Please, Love Me

Please, Love Me
Kedatangan Tamu



"Kamu jangan menyalahkan siapapun di sini," tegur Hendri.


"Katamu aku telah melakukan hal tak senonoh padamu saat kepulanganku dari rumah sakit dan membuat kamu pulang ke Bandung secara tiba-tiba, itu sudah berlalu berapa bulan?"


"Empat bulan lebih, Andini." Hendri menunjukkan empat jarinya di hadapan Hendri dengan nada suara yang menekan.


"Berapa usia kandunganmu saat ini? Baru akan memasuki dua bulan, kan? Kamu masih akan mengatakan bahwa anak itu adalah anakku? Dan satu hal lagi mengenai teh itu, kau yakin tidak mencampurkannya dengan sesuatu yang lain?" Hendri menaikkan alisnya menuntut jawaban, yang sementara ini membuat Andini tertekan akan pertanyaan tersebut.


Andini tampak kelimpungan mendengar penuturan Hendri, tapi dalam sekejap ia kembali berhasil menguasai rasa gugupnya dan kembali tenang dengan tubuh yang tegap.


"Jadi maksud kamu apa, Mas? Kamu kira aku hamil anak pria lain? Semurahan itukah aku di mata kamu, Mas?" Andini memasang wajah memelas.


Sementara Fitri, ia tampak benar-benar muak akan sandiwara yang diperankan oleh Andini, sungguh tak habis pikir wanita itu akan sanggup berdalih cukup lama setelah sandiwaranya telah disadari oleh Hendri.


"Aku tidak akan menunggu sampai anak itu lahir, sebaiknya katakan yang sebenarnya siapa ayah dari anak yang kamu kandung itu?" Wajah Hendri semakin terlihat serius, tak ingin berbasa basi lagi.


"Ini anak kamu, Mas. Harus berapa kali lagi aku mengulanginya agar kamu percaya?" Suara Andini mulai meninggi.


Baru saja Hendri ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu, membuat mereka semua beralih menatap ke arah pintu.


Seorang wanita yang bekerja di rumah itu buru-buru keluar untuk membukakan, dan tak lama kemudian ia datang menghampiri.


"Bu Andini, ada seseorang yang mencari Anda," ujarnya sopan.


"Kurang tahu, Bu. Beliau cuma mengatakan jika ada hal penting yang harus dibicarakan."


Andini tampak salah tingkah, buru-buru keluar dan tak menghiraukan Hendri dan Fitri.


Ketika ia keluar, sosok yang tak asing sedang menatapnya tak ramah.


Andini menarik lengan pria itu sedikit menjauh dari pintu. "Kamu ngapain datang ke sini? Aku sudah katakan berulang kali jangan pernah berani datang ke sini jika kamu mau jatahmu tetap utuh." Andini melotot tajam.


"Aku sudah cukup bersabar menunggu, kamu bilang mau transfer uang padaku setelah menjalankan apa yang kamu mau, tapi mana? Sampai detik ini aku tak mendapatkan apapun, kamu jangan coba menipuku, ya. Kamu pikir aku tidak akan berani nekat mengatakan yang sebenarnya?" Pria itu balik mengancam.


"Aku sudah bilang sabar sedikit, kamu tidak mengerti dengan kata sabar? Aku akan transfer, tapi tidak sekarang, saat ini aku sedang dalam masalah, aku akan memberikan berapapun yang kamu mau setelah aku mendapatkan semuanya." Suara Andini terus menekankan dengan sedikit berbisik, takut ada yang mendengar.


"Tapi kapan? Kapan kamu mendapatkan semuanya? Aku tak mau tau, berikan aku uang dan aku akan pergi, atau kamu ingin aku memberitahu segalanya tentang kamu, beserta anak itu?" ancamnya.


"Dia siapa?" Tiba-tiba suara Hendri mengejutkan Andini hingga wajahnya terlihat begitu pucat dan takut.


"Kamu?!" Fitri tampak menunjuk pria itu dengan sedikit melotot. Tak percaya akan bertemu dengan pria itu lagi.


"Kamu kenapa, Fitri?" tanya Hendri tak mengerti.