
"Kamu membawaku sampai ke sini untuk apa, Mas? Kau ingin aku terjun dari ketinggian dan lalu mati? Agar kau dan Mbak Andini bisa hidup tenang, tentram, sebagai pasangan suami istri yang saling mengasihi, begitu?" Di atas atap gedung hotel, Fitri terus menatap Hendri tak habis pikir, bisa-bisanya pria itu selalu mengingkari janjinya.
"Kau anggap apa aku sebenarnya, Mas? Mainanmu? Atau wanita murahan yang sesungguhnya kau hina di dalam hati?" lanjutnya dalam keterdiaman Hendri yang sejak tadi tak bergeming dari tempatnya.
Melihat Hendri masih terus diam bahkan setelah ia mengutarakan beberapa kalimat, akhirnya Fitri tertawa, tawa yang mengandung sebuah kegetiran.
"Ternyata memang aku yang terlalu bodoh. Bodoh karena mempercayai pria brengsek sepertimu." Tatapannya lurus ke depan, menatap bangunan yang menjulang tinggi di tengah perkotaan.
Hendri pun masih diam.
"Kau sama sekali tak ingin menjelaskan apapun, Mas?" Ia mencoba bertanya sekali lagi, masih berharap pria itu akan meminta maaf dan menjelaskan apa yang sebanarnya terjadi, atau setidaknya memperbaiki kesalahpahaman di antara mereka.
Namun, harapan itu pupus ketika pria di sampingnya terus tenggelam pada pikirannya sendiri, bahkan satu patah kata pun tak berniat untuk menjawab segala kalimat yang terucap dari Fitri.
Fitri pun mengangguk paham, dari diamnya itu, ia telah mengerti, ada suatu kesalahan yang mungkin teramat sulit untuk dijelaskan.
"Baiklah, aku sudah mengerti maksud dari diammu. Lanjutkan saja, aku tidak akan menganggumu lagi." Fitri berbalik badan, lebih baik pergi ketimbang berada di sana, tapi hanya dianggap sebagai angin lalu, tak terlihat di matanya.
"Apa yang kau dengar dari Andini, itu memang benar." Tiba-tiba saja Hendri bersuara, membuat Fitri menghentikan langkahnya dan menoleh menatap pria itu.
Hendri pun membalikkan badannya menatap Fitri yang kini sedang menunggu penjelasan darinya.
"Kami memang sudah menikah, tepat saat kau menghilang ketika pernikahan kita akan segera dimulai," lanjutnya lagi. Mata Fitri menyipit, ditambah semilir angin tipis yang menerpa tubuhnya, semakin menambah suasana mencekam dalam lubuk hati kedua insan itu.
"Jadi kau menikahi Mbak Andini hanya karena ingin menggantikan aku? Karena ingin menutupi perasaan yang terlanjur malu di depan para tamu undangan, begitu?" tanya Fitri menebak.
Namun, Hendri lagi-lagi terdiam. Fitri melangkah mendekatinya dengan senyum yang tak dapat terbaca.
"Jawab aku, Mas. Apa yang kukatakan tadi benar? Kau dan Mbak Andini hanya melangsungkan pernikahan palsu saja, kan? Kalian tidak benar-benar menikah, bukan?" Fitri tersenyum, ada secercah harapan yang kembali menyapanya.
"Jawab aku, Mas," desak Fitri sembari menggenggam erat tangan Hendri. Dapat dirasakan oleh pria itu tangan mungil Fitri sedikit bergetar meski dengan senyum di wajahnya. Bisa diartikan wanita itu sebenarnya juga takut harapannya tidak sesuai dengan kenyataan.
Membuat lidah Hendri semakin kelu untuk bicara.
"Maafkan aku, Fitri," lirihnya dengan tertunduk malu. Malu karena ia telah melakukan kesalahan yang begitu fatal.
Senyum yang tadinya merekah, kini kembali menguncup, raut wajah Fitri berubah tak sedap. Genggaman yang tadinya erat, mulai mengendur.
"Maafkan aku sekali lagi."
Fitri menggeleng lemah. "Aku tak ingin mendengarmu meminta maaf, Mas. Yang aku mau kamu mengatakan kejadian sebenarnya padaku, katakan apakah benar kamu secara resmi telah menikahi Mbak Andini, atau kalian hanya berpura-pura saja?" Nada suara Fitri mulai meninggi.
"Andini ... dia sedang hamil," ucap Hendri tiba-tiba.
Alis Fitri mengernyit. "Hamil? Maksudnya bagaimana, Mas? Hamil dari mana?"
"Anakku," jawabnya sambil berusaha untuk bisa menatap Fitri meski tak kuat menghadapi raut wajahnya yang pasti sangat kecewa.
"Anak kamu? Maksudnya, Mbak Andini hamil anak kamu?" ulang Fitri memastikan.
"Maaf." Hanya itu yang bisa diucapkan Hendri, ia sendiri tidak tahu menyusun kalimat yang seperti apa untuk meminta maaf dan menjelaskannya pada Fitri. Pikirannya terlalu kacau untuk hal itu.
Fitri menelan ludahnya yang terasa begitu pahit dan sulit untuk masuk ke kerongkongan, ia mundur beberapa langkah dari Hendri. Ia ingin bertanya pada semua orang, bagaimana caranya agar bisa menghadapi kenyataan itu dengan perasaan yang tetap tenang? Sulit, sangat-sangat sulit.
Pandangan terasa buram, pijakan kaki pun terasa hampa, bahkan air matapun tak berani untuk menampakkan diri, kenapa hidupnya harus berjalan begini? Dan juga, kenapa Hendri, orang yang paling ia percaya saat ini, dengan jahatnya menghancurkan semua harapan yang telah tersusun indah? Kenapa? Apa salah dan dosa yang ia lakukan hingga takdir pun ikut mempermainkannya?