Please, Love Me

Please, Love Me
Tak Mengerti



"Jangan pacaran sama Rangga bisa tidak?" Suara Hendri melemah dengan tatapan yang sendu.


"Cih." Fitri terkekeh sinis, juga tak percaya dengan kalimat itu.


"Mas Hen," tatapnya tajam.


"Sebenarnya kamu mau apa dariku?"


Hendri diam, bahkan menatap Fitri pun tidak.


"Kita sudah berpisah, kan?"


"Talak yang kamu ucapkan tempo hari masih begitu segar dalam ingatanku, Mas."


"Kalimat talakmu itu sudah menjauhkan jarak kita hingga tak terbatas."


"Kamu bukan siapa-siapaku lagi dan begitu pula sebaliknya."


Hendri tetap diam, meski Fitri terus mengingatkannya pada kejadian hari itu.


Ucapan Fitri sedang mengingatkannya bahwa dia tidak lagi berhak mengatur segala apa yang sedang dijalani oleh wanita itu sekarang, ikatan yang pernah ada, sudah begitu rapuh hingga putus dengan kalimat talaknya untuk Fitri.


Hendri bersusah payah menelan ludahnya yang dirasa tertahan di kerongkongan, begitu berat untuk benar-benar menyadarkan bahwa apakah ia sedang menginginkan mantan istrinya itu ataukah hanya sekedar peduli.


"Kamu bisa menjalin hubungan dengan siapapun, asal ...." Kalimatnya terhenti sejenak.


"Asal bukan Dengan Rangga," lanjutnya.


"Kenapa?" Fitri mengerutkan alis bertanya.


"Dia sahabatku, di antara kami sudah berjanji untuk tidak saling meninggalkan hanya karena seorang wanita."


Entahlah.


Apakah hanya karena janji itu ataukah ia benar-benar tak siap melihat Fitri bersama lelaki lain.


Semua terasa tak nyata, termasuk hatinya saat ini, semua terlihat buram oleh mata hatinya hingga tak bisa untuk berpikir jauh.


"Kalau begitu maaf, Mas."


"Aku tak bisa berjanji."


"Masalah hati, kita tidak bisa menebak pada siapa dia akan berlabuh."


"Cukup ikuti alurnya saja."


"Kamu juga tak bisa mengaturku, begitu pula dengan Mas Rangga."


"Toh bukankah kamu juga tidak pernah memiliki perasaan terhadapku? Jikapun kelak kami bersama, bukankah tidak perlu ada kecanggungan di antara kalian?"


"Persahabatan kalian tidak akan pernah renggang hanya karena ada aku."


"Benar, kan?"


Hendri kembali menatap Fitri dengan mata yang sedikit sayu.


"Jujur padaku, Fit."


"Selama pernikahan kita, apa tidak pernah kamu mencintaiku walau sedikit dan sebentar saja?"


Ia tahu, dan juga sangat paham bahwa pertanyaannya terdengar begitu konyol, kenapa baru sekarang? Setelah beberapa bulan menjalani pernikahan, kenapa baru sekarang ia menanyakan hal itu?


Fitri menggeleng lemah, yang menandakan bahwa ia memang tidak dan tidak pernah memiliki sedikit perasaan cinta pada Hendri selain rasa kagum terhadap pria itu.


Kagum akan kesetiaan Hendri terhadap istri pertamanya.


Hendri pun akhirnya mengangguk lemah, pasrah akan jawaban Fitri yang mungkin sedikit mengecewakan.


Entah.


Ia pun tak tahu kenapa dirinya sedikit kecewa dengan jawaban Fitri.


Yang jelas ia masih belum berani mengakui pada dirinya sendiri tentang apa yang ia rasakan terhadap wanita yang ia ceraikan itu.


Semua masih mengambang di tengah-tengah.


Antara ingin memiliki yang pernah menjadi miliknya, ataukah ia benar-benar telah jatuh.


Ya, jatuh hati pada wanita itu.


Mungkinkah?


Lagi-lagi hanya bisa berkata entahlah pada dirinya sendiri, sebab ia pun tak mengerti akan dirinya yang sekarang.


"Kalau begitu aku minta maaf telah lancang menarikmu ke sini," ujar Hendri setelah lama tenggelam dari lamunannya.


Fitri menatap Hendri lekat, menebak apakah yang sedang dipikirkan pria itu.


Bahkan sampai sekarang ia pun masih tak bisa mengerti akan sikap yang sering ditunjukkan Hendri selama ini.


Mungkin sekarang ataupun selamanya, ia tak akan dan tak akan pernah bisa mengerti tentangnya. Terlalu sulit untuk dipahami.


Tanpa mengatakan apapun, ia pergi meninggalkan Hendri di sana, bergabung kembali bersama Rangga dan kawan-kawan yang masih setia menunggunya.


Tak peduli akan apa yang sedang dipikirkan Hendri, kali ini ia memutuskan untuk tidak lebih peduli pada pria itu.