
Andini bergegas melaju dengan mobil yang ia kendarai, bahkan detik saat Hendri di bopong masuk ke rumah sakit terdekat, pria itu tetap tidak sadarkan diri. Kenapa? Entahlah, ia pun tak mengerti dan semakin cemas.
Sepulang dari pantai kemarin sore, Hendri memang tak banyak bicara, ia menghabiskan malam hanya di kamar tanpa keluar. Sejak kapan pria itu pingsan? Tidak ada yang tahu sebab pintu kamarnya terkunci.
"Sebenarnya kamu kenapa, Mas?" gumamnya sembari menunggu Hendri ditangani oleh dokter.
"Bagaimana tadi, Fit? Ini adalah pekerjaan pertama yang kita lakukan, sangat hebat." Meski hanya mendampingi, Angel tetap merasa bangga karena dapat belajar dari pengalaman bekerja hari itu.
"Lumayan bikin tegang, tidak tahu ternyata seperti itu perjuangan seorang ibu melahirkan anaknya."
"Tidak tahu apakah kita kelak bisa seberuntung wanita itu. Merasakan menjadi seorang ibu dan membesarkannya dengan penuh cinta," ratap Fitri penuh haru. Seketika teringat akan ibunya, entah apa yang sedang dilakukan oleh ibunya saat ini.
Mungkinkah dulu ibunya juga memperjuangkannya saat akan lahir?
Ah, sudahlah.
Memikirkan hal itu membuat kepalanya terasa begitu kram, jika bukan karena ayah tirinya yang masuk dalam kehidupan ibunya, mungkin sampai saat ini dia bisa hidup bahagia, damai, dan rukun bersama ibunya. Namun, sayangnya takdir sedang mempermainkan nasibnya. Tinggallah ia yang hidup bagai sebatang kara tanpa sanak saudara, beruntung ada Angel yang mau berteman dengannya.
"Ke kantin, yuk. Laper nih," ajak Angel antusias, dari pagi memang mereka tidak makan, kebetulan pekerjaan pertama mereka sudah usai dan diperbolehkan untuk istirahat.
Jam makan siang memang telah tiba, Fitri pun mengangguk mengiyakan, perutnya memang tidak bisa berdusta.
"Kamu mau pesan apa, Fit?" tanya Angel ketika mereka tiba di kantin.
"Nasi putih aja sama telur balado," jawab Fitri sembari duduk di kursi, menu makan siang kali ini, ia memilih yang murah meriah, menyesuaikan isi dompetnya, setidaknya masih bisa kenyang meski ala kadarnya.
"Oke." Angel berlalu untuk memesan makanan mereka.
"Lho, Mas Rangga?" Angel memiringkan kepala untuk memastikan bahwa pria di depannya itu adalah pria yang ia kenal.
Rangga menoleh, sedikit bingung juga kenapa tiba-tiba ada Angel di sana.
"Lho, kamu," ujarnya sedikit terkejut.
"Astaga, benar-benar sempit sekali dunia ini rasanya. Ketemu lagi dan lagi. Mas Rangga sedang apa di sini?" tanya Angel dengan senyum ramahnya.
"Jenguk teman yang lagi sakit. Kamu sendiri?" Rangga balik bertanya.
"Ya, mau makanlah, mau ngapain lagi?"
Rangga mengangkat alisnya, masih bingung tak mengerti.
"Oh, iya. Aku lupa, aku dan Fitri mulai sekarang bekerja di sini, ini hari pertama kami, dan sekarang waktu istirahat, datang untuk makan." Angel segera menjelaskan ketika melihat raut wajah Rangga yang kebingungan.
"Oh ya? Lalu Fitri di mana?"
"Itu." Angel mengarahkan pandangan serta telunjuknya ke arah Fitri yang duduk tidak begitu jauh dari tempat mereka berdiri memesan makanan.
"Oh, kalau begitu aku duluan, ya." Rangga bergegas menerima pesanannya dan berlalu meninggalkan Angel di sana, tentu saja karena ingin menghampiri Fitri.
"Mulai dah tu, asal ada Fitri, dia pasti langsung semangat. Benar-benar pria yang tak bisa menyembunyikan perasaannya," celetuk Angel sembari menggelengkan kepala melihat tingkah Rangga yang begitu ambisius terhadap Fitri.
"Hai, boleh duduk di sini?" sapa Rangga dengan senyum manisnya.
"Mas Rangga?" Fitri mengerutkan alis tak percaya. Kenapa di mana-mana selalu saja bertemu dengan pria itu.
"Aku datang menjenguk teman, kebetulan sekali melihatmu di sini." Tanpa dipersilahkan, ia duduk dengan sendirinya di hadapan Fitri sambil meletakkan makanannya di atas meja.
Sama sekali tak ingin mengatakan bahwa ia datang untuk menjenguk Hendri.
Tak lama Angel pun datang dengan membawa makanan yang dipesan.
"Ini untukmu." Sembari meletakkan sepiring nasi berserta lauk di hadapan Fitri.
Rangga yang melihat menu makan Fitri, segera menyodorkan ayam bakar serta tumis kangkung ke hadapan wanita itu.
