
Fitri melangkah masuk dengan ragu, seakan tak berani memandangi tiga orang yang kini sedang menatapnya.
Entahlah.
Ia tidak tahu kenapa, seakan seperti pencuri yang ketahuan, takut untuk menampakkan diri.
"Fitri?" Mendengar suara Bu Hajjah, Fitri perlahan mengangkat kepalanya menatap wanita tua itu.
"Iya, Bunda." Dengan suara yang sedikit bergetar, Fitri berusaha untuk tetap tenang dan tersenyum sebisanya.
"Duduklah, Nak. Sudah lama kita tidak bertemu, kan?" Bu Hajjah masih bersikap begitu baik padanya, meski sudah mengetahui bahwa Fitri bukan lagi istrinya Hendri.
Fitri dengan sopan menurut, tangannya dituntun oleh Bu Hajjah untuk duduk di kursi yang di mana Andini juga berdiri di sana.
"Nirma, pesan tiket pesawat Jakarta-Bandung, kamu antar Andini ke bandara, dia ingin pulang."
Andini seketika mengerutkan alis mendengar ucapan Hendri.
"Baik, Pak."
"Siapa yang bilang aku ingin pulang? Nirma, kamu kembali kerja, jangan pesan tiket, tidak ada yang ingin pulang," bantah Andini sekaligus memberi titah pada Nirma.
Wanita berpakaian formal itu pun tampak ragu, menatap Hendri dan Andini secara bergantian.
"Tuan?" ujar Nirma, tatapannya sedang bertanya akan apa yang harus ia lakukan.
"Sudahlah, Hen. Lagian kenapa juga kalau Andini ada di sini? Tidak ada salahnya kan sebagai calon istri menemani calon suaminya yang sedang sakit?" Bu Hajjah ikut angkat bicara.
Seketika Hendri dan Fitri saling menatap, entah apa yang sedang dipikirkan oleh otak mereka masing-masing.
Hendri, ia tampak panik sekaligus kalang kabut mendengar ucapan ibunya.
"Fitri, aku dan Andini tidak ada hubungan apapun, kami hanya berteman, dia bukan calon istriku." Hendri buru-buru menjelaskan. Entah untuk apa ia menjelaskannya pada Fitri? Bahkan ia sendiri tidak tahu apakah Fitri akan peduli akan hubungannya bersama Andini.
Fitri tersenyum merasa lucu, entah apa yang lucu di matanya, rasanya hanya ingin tertawa sekeras mungkin.
"Kamu kenapa panik, Mas? Kalian ada hubungan atau tidak, bukankah tidak ada hubungannya denganku?"
"Bunda, sudah kukatakan, aku tidak ingin memikirkan soal pernikahan, lagian apa aku sudah menyetujui masalah pernikahan itu sama Andini? Kita tidak ada hubungan apa-apa. Jangan katakan apapun yang seharusnya tidak dikatakan." Hendri mulai gusar sendiri ketika Fitri mengatakan bahwa dirinya tak masalah soal pernikahan itu.
"Lho, tapi kata Andini kamu setuju akan menikah." Bu Hajjah tampak kaget dan menatap Andini.
Andini terlihat salah tingkah, sedikit malu karena situasi akhirnya terpojok pada dirinya.
"Andini, kapan aku pernah mengatakan setuju padamu?" Hendri tampak semakin kesal.
"Ehm ... Sebaiknya saya tidak di sini, kalian bicarakanlah antar keluarga terlebih dahulu, saya akan kembali jika sudah selesai." Fitri akhirnya bersuara di tengah ketegangan situasi tersebut.
"Tidak, kamu tetap di sini," jawab Hendri dengan cepat.
"Tidak baik sebagai orang luar saya mendengar percakapan keluarga, sebaiknya saya tunggu di luar saja." Fitri perlahan mengangkat dirinya dari kursi bersiap akan keluar.
"Fitri Maharani, kamu bertugas melayaniku 24 jam, tidak boleh keluar selain dari perintahku!" ujar Hendri dengan tegas, entah panik atau apa, yang jelas ia tak ingin Fitri salah paham terhadap hubungannya bersama Andini.
Semuanya menatap Hendri yang berbicara dengan suara lantang, sementara Fitri, merasa seperti dikekang oleh pria itu, padahal sudah bercerai, tapi Hendri masih saja dapat mengaturnya. Hanya karena ia menggunakan jasa perawat, jadi bisa seenaknya mengatur sana sini yang dia mau.
Fitri dengan lemah mengatur kembali posisinya, duduk di tempat semula.
"Andini, sebaiknya kamu pulang sekarang, jangan mengacaukan suasana," perintah Hendri, tak ingin melihat wajah wanita itu.
"Kedua belah pihak keluarga telah setuju dengan pernikahan kita, cepat atau lambat, kita juga akan menikah, lantas kenapa kamu masih saja mengulur waktu dan menipu diri sendiri, Mas? Apa karena wanita ini?" Andini menunjuk ke arah Fitri.
Sementara wanita muda itu sendiri tidak tahu di mana letak kesalahannya, kenapa dirinya malah ikut-ikutan masuk dalam masalah Hendri dan Andini, yang jelas-jelas ia tak pernah ikut campur tentang mereka.
"Bukan urusanmu," jawab Hendri acuh tak acuh.
Andini mengepalkan tangannya menatap begitu geram pada Fitri.
"Bunda lihat sendiri, kan? Bagaimana pengaruh buruk yang dibawa oleh wanita ini pada Hendri? Pasti dia dalangnya, Hendri sakit juga karena dia." Andini semakin tersulut amarah, terus menunjuk geram pada Fitri yang dari tadi hanya diam menyaksikan.
"Jaga ucapanmu!" bentak Hendri dengan keras hingga suaranya berdengung ke seisi ruangan itu.