
"Boleh, silahkan." jawab Andini sembari melirik ke arah Hendri, sedikit ragu, takut keputusannya membuat Hendri marah.
"Ck," decak Hendri sambil berpaling wajah.
"Kau kenapa, Hen? Tidak suka kami ikut bergabung," tegur Rangga, yang sebenarnya sedang memperkeruh suasana.
"Tidak tahu datang dari mana mengganggu orang," balasan Hendri membuat Fitri menatapnya.
Fitri mengangguk paham. "Benar apa yang Mas Hen katakan, kita seharus tidak ke sini, Mas. Cari tempat lain saja, tidak enak mengganggu kesenangan orang."
"Semakin ramai bukankah semakin seru?" sahut Angel antusias, pikirannya dan Rangga persis sama, sama-sama ingin mengganggu suasana hati Hendri.
"Oh, ya. Kamu saudara kembarnya Almarhumah Dinda, kan?" Rangga berpindah menatap Andini.
"Iya, perkenalkan, Andini." Ia pun tersenyum ramah.
"Kalian sudah pacaran? Selamat, ya."
Andini tampak menatap Hendri canggung setelah mendengar ucapan selamat dari Rangga, sementara pria itu saat ini hatinya semakin gusar, tak perlu tanyakan persahabatan mereka yang begitu lama, semenjak Rangga mulai mendekati Fitri, Hendri bahkan menganggap tak pernah berteman dengan Rangga.
"Oh, ya. Ngomong-ngomong, terimakasih, ya, Hen. Kau sudah menceraikan Fitri, memberiku peluang untuk tidak melajang terus-menerus," senyum liciknya membuat Hendri semakin tak tahan.
"Maksudmu apa?"
Rangga pun terkekeh. "Masih bertanya maksudnya apa."
"Sudah kepala tiga masih tak mengerti maksudku apa."
"Pikirlah sendiri, bisa ada hubungan apa aku dan Fitri, kita sama-sama tak memiliki pasangan, menurutmu bagaimana jika kami melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat?" Rangga tiba-tiba merangkul Fitri, membuat wanita itu seketika terkejut, sontak menatap Rangga dengan cepat.
Hendri menghela dengan kasar, lalu menatap Fitri dengan perasaan yang tak menentu.
"Ikut aku sebentar." Hendri tiba-tiba meraih tangan Fitri. Namun, dengan cekatan Rangga mencegahnya.
"Kau mau bawa dia ke mana?"
"Seharusnya kau tidak lupa dia bukan lagi istrimu," imbuhnya.
"Bukan urusanmu."
"Lepas!" tegas Hendri sembari menepis tangan Rangga dari lengan Fitri, lalu kembali menarik wanita itu agar ikut bersamanya.
"Fit, kamu mau ikut dengannya?" tanya Rangga.
"Aku tidak akan memaafkanmu jika kau berani menyakitinya!" tegas Rangga memperingati, dengan tatapan yang tajam, pastinya yang ditujukan pada Hendri.
"Fitri, kau harus hati-hati!" teriak Angel saat mereka telah menjauh.
Sementara Andini hanya bisa menggenggam tangannya menatap punggung Hendri yang pergi meninggalkannya di sana, bahkan tanpa memberikan sepatah dua kata sebelum pergi.
"Mas Hen, lepas!" Fitri menepis tangan Hendri dengan kasar setelah mereka berada sedikit jauh dari keramaian.
"Maksud ucapan Rangga tadi apa? Kalian sudah menjalin hubungan, begitu?" Wajahnya tampak memerah.
"Terus kalau iya memangnya kenapa?"
"Ada hubungannya dengan kamu, Mas?" sinis Fitri dengan berani menjawab.
"Kita baru bercerai dan kau sudah menjalin hubungan dengan lelaki lain, aku tidak tahu bahwa kau semurahan ini, Fitri." Senyuman yang menghina itu membuat Fitri tak tahan.
Plak!
Ya, benar-benar tak tahan untuk memberi pelajaran pada pria yang berani menyebutnya sebagai wanita murahan.
"Kamu siapa, Mas?"
"Ada hak apa mulut kotormu itu berucap bahwa aku wanita murahan, hah?" Kali ini ia benar-benar naik pitam, hinaan Hendri benar-benar tak mampu ia toleransi lagi.
Wajah pria itu semakin merah mendapat tamparan dari Fitri, ia tak bergeming setelah mendapat pukulan itu, juga tak menyangka Fitri akan memukulnya dengan berani.
"Apa yang aku katakan apakah tidak benar?"
"Kau dan Rangga sudah menjalin hubungan sebelum aku menceraikanmu, kan?"
"Pantas saja kau sangat ingin berpisah dariku, ternyata ini alasannya?" Hendri balik menyerang.
"Apapun yang kau tuduhkan padaku, semua tak berarti, aku tak peduli, hanya satu yang harus kuperingati padamu, Mas."
"Jangan pernah sebut aku wanita murahan, paham?!"
Fitri tampak begitu geram, setiap katanya penuh dengan penekanan terhadap Hendri.
Siapa yang akan menyangka, dirinya pun tak pernah menyangka bahwa lelaki yang pernah menenangkannya dikala ia terpuruk, malah berani menyebutnya sebagai wanita murahan, pertama kali dan juga berharap adalah yang terakhir kali ia mendengar kata murahan itu dari mulut Hendri.