"Ini untukmu," ujarnya.
"Tidak apa-apa, aku bisa pesan lagi, kamu akan bekerja seharian, jadi butuh asupan gizi yang lengkap untuk menambah tenaga."
"Tidak, Mas. aku tak bisa menerimanya." Fitri tak ingin membiarkan Rangga bersikap terlalu baik padanya, takut suatu saat ia tidak akan bisa membayar budi kebaikan itu. Apalagi Rangga adalah sahabat mantan suaminya, takut akan menjadi bom besar yang sewaktu-waktu akan meledak.
Angel yang mengerti maksud Fitri, segera berkata, "Sudahlah, Mas. Lagian aku sudah pesan dua potong ayam bakar, sengaja kubelikan untuknya." Sambil tangannya menyendok ayam bakar tersebut dan meletakkannya ke piring Fitri.
Rangga pun mengalah, ia menerima tolakan itu dan mengambil kembali lauk yang ia berikan.
"Rangga, kau lama sekali, Andini sudah kelaparan, mana makanan yang ingin kau beli untuknya?" berjarak satu meter, Niko segera memanggil Rangga, masih tidak sadar bahwa kedua wanita yang bersama Rangga adalah Fitri dan Angel.
Saat mereka menoleh, Niko baru menyadarinya.
"Fitri, Angel? Kalian datang untuk menjenguk Hen-"
Bruk!
Belum juga sempat melanjutkan ucapannya, Rangga seketika memberi tendangan di kaki Niko tepat pada bagian tulang keringnya. Membuat pria itu meringis kesakitan.
"Kau tidak lihat mereka mengenakan seragam perawat, mana ada menjenguk orang," bantah Rangga ketus.
Niko mengangguk mengerti, tidak melanjutkan ucapannya lagi.
"Ternyata hubungan Mas Rangga dan Mbak Andini cukup dekat," batin Fitri, yang mengira bahwa Andini sedang sakit dan Rangga datang menjenguknya.
"Kalau begitu aku duluan ya, Fit. Makanan ini untuk kalian saja." Tak ingin berlama-lama, takut Niko salah bicara dan Fitri mengetahui bahwa yang sakit adalah Hendri. Ia benar-benar tak ingin kedua insan itu bertemu.
Entah apakah dirinya yang egois, ataukah mempertimbangkan yang menurutnya adalah sebuah kebaikan untuk mereka bersama.
"Apa kau tidak merasa aneh dengan sikap Mas Rangga terhadapmu, Fit?" tanya Angel usai kepergian kedua pria itu.
"Aneh di mananya?" Fitri masih tak mengerti, mulai menyantap makanan yang terhidang di hadapannya.
"Oh ya, ngomong-ngomong makasih ayam bakarnya, Ngel." Fitri tersenyum.
"Ck." Angel sedikit kesal karena Fitri tidak memedulikan pertanyaannya.
"Kurasa Mas Rangga itu sedang menyukaimu. Dia tampak amat sangat berusaha keras mengejarmu," bisik Angel yang akibatnya berhasil membuat Fitri tersedak seketika.
"Kamu bisa tidak jangan membuat lelucon saat aku sedang makan?" Fitri terus terbatuk, rasanya bulir nasi ada yang salah jalan hingga berada di dalam pangkal hidungnya, sangat perih.
"Ih, aku serius. Gerak geriknya Mas Rangga itu mencurigakan sekali, jika bukan karena menyukaimu, terus ada apalagi? Tapi lumayan juga, meski sedikit tua, setidaknya dia kaya raya," goda Angel.
"Hm, mulai lagi." Fitri sudah tahu maksud Angel, sahabatnya itu selalu saja bicara omong kosong.
~~
"Permisi." Dengan membawa sebuah nampan yang berisikan cairan infus dan suntikan, Fitri mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum ia masuk ke ruangan pasien.
Kali ini ia ditugaskan untuk mengecek keadaan pasien serta menggantikan infus yang sudah habis.
Namun, bagai kesentrum aliran listrik, tubuhnya tiba-tiba jadi kaku melihat pria yang berbaring di ranjang pasien adalah pria yang ia kenal, bahkan teramat sangat kenal.
"Kenapa dia lagi?" batinnya bergejolak.
Kenapa takdir seakan-akan sedang mempermainkannya, orang yang tidak ingin ia temui, kenapa malah selalu ada di depan matanya tanpa sengaja.
Begitu pula dengan Hendri, tapi entah kenapa pria itu sedikit merasa lega ketika melihat wanita di hadapannya itu adalah Fitri, ada sedikit rasa senang yang ia sendiri tidak tahu berasal dari mana perasaan itu.
"Kenapa diam saja?" tegur Hendri dengan suara yang sedikit parau dan lemah.
Membuat lamunan Fitri seketika terpecah belah dan mencoba untuk bersikap prosfesional, ia selalu meyakinkan hatinya agar tidak ragu, karena yang ia lakukan sekarang hanyalah sebuah pekerjaan, bukan bentuk pelayanan terhadap seorang lawan.
**Jangan lupa dukungannya, terimakasih.
Salam Damai**