Please, Love Me

Please, Love Me
Spesies Aneh



Fitri mencoba mengatur napasnya dengan baik, berusaha mengontrol sesuatu yang bergejolak di hatinya.


Perlahan kakinya melangkah mendekati Hendri tanpa ingin menatap ke arah pria itu.


Ingin sekali rasanya berteriak keras dan protes pada takdir. Kenapa ia menjalani hidup yang begitu sulit seperti sekarang ini? Seakan dirinya tak diberi kesempatan untuk berlari kabur dari kenyataan yang sedang menggila.


"Aku baru tahu bahwa kamu bekerja di sini," ujar Hendri setelah Fitri mendekat ke arahnya.


Fitri diam saja, membuat pria itu tak berhenti menatapnya.


"Maaf, Tuan. Saya akan mengganti cairan infusnya." Meski jemarinya terasa bergetar ketika menyentuh tangan Hendri, tapi ia tetap berusaha untuk tidak terlihat gugup meski keringat di dahinya mulai bermunculan.


"Tuan?" Hendri mengulangi sebutan Fitri terhadapnya.


Namun, Fitri tetap diam, fokus pada apa yang ia lakukan tanpa melirik pada Hendri sedikitpun.


hendri mengerti, ia sangat paham mengapa Fitri mengacuhkannya, bahkan tak sudi menatap wajahnya walau sedetikpun.


"Sudah berapa lama kamu kerja di sini?" Masih tak menyerah, ia terus berusaha keras untuk mengajak Fitri berbicara, tapi wanita itu tetap diam dengan wajah datarnya.


Melihat tidak ada reaksi apapun dari Fitri, Hendri seketika berinisiatif untuk meraih tangan Fitri menggunakan tangannya yang lebar.


Fitri menghentikan gerakannya dan menatap Hendri seketika. "Bisakah Anda sopan sedikit, Tuan? Darahnya akan keluar jika saya tidak melakukannya dengan benar."


"Bisakah jawab pertanyaanku dulu sebelum kamu mengerjakannya?" tatap Hendri dengan mata yang teduh.


"Maaf, saya tidak bisa memberikan informasi apapun pada seorang pasien selama itu tidak menyangkut dengan kesehatan Anda." Fitri menepis tangan Hendri dan melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda.


"Apa kamu sungguh membenciku soal kemarin sore?" Hendri kembali bertanya, tapi tetap saja Fitri tak menjawab sepatah katapun.


Fitri hanya menghela napas tanpa menoleh sedikitpun. "Kenapa pria ini tak ada habisnya berbicara? Membuatku muak terhadapnya," batin Fitri sedikit kesal.


Jika boleh jujur, hinaan Hendri kemarin masih terngiang di pikirannya, ia tak akan dan tak akan pernah melupakan ucapan itu. Melihat wajah Hendri saja membuat dadanya sesak, bagaimana ia bisa menghadapi segala pertanyaan dari pria itu yang tak ada habisnya.


"Aku minta maaf," tutur Hendri dengan pancaran mata yang merasa sangat bersalah.


Kali ini Fitri memilih untuk pura-pura tak mendengar setiap kata yang diutarakan pria itu, hatinya seakan mati, 20 tahun lebih ia hidup di dunia ini, bahkan tak pernah berpacaran sekalipun, menikah juga karena desakan ibunya, tapi kenapa bisa ada pria mengatakan dirinya sebagai wanita murahan.


Sekarang ia hanya berpikir bahwa itulah yang selama ini dipikirkan Hendri tentang dirinya. Seorang wanita murahan.


Lalu apakah pantas sekarang pria itu masih berusaha untuk membuatnya bicara? Jika hinaan itu saja sanggup ia ucapkan, lalu ada berapa kalimat hinaan lagi yang akan tega ia ucapkan jika sampai ia memberi sedikit ruang baginya.


Pekerjaannya pun telah usai ia lakukan, infus telah diganti dan tekanan darah Hendri mulai stabil.


Pria itu mengalami anemia akut sebab kurangnya istirahat dan berkurangnya konsentrasi, menyebabkan kepalanya pusing sepanjang malam hingga pingsan.


Hendri dengan cepat mencengkram pergelangan tangan Fitri kala wanita itu ingin pergi meninggalkan ia di dalam ruangan.


Fitri memejamkan mata sejenak dengan helaan napas yang terasa berat, sedikit geram karena Hendri terus memancing tingkat emosi dan kesadarannya.


"Lepaskan sekarang atau aku akan berteriak!" ancam Fitri dengan tegas.


"Berteriaklah."


"Tak peduli semua orang akan datang, asal kau tetap di sini, aku tak masalah mereka memukuliku."


"Kau ini maunya apa sih, Mas?" Wajah Fitri mulai memerah menahan rasa gusar di hatinya, nada suaranya pun sedikit meningkat lantaran geram atas sikap Hendri.


Ada apa dengan pria itu? Pikirnya.


Bukankah selama ini selalu mengacuhkannya? Lantas setelah berpisah kenapa malah terus mengusik hidupnya seakan tanpa berniat untuk melepaskan kehidupannya yang bebas ini.


"Lepas, Mas!" gertaknya sekali lagi.


Tanpa ekspresi dan dengan wajah datarnya Hendri begitu enteng mengatakan "Tidak." Sembari menggelengkan kepala pelan.


Jantung Fitri semakin berdebar hebat, seakan tinggal menghitung detik di mana bom itu akan meledak dan memukul pria itu hingga kepalanya berputar ke belakang.


Kenapa bisa ada jenis spesies pria tua yang semacam Hendri di dunia ini? Pikir Fitri dalam benaknya.