Please, Love Me

Please, Love Me
Tamparan



"Apa yang kalian lakukan?!" Hendri berteriak pada dua perawat yang tampak melepas alat bantu napas Fitri serta infus.


Kedua perawat itu menoleh ke arah sumber suara.


"Beraninya kalian melakukan itu!" gertak Hendri dengan mata yang melotot marah.


"Maaf, Pak. Kami hanya menjalankan tugas yang diberikan," jawab salah satu dari mereka.


"Tugas kalian bilang? Apa seperti ini tugas kalian sebagai seorang perawat? Apa tenaga medis di rumah sakit ini kerjanya membunuh orang?" Dengan susah payah Hendri mencoba untuk mendekat dengan cepat meski terasa begitu sempoyongan.


"Tapi, Pak. Pasien sudah dua hari dirawat, tapi tidak ada satupun walinya yang datang untuk mengurus transaksi pengobatan, jadi pihak rumah sakit juga harus lepas tanggung jawab." salah satunya kembali menjawab.


"Rumah sakit gila, apa kalian benar-benar tidak punya hati membiarkan pasien mati begitu saja? Sekarang cepat pasang kembali alat bantu napas serta infusnya, sekarang!" bentak Hendri semakin tak sabaran.


"Rumah sakit ini bukanlah rumah sakit umum, Pak. Tidak bisa ditanggung pemerintah juga sekalipun pasien memiliki kartu jaminan pengobatan bagi yang tak mampu."


"Kau tidak perlu mengajariku!" gerutu Hendri semakin kesal.


"Aku yang akan menjadi walinya, sekarang kalian pasang kembali atau jika tidak kalian yang akan kehilangan pekerjaan, aku tidak main-main," ancamnya lagi dengan mata yang melotot tajam.


Kedua perawat itu saling memandang satu sama lain, lalu segera menjalankan perintah yang diberikan Hendri meski mereka sendiri tidak mengenali siapa pria yang di hadapannya itu.


Setelah beberapa menit berlalu, mereka sudah menjalankan tugas dan bersiap untuk keluar dari ruangan.


"Kami sudah memasangnya kembali, mohon Bapak segera menyelesaikan transaksinya," pintanya.


"Tidak perlu mengingatkanku, kalian pikir aku tidak mampu?" sungutnya sembari melirik kesal pada kedua perawat itu.


Keduanya pun dengan buru-buru keluar dari sana, jika tidak mereka bisa saja ikut lumpuh oleh tatapan Hendri yang mematikan, benar-benar seperti orang yang kehilangan kesadaran. Tak tahu seberapa pentingnya pasien tersebut hingga pria itu kalang kabut meluapkan emosinya pada perawat yang tak tahu apa-apa.


"Syukurlah aku masih bisa melihatmu," batin Hendri sembari menghela napas lega.


"Terlambat sedikit saja, tidak tahu apa yang akan terjadi padamu, maafkan aku." Hendri mengelus rambut Fitri yang tergerai dengan sangat pelan dan lembut, tidak ingin melukainya barang sedikitpun.


"Semua ini salahku, jika aku tidak keras kepala ingin mengantarmu pulang, mungkin saat ini kau tidak harus terbaring di sini." Wajah penuh penyesalan tampak tak bisa tertutupi oleh wajah Hendri, benar-benar tak rela melihat Fitri harus menanggung derita lagi dan lagi akibat keegoisannya sendiri.


"Aku tidak akan ikut campur lagi, tapi tolong bangunlah," lirihnya dengan teramat sangat pilu, benar-benar tak menyangka akan melihat Fitri terbaring lemah tak berdaya.


"Hendri," panggil ibunya yang tampak berdiri di ambang pintu. Akhirnya dapat menemukan keberadaan anaknya yang kabur dari ruangan.


Hendri tak menoleh sama sekali, tetap fokus memandangi wajah Fitri yang masih terpejam tak bergerak.


"Hen." Ibunya menepuk pundak Hendri mencoba menyadarkan pria itu.


"Kenapa Bunda tak ingin mengatakan bahwa Fitri dirawat di sini dan malah mengatakan bahwa ia telah tiada di tempat kejadian?" Kini matanya memandang lurus kedepan, tampak begitu kosong seperti manusia yang tak memiliki pikiran.


"Maafkan Bunda, tapi ini yang terbaik buat kamu."


"Terbaik apanya, Bun?" Hendri meninggikan suaranya dan menatap lekat pada netra ibunya.


"Fitri begini karena kesalahanku, aku yang buat dia terbaring koma, sekarang Bunda ingin aku lepas tanggung jawab begitu saja?" lanjutnya lagi.


"Jika aku datang terlambat sedikit saja, mungkin Fitri benar-benar tidak akan selamat, Bunda mau aku jadi seorang pembunuh?"


Bu Hajjah tampak menggeleng pelan.


"Lantas kenapa ingin membiarkan Fitri sendirian di sini? Bunda lihat tidak ada keluarga yang mengurusnya? Bahkan Bunda sama sekali tak berniat menanggung biaya pengobatan Fitri saat aku masih tak sadarkan diri, untung saja aku bisa lebih cepat menemukannya dan barulah ia bisa kembali dirawat, kenapa Bunda jadi begitu egois?" pandangan yang penuh akan rasa kecewa pada orang tuanya sendiri, beberapa bulan yang lalu, ia masih ingat wanita di hadapannya itu menasihatinya untuk tidak menyakiti hati seorang wanita, tapi kenapa sekarang wanita tua itu seakan seperti orang lain yang tak lagi bisa ia kenali.


"Hidupnya tidak bisa dijamin lagi, ia mungkin saja hanya bisa bertahan selama tiga hari, Bunda melakukan ini agar kamu tidak terus berharap ia akan bangun dan hidup seperti dulu." Bu Hajjah mencoba untuk memberi penjelasan agar Hendri bisa mengerti akan maksudnya.


"Bahkan jika dia koma selama ratusan tahun, aku juga akan tetap di sini menunggu, sebaiknya Bunda jangan mencoba berpikir bahwa aku tidak akan peduli padanya lagi, itu tidak akan pernah terjadi. Dia akan sembuh seperti sedia kala." Hendri kembali menoleh menatap wajah Fitri, harapannya benar-benar bergantung pada wanita itu.


"Bahkan jika ia buta dan tidak lagi bisa melihat selamanya?" kata Bu Hajjah dengan suara yang pelan.


Hendri menatap ibunya seketika, cukup lama hingga akhirnya ia mengatakan. "Bahkan jika itu yang terjadi, maka aku akan memberikan sepasang mataku untuknya," balasnya tanpa ragu.


Plak!


Tiba-tiba saja sebuah tamparan mendarat ke wajah pria itu, sosok ibu di depan matanya kali ini sedang melotot tajam dengan raut wajah yang tampak benar-benar marah. Hendri sendiri tak mengerti kenapa ia tiba-tiba mendapat tamparan itu.