
"Fitri, Fitri bangun." Hendri terus mengguncang tubuh wanita itu yang sedang tak sadarkan diri setelah ia menjelaskan tentang kehamilan Andini.
Namun, Fitri tak kunjung bangun hingga mengharuskan ia menggendong tubuh mungil tersebut untuk dibawa segera ke rumah sakit.
"Aku tidak akan mengatakan yang sebenarnya jika tahu kamu akan seperti ini," batin Hendri setelah mereka berada di perjalanan, Hendri terus memangku kepala Fitri di dalam mobil.
Sementara Andini kian terus menelepon tiada henti, meski sudah ia tolak beberapa kali. Hingga akhirnya mau tak mau ia pun mengangkatnya.
"Mas, kamu di mana? Tolong, perutku sakit, aku takut terjadi sesuatu pada anak kita." Terdengar suara Andini yang sepertinya menahan rasa sakit.
Hendri mengernyit, ia memang tak peduli pada Andini, tapi anak yang dikandungnya? Tidak bisa membuatnya diam saja, ia peduli pada darah dagingnya meski tak menyukai ibu dari anaknya itu.
"Kamu sekarang di mana?"
"Masih di kamar hotel."
"Kalau begitu kau pergilah ke rumah sakit menggunakan taksi yang kupesankan, aku akan menyusulmu," ucapnya lagi.
"Baiklah, tapi kamu berjanji harus datang menyusulku, ya!"
"Ya," jawabnya singkat lalu memutus sambungan telepon.
"Alangkah baiknya jika yang mengandung anakku itu adalah kamu, Fitri." Ia kembali membatin sambil terus menatap wajah pucat wanita itu yang masih dalam pangkuannya.
"Pak, bisa lebih cepat lagi?" pintanya pada sang pemandu mobil.
"Baik, Pak." Sopir pun melaju dengan cepat sesuai permintaan.
Tak lama mobil pun berhenti di depan rumah sakit, Hendri segera meminta tolong pada tim medis untuk membawa Fitri masuk agar segera diperiksa.
Setelah beberapa menit usai dokter melakukan pemeriksaan pada Fitri, Hendri pun dipersilahkan untuk masuk ke dalam melihat pasien.
"Apa yang terjadi padanya, Dokter?"
"Tidak apa-apa, dia hanya kekurangan darah juga kelelahan, akan segera sadar jika sudah cukup beristirahat, sebaiknya jangan ganggu dia," jawab sang dokter menjelaskan. Hendri pun cukup lega mendengarnya, hanya saja sedikit iba melihat wajah Fitri yang begitu pucat, wanita itu sudah terlalu sering ia sakiti, entah bagaimana ia bisa menebus semua kesalahan yang telah ia lakukan terhadap wanita di hadapannya ini.
Hendri perlahan mendekati Fitri setelah dokter dan perawat keluar dari ruangan. Baru saja ingin menyentuh rambut Fitri, tiba-tiba saja wanita itu terbangun.
"Fitri, kenapa kamu bangun? Beristirahatlah yang cukup agar tenagamu pulih kembali." Wajah Hendri tampak khawatir, tapi Fitri malah tersenyum seakan melihat sebuah lelucon.
"Kau sedang menghawatirkan aku atau kau sebenarnya tidak ingin aku bangun, Mas?" ujarnya sinis.
"Untuk apa kamu tetap di sini? Bukankah ada istrimu yang sedang menunggu? Kalian masih pengantin baru, seharusnya menikmati masa-masa ini dengan baik." Tatapan Fitri tampak acuh, ia tak ingin menatap wajah Hendri, ia berusaha mengalihkannya dengan menatap ke arah jendela yang cukup lebar di ruangan itu.
"Aku akan tetap di sini, kamu sendirian, aku akan pergi jika kamu sudah boleh pulang," tolak Hendri.
"Benarkah?" tanya Fitri, dan Hendri pun mengangguk yakin.
Tiba-tiba ponsel Hendri berdering, nama Andini tertera di depan layar.
"Aku angkat telepon sebentar," kata Hendri sembari ingin berbalik badan sedikit menjauh.
"Kenapa harus pergi, bukankah kamu bilang akan tetap di sini?" sahut Fitri dengan cepat. Hendri pun menoleh.
"Aku hanya ingin mengangkat telepon sebentar."
"Angkat di sini juga bisa, kan?" timpal Fitri lagi.
Hendri tak dapat berkutik, ia pun mengangguk dengan ragu dan mengangkat teleponnya yang terus berdering tak karuan.
Fitri terus menatap Hendri malas, tanpa mendengar suara di seberang sana, ia sudah tahu siapa gerangan yang menelepon.
Setelah percakapan mereka selesai, Fitri dan Hendri saling menatap, tapi tatapan Hendri terlihat ada keraguan, sebenarnya ia tidak tahu ingin mengatakannya seperti apa bahwa ia harus keluar untuk menghampiri Andini.
"Apa tadi itu Mbak Andini?" tanya Fitri tanpa basa basi. Hendri mengangguk pelan.
"Dan sekarang kamu ingin pergi menemuinya?"
Hendri tampak menggaruk alisnya kebingungan, bingung harus seperti apa mengatakannya.
"Begini, Fitri. Andini, dia ada di sini, perutnya sakit, harus diperiksa oleh dokter, aku ingin melihatnya sebentar."
"Ingin memastikan bahwa anakmu baik-baik saja?" Fitri langsung memotong penjelasan Hendri, pria itu dibuat bungkam olehnya.
"Mas, jika anak itu sudah lahir, apa kamu akan menceraikan Mbak Andini secepatnya?" Pertanyaan Fitri membuat Hendri lagi-lagi berpikir keras, apa yang akan ia jawab mengenai hal itu?
"Aku ingin kau menikahiku juga, Mas."
"Hah?" Lagi dan lagi, Hendri cukup tak percaya dengan ucapan Fitri, apa ia sedang bermimpi, atau berhalusinasi? Fitri tiba-tiba meminta untuk menikah setelah apa yang telah terjadi padanya dan Andini, tidakkah itu cukup sulit untuk dipercaya mengingat watak Fitri yang cukup keras?