalut tubuhnya, hingga kini ia berdiri di hadapan Hendri tanpa sehelai benang pun, bahkan dengan rambut yang masih menggumpal basah.
"Kamu lihat baik-baik tubuh yang katamu sudah digauli oleh pria lain ini, Mas. Buka mata kamu lebar-lebar dan mulailah apa yang ingin kamu lakukan terhadap wanita yang kamu sebut murahan." Fitri tak ingin merasa malu lagi, Hendri sudah sangat keterlaluan sekarang, biar pria itu tahu dan melihat apakah tuduhannya itu benar atau tidak.
"Mas Hendri, apa kamu di dalam?" Suara Andini terdengar bersamaan dengan terbukanya pintu kamar, Andini bahkan juga melihat bagaimana tubuh Fitri yang berdiri tanpa busana dan Hendri dalam keadaan yang bertelanjang dada.
Andini seketika menutup mulutnya yang terbuka lebar, sedikit tak siap melihat kejutan tiba-tiba di depan matanya.
"A-apa yang ingin kalian lakukan?" ujarnya tergagap.
Hendri seketika dengan cepat memeluk tubuh Fitri, berusaha menutupi tubuh istrinya agar tidak terlihat oleh Andini meski mereka sama-sama seorang wanita.
"Siapa yang mengizinkanmu masuk, hah?!" bentak Hendri dengan keras sambil memeluk dengan erat.
"Keluar sekarang," titah Hendri lagi.
"Tapi, Mas."
"Aku bilang keluar sekarang!" bentaknya dengan suara tinggi membuat Andini terkejut, lantas keluar dengan tergesa-gesa.
Usai keluarnya wanita itu, Fitri mendorong tubuh Hendri sekeras mungkin, Hendri tak melawan dan membiarkan Fitri berbuat sesukanya.
"Kenapa kamu diam saja? Bukankah tadi kamu sangat ingin menyentuhku? Ayo, lakukan sekarang. Biar kamu tahu bagaimana rasanya mencicipi tubuh wanita murahan ini," tantang Fitri dengan berani sambil melangkah maju mendekati Hendri. Namun, pria itu berjalan melewati Fitri, meraih handuk yang tergelatak di lantai.
Hendri menatap wajah Fitri dengan mata sendu, kenapa ia lagi-lagi tak dapat memgendalikan emosinya.
"Tolong hukum aku." Hendri memeluk tubuh Fitri sambil membalut tubuh wanita itu dengan handuk yang barusan ia pungut.
"Kamu berhak memberi hukuman pada suamimu yang bodoh ini, tidak apa jika kamu tidak memaafkanku, ini adalah ganjaran yang harus kuterima karena berbuat kasar padamu." Benar-benar menyesal akan perbuatannya, ia terima jika memang Fitri tak dapat lagi memaafkannya, sebagai seorang pria dewasa, ia sungguh merasa gagal akan sikapnya, ia tak dapat mensejahterakan wanita yang ia cintai dan membuatnya bahagia, malah semakin menambah derita bagi Fitri akan sikapnya yang tak pernah deawasa dan selalu semena-mena. Jadi wajar saja jika Fitri kali ini tidak akan mengampuninya.
Wajah Fitri kali ini terlihat begitu datar, ia merasa seperti hatinya terasa begitu mati, ia tak dapat lagi mengekspresikan perasaannya saat ini, hatinya telah berulang kali terhempas dan jatuh ke lubang dalam yang ia sendiri tak tahu seberapa jauh lagi kedalamannya. Akankah ia akan terus terpukul akan sikap pria yang terus berubah-ubah itu? Apa ia mampu bertahan lebih lama lagi? Namun, apakah ia juga rela melepaskan cintanya begitu saja?
Entahlah, sepertinya sangat malu jika ia bertahan hanya mengatas namakan cinta. Apa itu cinta? Apakah masih dapat dikatakan sebagai cinta jika hanya bisa saling menyakiti?