Please, Love Me

Please, Love Me
Pernikahan Hendri dan Fitri



Tiga hari kemudian.


Hendri dan Fitri melangsungkan pernikahan mereka, acara tidak lagi digelar besar-besaran karena Fitri tak ingin memakan waktu terlalu lama, mereka hanya menggelarnya di sebuah masjid dan dihadiri oleh kerabat dekat Hendri saja.


Ada Andini yang juga ikut menyaksikan pernikahan suaminya, di dalam hati terus menggerutu, tapi ia bisa apa? Fitri adalah wanita yang dicintai Hendri, ia juga tidak ingin terlihat begitu egois dan jahat di hadapan Hendri, sementara untuk Fitri, ia akan memikirkan cara lain untuk membuat wanita itu tak betah dan memilih berpisah.


"Ini bukan awal dari kebahagiaanmu, Fitri. Kau menikah dengan Mas Hendri, itu artinya kau juga siap untuk menjemput penderitaanmu," batin Andini sembari menyipitkan mata menatap licik ke arah Fitri.


Usai pernikahan berlangsung, mereka bertiga pun pulang ke rumah Hendri.


"Kamu mau ke mana?" cegat Andini pada Fitri ketika melihat wanita itu berbelok ingin masuk ke kamar Hendri.


"Tentu saja masuk ke kamar suamiku, apa tidak boleh?" jawab Fitri santai.


"Dia juga suamiku, aku istri pertamanya, jadi yang berhak tidur di sini adalah aku, bukan kamu," protes Andini sambil melotot marah.


"Oh." Fitri mendelik santai dan berbalik badan, pergi meninggalkan Andini begitu saja, berpindah arah ke kamar yang pernah ia tinggali saat pernikahan pertamanya bersama Hendri.


Sementara Andini tampak semakin menggeram kesal melihat sikap Fitri yang mengacuhkannya begitu saja.


"Dasar wanita sialan," gerutunya kesal.


Melihat pintu terbuka dan orang yang masuk adalah Andini, Hendri segera berdiri dari tempatnya.


"Kamu kenapa masuk?" alisnya mengerut tak senang.


"Aku istrimu, apa salah jika aku masuk?" Andini tak peduli mau Hendri suka atau tidak dengan kehadirannya, ia tetap melangkah masuk dan ingin mengganti pakaiannya di kamar itu.


"Kamu harusnya mengerti akan statusmu, Andini. Pernikahan kita hanya terikat karena anak yang ada di dalam kandunganmu, aku sama sekali tidak mencintaimu, seharusnya kamu sudah mengerti itu sebelum pernikahan kita berlangsung." Hendri menatap Andini sembari menghela napas kasar, ia tak ingin Andini berharap lebih dengan pernikahan mereka, mau bagaimana pun ia tetap tak bisa memaksakan diri untuk tidur bersama wanita yang tidak ia cintai.


"Jadi mau kamu sekarang apa, Mas?" Andini tampak menghentikan aktifitasnya memilih baju di dalam koper yang ia bawa dari hotel.


"Kamu tidur di kamar yang sudah disediakan, aku tidak ingin sekamar denganmu," jawab Hendri tanpa basa basi.


"Tidak, aku tidak mau." Wanita itu tampak menggeleng cepat.


Hendri mengangguk mengerti. "Baiklah, kalau begitu aku yang keluar."


"Kamu mau ke mana, Mas? Jangan bilang kamu mau tidur di kamar perempuan itu," teriak Andini ketika Hendri ingin membuka pintu.


"Lalu aku bagaimana, Mas?" teriaknya lagi, tapi tak digubris oleh Hendri karena pria itu sudah sepenuhnya lenyap dari pandangan.


"Cih," desisnya sangat kesal, ia merasa sekarang semua orang begitu menyebalkan.


Fitri tampak duduk berselonjor di atas kasur sembari memijit lehernya yang terasa pegal.


Tiba-tiba aktifitasnya berhenti ketika mendengar suara ketukan pintu dari luar. "Fitri, apa aku boleh masuk?" Bersamaan terdengarnya suara nyaring Hendri.


Fitri tersenyum tipis, ia sudah menebak, pria itu pasti akan datang padanya. "Masuk saja, Mas. Tidak dikunci."


Hendri pun masuk dengan senang hati, melihat Fitri yang duduk santai di sana, ia pun tersenyum cerah. "Istriku lelah?" tanyanya sambil melangkah mendekati Fitri.


"Sedikit," jawab Fitri sambil menggerakkan lehernya ke kiri dan kanan.


"Mau aku pijit?" Hendri menawarkan.


Wanita itu menggeleng. "Tidak perlu, sudah lumayan membaik."


"Oh ya, Mas Hen kenapa ke sini? Apa ada perlu?"


"Seorang suami ingin tidur dengan istri yang dia cintai apakah tidak boleh?" goda Hendri lagi.


Fitri sebenarnya sedikit malas mendengar rayuan itu, membayangkan bagaimana Hendri menghianatinya, serasa ia tak ingin menatap pria itu.


"Bukankah Mbak Andini juga istrimu?" sindir Fitri sambil memalingkan pandangannya berfokus ke arah lain.


"Kamu dan dia berbeda," jawab Hendri berusaha untuk membujuk Fitri agar tidak terlalu mengungkit Andini dalam pembicaraan mereka.


"Iya, jelas saja sangat berbeda. Karena kamu sudah pernah mencicipinya, jadi kamu merasa dia tidak lagi menarik di matamu. Sementara aku? Kamu belum pernah mencicipi, jadi kamu berlagak begitu baik hanya karena kamu ingin merasakan aku juga, kan?" celetuk Fitri dengan sinis.


Hendri tiba-tiba menekuk bibirnya, tak percaya Fitri akan berbicara seperti itu padanya.


"Kamu kenapa bicara tidak sopan begitu? Aku suamimu, kamu tidak seharusnya bersikap seperti ini," nada bicara Hendri mulai berubah.


"Kenapa? Apa yang aku katakan tadi benar, kan?" Fitri beranjak dari tempatnya, membuka tirai jendela yang tertutup, langit berbintang tampak begitu indah, tapi tak dapat membuat hati Fitri berdamai dengan sosok pria yang kini menatap sendu ke arahnya.


"Oh ya, satu lagi yang ingin kutanyakan. Saat kamu menggerayangi tubuhnya, apakah kamu pernah berpikir tentang perasaanku? Dan lalu, apakah kamu pria pertama yang mengambil keperawanannya? Atau ... sudah didahului orang lain?" Fitri menyunggingkan bibir tersenyum sinis menatap Hendri, pernikahannya kali ini bukan bertujuan untuk mendapatkan kasih sayang pria itu, ia terlalu mual jika mendengar kata cinta dari pria manapun, sekarang baginya semua pria sama saja, tidak dapat menahan godaan makhluk mulus yang bertebaran di mana-mana.