
"Ceklek"
Pintu terbuka, dan kedua wanita itu saling menatap.
"Lho, Mbak Andini?" Alis Fitri mengerut.
"Mbak kenapa di sini?" tanyanya heran.
Dengan wajah yang sangat datar dan santai Andini balik bertanya, "Kamu sendiri kenapa datang ke sini? Siapa yang memberitahumu tempat ini?"
"Tadi aku datang ke rumah Mas Hendri, dan Bunda memberikan aku tempat keberadaan Mas Hendri, aku tidak tahu apakah Bunda mungkin salah memberikan alamatnya." Masih dengan air muka yang kebingungan.
"Untuk apa kau mencarinya? Sudah pergi begitu saja, lantas sekarang datang seperti jailangkung," ucap sinis Andini.
"Justru karena itu aku datang, aku ingin menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya pada Mas Hendri."
Andini mengembuskan napas sembari menatap malas pada Fitri. "Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Aku dan Mas Hendri sudah menikah, dan aku harap kau bisa mengerti, jangan mengganggu masa pengantin baru kami."
"Menikah?" Fitri sedikit terbelalak tak percaya, bagaimana mungkin mereka tiba-tiba menikah, jelas-jelas yang menjadi calon mempelai wanitanya adalah dirinya, bagaimana mungkin Hendri bisa menikahi Andini bahkan di hari yang seharusnya menjadi pernikahannya.
"Tidak, aku tidak percaya." Fitri berusaha tersenyum dengan menggelengkan kepalanya tak ingin percaya begitu saja.
"Terserah, memangnya aku peduli kau mau percaya atau tidak? Tidak, Fitri. Aku tak peduli sama sekali," ujar Andini dengan tatapan yang meledek.
"Mas Hendri mana, aku akan menanyakan langsung padanya," desak Fitri lagi.
"Masa pengantin baru sangat melelahkan, seharusnya kau tahu itu. Belum lagi kami baru saja menyelesaikan aktivitas melelahkan sebagai pengantin baru. Mas Hendri benar-benar perkasa, dia pandai dalam bidang ini. Dan sekarang dia sedang mandi. Biasalah, setelah melakukannya memang harus segera membersihkan diri, bukan?" Tatapan yang penuh akan kelicikan, sengaja membuat suasana semakin panas biar Fitri tidak terus menerus mencari Hendri yang sekarang telah menjadi suaminya.
"Mbak jangan banyak omong, sebelum Mas Hendri bertemu denganku dan menceritakan apa yang terjadi sebenarnya, maka aku tidak akan pernah peduli pada ucapan orang lain." Fitri masih kekeh pada keyakinannya, yakin bahwa Hendri tidak akan begitu saja menghianatinya apalagi mengingkari janji yang pernah ia ucapkan.
"Sebaiknya kau pulang, jangan ganggu suamiku, kau tidak pantas untuk mencarinya lagi." Andini bersiap ingin menutup pintu, tapi Fitri lebih cekatan mencegahnya.
"Kau jangan keras kepala, Fitri! Pergi sana!" Andini semakin terlihat geram, lantas mendorong tubuh Fitri sekeras mungkin, tubuh mungil Fitri tak dapat menahan dorongan tersebut hingga ia mundur beberapa langkah. Dan Andini pun berhasil menutup pintu, meninggalkan Fitri di luar seorang diri.
Meski sudah bergerak cepat, tetap saja ia terlambat, lantas mengetuk pintu dengan keras. "Mbak, Mbak Andini buka pintunya, Mbak!" teriaknya.
Hendri mengerutkan alisnya, kebetulan ia baru keluar dari kamar mandi, bahkan masih bertelanjang dada dan handuk melingkar di pinggang.
"Kamu seharusnya tidak mengatakan hal yang tidak-tidak padanya, kan?" Hendri menyipitkan matanya menatap Andini yang tampak kesal.
"Memangnya kenapa? Aku hanya mengatakan apa yang seharusnya dia ketahui, walau bagaimanapun kita sudah menjadi suami istri, masih untung aku tidak mengatakan padanya bahwa aku sedang mengandung anakmu," balas Andini semakin geram, apalagi mendengar suara Fitri yang terus berteriak hingga memperburuk suasana hatinya.
Hendri memalingkan wajah ke arah pintu, meski hatinya ragu, tapi ia tetap tak tega membiarkan Fitri terus berteriak di luar memanggil namanya.
Mau bagaimana pun ia menghindar, tetap tidak menutup kemungkinan Fitri akan tahu cepat atau lambat. Kebenaran tetaplah kebenaran, Fitri akan semakin terluka jika ia tahu dari orang lain. Sebelum itu terjadi, lebih baik dirinya langsung yang mengatakannya.
Hendri perlahan melangkah maju dan membuka pintu, masih dengan dada yang tanpa busana.
Seketika Fitri berhenti mengetuk ketika pintu terbuka, dan ia menatap Hendri begitu lekat dalam waktu yang cukup lama.
"Mas Hen, kenapa kamu berada di satu kamar berdua bersama Mbak Andini? Dan kamu tidak memakai baju, maksudnya apa ini, Mas?" Tatapan Fitri mulai nanar, tak sanggup menerima kenyataan jika apa yang dikatakan Andini barusan adalah kebenaran yang sesungguhnya, mereka telah menikah tanpa ia ketahui.
"Jawab, Mas. Jangan diam saja," ucap Fitri lagi dengan kelopak mata yang mulai berkaca-kaca.
"Kata Mbak Andini kamu telah menikahinya, apa benar itu, Mas?"
Tak peduli seberapa banyak pertanyaan yang ia utarakan, tetap saja pria di hadapannya itu masih diam mematung, hingga akhirnya terdengar suara ******* berat dan mengecewakan.
"Aku pakai baju dulu, baru kita bicarakan setelah itu. Kamu tunggu di sini." Hendri pun berbalik badan tanpa menutup pintu, hingga kedua wanita yang sedang berselisih itu pun dapat saling memantau dari kejauhan, sama-sama memasang wajah yang tak sedap.
"Kamu mau ke mana, Mas?" tanya Andini usai Hendri mengenakan pakaiannya dan hendak keluar lagi.
"Aku ingin bicara berdua sama Fitri, kamu bisa keluar jika merasa tak senang," jawab Hendri acuh tak acuh, bahkan tidak menoleh sedikitpun sebelum ia benar-benar pergi.
"Cih." Andini menggebrak meja begitu keras, benar-benar naik pitam melihat ketidak pedulian Hendri terhadapnya.
"Kamu lihat saja, Mas, cepat atau lambat, wanita itu akan lenyap dari kehidupanmu, dan kamu? Kamu akan menjadi milikku seutuhnya, bagaimanapun caranya." Andini tertawa begitu keras, selalu ada sebuah kelicikan yang terpikir oleh otaknya, selama ia bisa senang, maka apapun itu akan ia lakukan. Tak peduli siapa korbannya.