
"Tapi tunggu, bukankah katanya Fitri buta? Tapi dia bahkan bisa berlari." Sambil berpikir, Rangga tetap berlari mengejar Fitri.
"Fit, tunggu!"
Meski terasa begitu pusing, tetap berlari dan akhirnya mampu meraih tangan wanita itu.
"Fitri, ini aku," ucapnya dengan napas yang tersengal-sengal.
"Mas Rangga?" Fitri sedikit terbelalak tak percaya.
Rangga masih tak mampu menjawab dengan napasnya yang belum stabil, belum lagi kepalanya terasa semakin sakit.
"Bukannya kamu sedang di luar negeri, Mas?" tanya Fitri. Tak berpikir Rangga akan ada di depan matanya.
Rangga masih tak menjawab, mengatur napasnya agar kembali normal. Melihat hal itu, Fitri menuntun Rangga untuk duduk di pinggir jalan dan memesan dua mangkuk mie ayam gerobak yang memang tidak jauh letaknya dari tempat mereka berdiri.
"Minum dulu, Mas." Sembari menyodorkan air mineral pada Rangga.
"Terimakasih." Dengan cepat Rangga meraih dan meminumnya hingga setengah.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Fitri heran melihat Rangga yang tampak pucat, sebelumnya ia melihat pria itu sangat segar dan bugar, tidak seloyo sekarang.
Rangga menggeleng sambil berkata, "Tidak apa-apa."
"Kamu kapan kembalinya, Mas?"
"Baru hari ini, tak menyangka bisa bertemu kamu dengan cepat, tapi kamu malah kabur." Ia pun menyeka keringat di dahinya yang bercucuran, terasa sangat tidak mengenakkan.
"Aku mendapat informasi kamu mengalami kecelakaan dan terjadi sesuatu pada matamu, apa informasi ini salah?" Rangga langsung bertanya.
Fitri diam sejenak. "Itu memang benar," lanjutnya.
"Maksud kamu bagaimana?" alisnya mengerut, masih tak mengerti.
Fitri menghela napas dengan berat, lalu menceritakannya dari awal hingga akhir tanpa terlewat sedikitpun.
"Dia ada di rumahnya," jawab Fitri sembari mengusap air mata di wajahnya.
"Fit, lalu bagaimana dengan jawaban yang selama ini kutunggu?" Rangga tiba-tiba kembali membahas tentang jawaban yang pernah dijanjikan oleh Fitri. Pernyataan cintanya saat itu, tidak mendapat jawaban apapun, dan Fitri berjanji akan memutuskan pilihannya setelah ia kembali ke tanah air.
Meski pulang terlalu cepat tanpa menunggu waktu di mana ia sembuh, tapi ia benar-benar berharap Fitri akan menerimanya dan berkata 'iya' bahwa ia setuju untuk menikah dan menua bersama.
Fitri tampak tertunduk, tanpa mengatakan apapun. Rasa sedih yang tadinya menyelimuti, sekarang berganti dengan rasa canggung dan tak enak hati.
Dari kejauhan, Niko yang memperhatikan mereka di dalam mobil, hanya bisa tersenyum kecut.
"Cinta benar-benar mengubah seseorang," gumamnya tanpa mengedipkan mata melihat dua insan yang sedang duduk berdampingan itu.
"Maafkan aku, Mas," lirihnya, masih tertunduk tanpa berani menatap wajah Rangga.
"Tapi kenapa, Fit?" Raut wajah Rangga menuntut sebuah penjelasan dari Fitri.
"Aku tak bisa membohongimu dan diriku sendiri, Mas."
"Maksudmu, kamu sudah memiliki pria yang kamu inginkan?" Rangga langsung dapat menebak meski Fitri tak mengatakannya.
"Kamu yakin perasaan itu tidak hanya sekedar rasa belas kasihan dan balas budi terhadapnya?" Rangga masih ingin memastikan, jika memang yang ia katakan adalah benar, maka ia tak bisa menerima penolakan itu.
Fitri menggeleng pelan. "Ini lebih daripada rasa kasihan dan balas budi, meski ia tak menginginkanku, aku juga akan tetap bertahan dengan kesendirianku," jawab Fitri dengan serius.
"Aku ingin bertemu dengannya, antar aku ke sana." Rangga beranjak dari tempatnya dan menunggu Fitri agar bisa pergi bersama.
"Untuk apa kamu ingin bertemu dengannya, Mas?" Fitri tak mampu menutupi kecemasan ketika melihat Rangga yang begitu terburu-buru ingin bertemu dengan Hendri.
"Aku harus bicara empat mata padanya."
Mendengar itu, Fitri semakin gelisah, tidakkah Rangga akan mencari masalah dan membuat kekacauan? Bagaimana jika ia nekat mencelakai Hendri karena berpikir Hendri tidak akan mampu melawan sebab tak dapat melihat.